Senin, 02 April 2012

Mengenang Hari Lahir Pak Andi, 30 Maret

Mengenang Pak Andi: Mengapa Beliau Pandai Berbahasa Jerman?

Ketika saya diminta Ibu Dekan FMIPA-IPB untuk menyusun buku sejarah 30 tahun FMIPA, kembali saya membuka-buka arsip lama tentang IPB yang pernah saya simpan. Salah satunya adalah karya Pak Andi yang ditulis tahun 1988 di Madison seusai Beliau menyelesaikan amanah sebagai Rektor IPB (1978-1987). Tulisan itu berjudul "Reaching for The Best: Recollections on Institution Building at Bogor Agricultural University". Saya sudah menghubungi Direktur IPB Press untuk mencetak buku tersebut supaya dapat dibaca oleh kalangan akademisi, termasuk mahasiswa, terutama kita di IPB.

Tulisan ini hanya sebagian kecil dari buku tersebut yang ingin saya share dalam rangka mengenang Pak Andi yang dipanggil Allah Swt tanggal 4 Maret 2002, yakni 26 hari sebelum hari ulang tahunnya tg 30 Maret. Saya petik dari Bab 2 "University, Here I Come!". Saya sangat terkesan akan kemampuan Pak Andi dalam menguasai beberapa bahasa, termasuk Bahasa Jerman. Waktu S1, saya tidak habis pikir mengapa Pak Andi mampu berbahasa Belanda, Inggris, Jepang, Arab, dan Jerman. Untuk bahasa Inggris, Arab, Belanda, dan Jepang saya agak mudah menarik garis lurus kemahiran Beliau karena generasi Pak Andi sering bersentuhan dengan keempat bahasa itu secara sains, budaya, dan sejarah. Tapi kalau bahasa Jerman, saya sedikit pusing menarik garis lurusnya. Inilah jawabannya.

Pada waktu Pak Andi kuliah tingkat pertama di Fakultas Pertanian Universitas Indonesia tahun 1952/53, kala itu adalah masa transisi penyampaian perkuliahan. Deliverinya diberikan dalam campuran tiga bahasa, yakni Indonesia, Inggris dan Belanda. Pada saat itu, walaupun pemerintah sudah menegaskan bahwa bahasa Indonesia harus dipergunakan sebagai bahasa keilmuan (scientific language), tidak semua dosen mampu berbahasa Indonesia. Jadi bahasa gado-gado masih menjadi kebiasaan.

Salah seorang dosen yang mengajar saat itu adalah Prof. Bodijn, orang Belanda yang asalnya tukang kebun di Universitas Utrecht Belanda yang diketahui rajin mencatat perkuliahan Prof. Hugo de Vries yang terkenal dalam teori mutasi. Seusai menyelesaikan pendidikan doktor, Dr. Bodijn dikirim ke Indonesia untuk memperkuat riset2 mikologi. Generasi saya (SMA dekade 70 atau sebelumnya) tentu masih ingat nama Dr. Bodijn sebagai penulis buku Botani yang menjadi pegangan siswa SMA kala itu. Buku itu dicetak pemerintah dalam edisi lux dan disebarkan ke SMA-SMA di Indonesia. Kami diwajibkan meminjam buku itu di kelas 3 secara cuma-cuma, dan harus dikembalikan ke perpustakaan SMA sebelum memperoleh ijazah. Di Bogor, Dr. Bodijn adalah peneliti di Kebun Raya, selain dosen Botani di Fakultas Pertanian UI.

Prof. Bodijn dipuji oleh Pak Andi sebagai dosen jenius dan satu-satunya ahli mikologi saat itu. Beliaulah yang selalu memberikan solusi seandainya ada outbreak penyakit tanaman berbasis jamur. Dia sangat tekun di laboratorium dan menyenangi perkuliahan. Kalau kuliah, semua organ tubuhnya aktif. Tangan kirinya menggambar diagram morfologi tumbuhan secara detil dengan kapur berwarna. Tangan kanannya menuliskan apa yang dia gambarkan, dan mulutnya bicara menerangkan yang ada di gambar bersamaan dengan tulisannya. Tentunya kakinya berjalan-jalan dari satu sudut papan tulis ke sudut lainnya. Untuk itu, mahasiswa harus bekerjasama. Ada yang bertugas menulis, ada yang bertugas menggambar, dan ada yang khusus mendengar. Lalu mereka setelah perkuliahan berembug menyatukan komponen2 tugas untuk menjadi satu kesatuan isi kuliah.
Kalau ke kelas Prof. Bodijn hanya membawa kapur berbagai warna dipergunakan untuk menggambar, tetapi tidak membawa buku. Ketika ditanya buku teks apa yang dijadikan pegangan, Prof. Bodijn menyarankan cari sendiri buku yang sesuai dengan yang diterangkan. Pedium untuk menyimpan buku di kelas Botani hampir tidak ada gunanya.

Di dalam peramuan materi kuliah, ketika mahasiswa terjadi perbedaan pendapat, mau tidak mau harus dicari buku rujukan yang menjadi pegangan Prof. Bodijn. Inilah tugas Pak Andi, mencari buku yang sesuai dengan urut-urutan perkuliahan Prof. Bodijn. Akhirnya Pak Andi menemukan bahwa perkuliahan Prof. Bodijn dikembangkan dari sebuah buku teks botani yang ditulis oleh Strassburger di dalam bahasa Jerman. Ada juga beberapa beberapa buku berbahasa Inggris sebagai pendukung. Karena tugas itu harus diselesaikan dengan baik, maka Pak Andi memperlajari bahasa Jerman. Beliau menyatakan 'it was my task to look everything up in those books that concurrently forced me to improve my reading knowledge of German".

Akhirnya keheranan saya sejak tahun 1976, mengapa Pak Andi mampu berbahasa Jerman itu terjawab. Alhamdulillah. Semoga Bapak terus bahagia di alam penuh rahmat di sisi Allah swt. Aamiin YRA.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Asep Saefuddin
Kampus IPB Darmaga, 30 Maret 2012
Powered by Dept. Statistika FMIPA IPB

__._,_.___

Tidak ada komentar:

Posting Komentar