Rabu, 30 November 2011

[kisunda] Re: Legenda Sangkuriang

 

Cerita rakyat Sangkuriang sudah sering kita dengar, terutama yang pernah kuliah di daerah Jawa Barat. Sangkuriang adalah cerita seorang anak yang hendak mengawini ibunya sendiri, karena dia hilang ingatan akibat kepalanya dipukul oleh sang ibu, Dayang Sumbi. Dayang Sumbi memukul kepala Sangkuriang dengan centong nasi, karena sangat marah mendengar Sangkuriang membunuh Situmang, anjing penjaga mereka, yang sebenarnya adalah jelmaan manusia, ayah kandung Sangkuriang. Sangkuriang membunuh Situmang karena dia kesal Situmang tidak mau mengejar babi hutan (penjelmaan manusia juga). Kurang lebih begitulah ceritanya, sampai Tangkuban Perahu (halah, bosen saya).

 

Masuk akalkah cerita ini? Apakah membangun perahu dalam semalam, manusia menjelma menjadi anjing, adalah cerita yang rasional?

 

Tentu saja, tidak, hehehehe....

 

Cerita Sangkuriang sebenarnya hanya sindiran yang bisa dipecahkan dengan telik sandi sederhana. Berikut telik sandi Sangkuriang, Dayang Sumbi, dan Situmang.

  • Sangkuriang/Sang Guru Hyang: leluhur yang mengajarkan ilmu pengetahuan (guru)
  • Dayang Sumbi/Da-Hyang Su-Umbi: Da (besar) Hyang/Eyang (leluhur) Su (indah/cantik) Umbi (ibu pertiwi) atau ibu pertiwi yang cantik warisan leluhur agung
  • Situmang/Si-Tu-Ma-Hyang: akronim dari Rasi (Cendekiawan), Ratu (Pemimpin), Rama (Penasehat), Hyang (leluhur), sebuah tatanan politik kuno Nusantara yang berlandaskan pada ajaran leluhur penyembah Yang Maha Esa dan Kuasa, (tatanan ini masih berlaku di Suku Baduy Jero)

Nah, jadi cerita Sangkuriang adalah sebuah sindiran tentang kejadian di masa lalu, dimana orang yang memiliki pengetahuan dan berkewajiban menyebarkannya, lupa dengan ibu pertiwi, malah mau mengawini (baca: memperkosa) sang ibu, setelah merobohkan tatanan masyarakat yang mirip-mirip sedikit dengan trias politica. Cerita Sangkuriang ini mirip dengan kisah Ganesha, yang hendak mengawini ibunya Batari Durga, dan berkelahi dengan ayahnya Batara Syiwa.

 

Cerita sindiran tentang orang yang berilmu seperti Sangkuriang/Ganesha, adalah cerita yang berulang di setiap masa. Kita, ganesha-ganesha muda yang telah lulus dari Padepokan Babakan Siliwangi, hendaknya meneladani cerita ini dengan: tetap setia dan rela berkorban demi kebenaran ilmu pengetahuan, tetap ingat dan setia untuk menjaga ibu pertiwi dan tata negara yang berlandaskan demokrasi dan kemakmuran rakyat.

 

Bagaimana caranya, agar Ganesha tetap setia dengan tugas sucinya? Dengan berpikir dengan penuh kesadaran, kritis, jernih, rasional, dan patuh pada aras ilmu pengetahuan.

 

Saya berpikir maka saya ada, Cogito Ergo SUM!

 

-Hanief-

__._,_.___

Tidak ada komentar:

Posting Komentar