Minggu, 14 Februari 2010

Harusnya kita Malu sama Pak Daskan.

From milist alumni ipb

Beberapa waktu yang lalu, saya sholat maghrib di masjid, di jalan Paledang
Bogor, tepatnya di depan warung sate pak kumis, sayang saya tak mencari tahu
nama masjid tsb. Yang saya ingin ceritakan memang bukan tentang masjidnya,
walau masjid tersebut sebenarnya juga patut diacungi jempol, terutama
menyangkut kebersihannya. Tempat wudlu tertata baik dan bersih dengan air
yang cukup melimpah, karpet masjid juga terhampar apik dan tertata. Ornamen
interior masjid sederhana namun tidak mengurangi kesan agung rumah Allah.

Yang saya ingin ceritakan adalah perjumpaan saya dengan pak Daskan.

Selesai sholat, sambil memakai sepatu, duduk di sebelah saya, seorang bapak
baya dengan kerut wajah usia senja. Dengan mengucap salam dan jabat tangan
berkenalanlah saya dengan beliau. Dari perkenalan itulah saya tahu nama dan
usia beliau. Namanya adalah Daskan, usianya 7O tahun. Saya mempercayai
usianya demikian dengan melihat kerut wajahnya, dan sekilas ingatan beliau
ketika anak2 sewaktu tentara NICA, memberondongkan peluru di desa di daerah
Kuningan dimana beliau menghabiskan masa kanak2.

Obrolanpun berlanjut, saya terkaget ketika beliau menyampaikan bahwa
pekerjaan beliau adalah sebagai penarik becak. Kekagetan saya lebih karena
faktor usia beliau yang menurut saya tak lagi laik untuk menunaikan profesi
itu. Saya menebak2 alasan mengapa seorang baya-renta tsb masih harus bekerja
keras membanting tulang dan memeras keringat dalam arti yang sebenarnya.
Mungkin faktor ekonomi pikir saya, anak2 dan istrinya masih membutuhkan
biaya hidup. Ternyata dugaan saya meleset. Pak Daskan adalah seorang duda
yang telah 10 tahun ditinggal meninggal oleh istrinya, dan beliau tak
berniat utk mencari penggantinya. Anaknya tiga orang semua sudah
berkeluarga, dan tinggal di Kabupaten Kuningan, yang pertama bekerja sebagai
sopir angkut sayur, yang kedua petani sedang yang bungsu seorang perempuan
ikut suaminya yang juga petani. Anak2 pak Daskan dengan segala
keterbatasannya cukup untuk hidup mandiri.
Saya pun bertanya, jika anak2nya sudah mandiri, mengapa beliau tidak tinggal
di kampung kuningan saja, dengan salah satu anaknya sambil mengisi hari tua
bersama cucu2. Beliau memberi alasan, " "abdi teu hoyong ngarepotkeun
murangkalih (saya tak ingin merepotkan anak2)". Satu alasan yang sering saya
dengar dari orang2 tua lainnya, mungkin sayapun nanti jika diberi umur
panjang akan bersikap sama. Alasan yang kedua-lah, yang membuat bulu kuduk
saya berdiri, mengoyak serabut jantung saya dan memanaskan seluruh darah
yang mengalir di tubuh saya, saya terdiam, takzim.... Tafakur dan mengucap
subhanallah.
" Cep, abdi mah ngan saukur hoyong ngalebetkeun artos sapuluhrebu sadinten
ka karopak masjid di sesa umur nu aya ( Nak, saya cuma ingin menyumbang ke
masjid sepuluhribu rupiah setiap hari, di sisa umur yang saya miliki)"
Dengan kemampuan aritmetika yang terbatas, saya masih menghitung, ...
Artinya : Pak Daskan yang Seorang tukang becak, menyumbang masjid sebesar
300 ribu setiap bulan !...

Saya bertanya kepada beliau apakah keinginan tersebut dapat beliau penuhi.
Dengan tenang beliau menjawab, "Alhamdulillah, tos tilu taun ieu kacumponan
cep (alhamdulillah, ternyata sudah tiga tahun ini dapat berjalan dengan baik
nak)", saya kembali menghitung.... 300.000x12x3.... Sama dengan RP.
10.800.000..... Subhanallah! Saya mulai meninju diri saya sendiri dan
mengingat2 apakah dalam hidup saya, sudahkah saya menyumbang masjid sebesar
yang pak Daskan lakukan.......

Ah ternyata, saya harus malu.... Saya cuma buliran kecil yang tak berarti
jika dibanding pak Daskan yang tukang becak tersebut......

Haruskah saya terpana oleh seliweran kehampaan duniawi yang melingkari
saya, teman, pejabat, petinggi yang boleh jadi tak semulia yang pak Daskan
lakoni. Ampuni saya ya Allah dengan kebutaan, ketulian dan kedunguan saya
melihat keagungan dan kemuliaan manusia, justru dari tukang becaklah, dari
orang yang termarginalkanlah saya mendapat ilmuMu.

Salam
Yudha Herry Asnawi

Kamis, 11 Februari 2010

Kebencian Menjadi Awal Hidayah

====================

Kebencian itu Awal dari Hidayah

M. Syamsi Ali

 

Pagi ini, Rabu 10 Pebruari, kota New York sedang dilanda badai salju. Sejak tengah malam lalu, salju turun tiada henti membuat jalanan menjadi sepi dan licin. Kebanyakan warga memilih tinggal di rumah, berbagai institusi ditutup sementara, termasuk sekolah-sekolah dan bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

 

Saya sendiri cukup malas untuk meninggalkan rumah pagi tadi. Tapi entah apa, rasanya saya tetap terpanggil untuk melangkahkan kaki menuju kantor PTRI, dan selanjutnya ke Islamic Center. Ternyata kantor PTRI juga pagi ini hanya dibuka hingga pukul 12 siang.

 

Akupun segera menuju Islamic Cultural Center of New York dengan tujuan sekedar shalat Dhuhr dan Asr sekalian. Lazimnya, ketika ada badai salju atau hujan lebat, jama’ah meminta untuk menjama’ shalat. Setiba di Islamic Center saya segera menuju ruang shalat, selain untuk melihat apakah pemanas ruangan telah dinyalakan atau belum, juga untuk shalat sunnah.

 

Tiba-tiba saja Sekretaris memanggil, ‘Some one is waiting for you!’. ‘Let me do my sunnah and will be there!’, jawabku.

 

Setelah shalat sunnah, segera saya menuju ke ruang perkantoran Islamic Center. Di ruang tamu sudah ada seseorang yang relatif berumur, tapi nampak elegan dalam berpakaian. ‘Hi, good morning!’, sapaku. ‘Good morning!’, jawanya dengan sangat sopan dan ramah. ‘Waiting for me?’, tanyaku sambil menjabat tangan. ‘Yes, and I am sorry to bother you at this early time’, katanya sambil tersenyum.

 

Saya mengajak pria berkulit putih tersebut ke ruangan kantor saya. Dengan berbasa-basi saya katakan ‘wah mudah-mudahan anda diberikan pahala atas perjuangan mengunjungi Islamic Center dalamm suasana cuaca seperti ini’. ‘Oh not at all!. We used to this kind of weather’, jawabnya.

 

So, what I can do for you this morning’, tanyaku memulai pembicaraan. Tanpa saya sadari orang tersebut masih berdiri di depan pintu. Barangkali dia tidak ingin lancang duduk tanpa dipersilahkan. Memang dia nampak sopan, tapi dari kata-katanya dapat dipahami bahwa dia cukup terdidik. ‘Please do have your sit!’, kataku. ‘Thanks sir!’, jawabnya singkat.

 

Setelah duduk saya ulangi lagi, pertanyaan sebelumnya ‘what I can do for you this morning?’. ‘Sambil membalik posisi duduknya, dia melihat ke saya dengan sedikit serius, tapi tetap dengan senyumnya. ‘I am here for….’, seolah terhenti..’for some clarifications!’, jawabnya. ‘I have been reading, I have observed, even I have learned about the religion, and to be honest I know about it a great deal!’, jelasnya.

 

That’s great!’, selaku. Tiba-tiba dia memotong ‘But I don’t know, from time to time, I feel my suspicion about it and about the Muslims grows’. Dia terdiam sejenak lalu menyambung ‘I kind of don’t believe what I know about it!’,. ‘What do you mean?’, tanyaku singkat.

 

Sekali lagi sang pria tersebut merubah posisi duduknya lalu bercerita. ‘I used to be very angryI really hated this religion!’, jelasnya. ‘In last many years, if it is in my hand I would have crashed it and its followers. I felt the religion and those who follow it invaded my country!, jelasnya dengan sangat serius. ‘And so, what happened?’, pancingku. Kini dia kembali tersenyum, lalu menyambung ceritanya.

 

Untuk singkatnya, saya menuliskan beberapa catatan ceritanya, bagaimana kebenciannya kepada agama Islam menjadi awal ‘kehausan’ untuk mencari tahu. Suatu hari dia membeli makanan di pinggir jalan (Halal Food) di kota Manhattan. Perlu diketahui, mayoritas mereka yang jual makanan di pinggir jalan di kota New York adalah Muslim. Lalu menurutnya, di gerobak penjual makanan itu tertulis ‘Laa ilaaha illa Allah-Muhammad Rasul Allah’ dalam bahasa Arab. Kebenciannya yang sangat kepada Islam membuatnya tidak bisa menahan diri untuk mengata-ngatai penjual makanan itu ‘don’t turn people away from buying your food with that ….(bad word)’, katanya sinis!.

 

Tapi menurutnya lagi, sang penjual itu tidak menjawab dan hanya tersenyum, bahkan merespon dengan ‘Thank you for coming my friend!’.

 

Singkatnya, menurut dia lagi, sikap penjual makanan itu selalu teringat di pikirannya. Bahkan sikap itu menjadikannya merasa bersalah, tapi pantang untuk datang meminta maaf. Ketidak inginannya meminta maaf itu, katanya sekali lagi, karena kebenciannya kepada agama ini. ‘That really made me angry to my self, but really curious at the same time!’, sambungnya.

 

In the beginning, I was just googling some informations about the religion. Then listening to some lectures on Youtube (especially Hamzah Yusuf’s ones)’, ceritanya. Setelah itu kemudian membeli beberapa buku karangan non Muslims, termasuk sejarah Rasul oleh Karen Amstrong, Shari’ah oleh John Esposito, dll.

 

The more I learned, the more I feel being suspicious and confused!’, herannya. Saya kemudian memotong ‘Had you ever thought, why is that?’. ‘I don’t know, but I think media factors!’, jawabnya singkat. Tapi kemudian segera meyambung bahwa  setiap kali dia melihat pemboman, pembunuhan, pengrusakan, dan bahkan beberapa aksi films, ada-ada saja Muslim yang terkait. ‘I really don’t know and confused, what kind of Islam these people are practicing?’.

 

Dia kembali berbicara panjang,seolah menyampaikan ceramah kepada saya tentang ‘jurang besar’ antara ilmu tentang Islam yang dia pahami dan berbagai perangai yang dia lihat dari beberapa Muslim selama ini. Di satu sisi, dia kagum dengan sikap penjual makanan tadi. Tapi di satu sisi, dia marah dengan sikap beberapa orang Islam yang justeru melakukan berbagai (apa yang disebutnya sebagai) ‘kejahatan atas nama Islam’. ‘And so, which side will I be, if one day I will be a Muslim?’, tanyanya pada dirinya sendiri.

Setelah selesai, saya kemudian memulai mengambil kendali. ‘First, congratulations!’, kataku singkat. Dia nampak bingung dengan ucapan saya itu.

 

Segera saya sambung ‘You have been a real American!’. Dia tersenyum tapi masih belum paham.

 

Americans are those when don’t know they inquire’, jelasku. ‘I think your anger is well understandable. Firstly, because you don’t know and the remedy to that is to seek and inquire. Second, the media factors and the remedy to that is to clarify. And I think you did both’, jelasku.

 

Saya kemudian mengajak dia mendiskusikan berbagai hal. Mulai dari sejarah peperangan, terorisme, pembunuhan, pengrusakan, dari dulu hingga sekarang. Dan sebaliknya, bagaimana Islam telah memainkan peranan besar dalam membangun peradaban manusia.

 

Throughout our human’s history, what you are seeing these days are not surprising and new’. How many lives have been taken, properties have been destroyed, home damaged?’, tanyaku. ‘And from the beginning of Prophet Muhammad preached this religion in the 7th century in Arabia, up to this day….how many wars and killings that have been Muslims as perpetrators?’, tanyaku lagi.

 

Dia nampak hanya geleng-geleng kepala dengan contoh-contoh yang saya berikan. Dari Hitler, Stalin, Perang Dunia I dan II, Hiroshima dan Nagasaki, dst. Berapa di antara mereka yang terbunuh, dan siapa yang melakukan? Peperangan di Irak, berapa yang terbunuh ketika jet-jet Amerika mendrop boms di perkampungan-perkampungan? Siapa mayoritas tentara Amerika?

 

Kemudian, pernahkan dilakukan studi secara dekat, untuk mengetahui apakah benar bahwa pemboman, pembunuhan, pengrusakan yang dilakukan oleh beberapa Muslim selama ini, walau atas nama Islam, memang justified by Islam? Dan benarkah bahwa memang motifnya karena memjuangkan Islam dan Muslims, atau karena memang Islam dan Muslims adalah jembatan menuju kepada ‘interest tertentu?’, ceritaku panjang lebar.

 

Tanpa terasa, waktu adzan Dhuhr telah tiba. ‘Sorry, that is what we call adza  or the call to pray’, jelasku. Saya diam sejenak, dia juga nampak diam mendengarkan adzan dari Sheikh Farahat, muadzin yang baru diterima sebagai pegawai di Islamic Center. Suara tammatan Al-Azhar ini memang sangat indah.

 

Setelah adzan, saya kembali menyambung pembicaraan. Saat ini kita membicarakan berbagai ketidak adilan yang terjadi di berbagai belahan dunia, dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Secara ekonomi hanya segelintir yang menikmati kue alam, secara politik ada pemaksaan sistemik kepada negara lain, dst.

 

With all this, and by no way to say that killings, especially when we come to the lives of innocents and civilians, are justified in the name of struggling for justice’, lanjutku.

 

Tapi karena waktu sangat singkat, saya bertanya ‘what do you think? Is there any thing that you do object to?’, pancingku. Dia nampak diam, tapi tersenyum dan mencoba berbicara.

 

You are right!’, katanya singkat. ‘I have been unfair to my own self! My association of Islam to behavior of some Muslims is completely unfair’.

 

You got the point, sir!’, jawabku singkat. ‘Now, I have to leave you for a while. I need to pray!’, kataku sambil meminta maaf.

 

Tiba-tiba saja dia melihat saya dengan sedikit serius. Kali ini tanpa senyum dan berkata ‘What should I do to be a Muslim?’, tanyanya. ‘Are you serious?’, tanyaku. ‘Yes!’, jawabnya singkat. ‘Follow me!’, ajakku.

 

Saya ajak dia ke ruang wudhu, mengajarinya berwudhu, lalu ke ruang shalat. Sambil menunggu waktu iqamah, saya menyampaikan kepadanya ‘What I am going to do is leading you in declaring your new faith by what we call shahadah. And it is to testify that there is no god worthy to be worship by Allah and Muhammad is His Messenger’, jelasku seraya mengingatkan apa yang pernah dia lihat dahulu di gerobak penjual makanan itu.

 

Sebelum iqamah dimulai saya ajak, Peter Scott, nama pria tersebut ke depan jama’ah dan menuntunnya mengucapkan ‘Asy-hadu anlaa ilaaha illa Allah wa asy-hadu anna Muhammadan Rasul Allah’, seraya diikuti gema takbir sekitar 200-an jama’ah shalat Dhuhr hari ini.

 

Peter, you are a Muslim, like others here today, nothing in you is less. In fact, you are better then us because you chose to be, not only born into it and follow it’, jelasku sambil meminta untuk menguikuti gerakan-gerakan shalat sebisanya, tapi dengan konsentrasi.

 

Allahu Akbar! Semoga Peter selalu dijaga dan dijadikan pejuang di jalanNya!

 

New York, 10 Pebruari 2010

 

 

 

__,_._,___

Situmang??? luluhur?

Copas ti milist Sunda

 

Hatur nuhun kang Oman,

Dina guaran Abah Surya, kirang kaguar ngeunaan ujud si Tumang anu ngandung harti husus pakait kana makna warna, guaran Guriang TUJUH dimana angka tujuh mangrupakeun angka nu sakral dina palsafah kasundaan, oge hubungan boeh rarang-obor, lisung tutunggulan sareng kongkorongok hayam,

Mangga nyanggakeun ieu hasil ringkesan guaran simkuring dina tafsir carita Sangkuriang, manawi tiasa ngeuyeuban hasil guaran abah Surya atanapi vesri sejen makna Sngkuriang ti simkuring, kapungkur pami teu lepat taun 2006 kantos ku simkuring dialungkeun.

Galur carita Sangkuriang nu runtut kalayan cocog jeung kaayaan alam Pasundan, hususna wewengkon "Danau Purba Bandung" karasa nyata tur hirup oge sakral. Hal ieu ngabuktikeun kalinuhungan luluhur sunda nu nyusun carita.

Carita sangkuriang dimimitian ku carita morona Prabu Prabangkara nu ngandung harti ayana kahirupan di dunya gede dimimitian ku ayana Cahaya Panonpoe, jeung awal hirupna sajatining manusa (dunya leutik) mun geus boga kanyaho dina diri. Mun hirup manusa di dunya teu boga kanyaho tangtu Wayungyang.

Sangkuriang asal tina kecap Sang Kuring atawa Ingsun. Gubragna Sangkuriang ka dunya hasil kawin si Tumang jeung Dayang Sumbi ku alatan taropong murag. Taropong hartina toropong nyaeta alat pikeun nempo sangkan leuwih talilti, eces tur museur (maksudna lain nempo ka luar tapi nyungsi kana diri). TUMANG teh mangrupakeun anjing hideung tapi bangus jeung buntutna koneng (mangga tingal kamus basa Sunda). Dumasar kana simbul-simbol warna dina palsapah kasundaan, hideung perlambang bumi/lemah nu ngabogaan sifat kateguhan, katetepan, pengkuh, sedengkeun Koneng ngalambangkeun angin sifatna kadunyaan. Jadi tina wujud Tumang ngandung harti ieu carita perkara di dunya jeung nu nuturkeun/turun ka dunya (manusa) nu mangrupakeun katetepan ti nu Maha Kawasa. 

 "Tumang" (basa kawi) = hawu/dapuran seuneu anu oge ngandung maksud hawa napsu, sedengkeun "dayang"  nyaeta sebutan keur awewe, harti lianna asal tina kecap dangiang/dahyang nu hartina bangsa lelembut atawa halus. Dayang bisa oge dihartikeun asal tina kecap dang (= dangdang) jeung hyang (= suci = dewa). Sumbi nyaeta seuseukeutna katimang (sing seukeut nya nimang), sedengkeun upama dipenggel ngandung harti wujud diri atawa waruga (sum = sumsum = acining; bi = awewe = ibu pertiwi = bumi). Jadi Dayang Sumbi ngandung harti sing seukeut tinimangan, kudu lantip dina nyungsi harti ngaguar rasa kanyahokeun sing taliti yen wujud diri teh hakekatna suci nu asal tina acining ibu pertiwi/bumi nu kaancikan ku napsu (Dayang Sumbi kawin ka si Tumang).

Palebah dieu nyata kalinuhungan luluhur urang Sunda dina milih kecap pikeun ngalarapkeun pasangan hawa napsu jeung wujud waruga, oge bisa luyu jeung harti lian nu masangkeun harti hawu jeung dangdang. Dayang Sumbi tetep geulis awet jaya, upama disungsi bakal nganyatakeun yen ti jaman mimiti ayana manusa di dunya tepi kaayeuna wujud diri manusa teh tetep geulis, pantes teu robah strukturna, manusa teu bisa nyieun wujud, sok sanajan tepi ka wujud geus pareot, ilaharna teu aya manusa nu hayang ninggalkeun warugana, malahan tetep dipikacinta dipikaasih, ku kuringna

Dina palsapah/kapercayaan Sunda netelakeun yen Sang Kuring atawa Ingsun lain sifat ragawi/lahir, oge lain sifat rohani/batin, tapi anu dilahiran jeung dibatinan. Ingsun (kuring) mangrupakeun dat suci nu asal ti Gusti Nu Maha Suci nu sapanjang di alam dunya ngancik dina wujud manusa sakuringna-sakuringna.

Gumelarna ingsun ka dunya ngaliwatan cukang lantaran indung bapa nu dina carita ngaliwatan indung nu ngaran Dayang Sumbi sarta bapa nu ngaran Tumang. Di dunya Ingsun ngancik dina wujud waruga/diri nu asal tina acining/ saripati dunya (dayang Sumbi), kulantaran kitu hawa napsu salawasna marengan Sang kuring (Tumang sok ngintil marengan). Mun teu aya hawa napsu nu marengan raga, tinangtu moal aya kahirupan di dunya jeung moal aya ingsun nu gumelar ka dunya. Kusabab eta waktu si Tumang dipaehan Dayang Sumbi kacida benduna, nu hartina lamun hawa napsu dipaehan tangtu kapentingan raga kaluli-luli nu balukarna bakal leungit kahirupan manusa di dunya (sawang kumaha balukarna mun sarupaning napsu dahar/nginum, napsu gawe, napsu birahi, napsu pikeun ningkatkeun diri jeung napsu-napsu lianna dipaehan, tinangtu kahirupan di dunya bakal punah), matak dina elmu Sunda mah teu aya ajaran pikeun maehan napsu, ngan tangtu kudu dikadalikeun, manusa sunda teu meunang ngasingkeun diri ninggalkeun urusan dunya (tatapa & puasa cul urusan dunya).

Hirup ingsun di dunya kudu ngabogaan elmu hasil ngasah jeung olah pikir dina uteukna nu mancar dina gawe nu rancage, nu dina carita disimbulkeun sirah Sangkuriang ditakol ku sinduk tepi ka pitak.
Sangkuriang maksa hayang kawin ka Dayang Sumbi ngandung harti, yen kulantaran Ingsun asal ti Gusti nu hakekatna suci, tinangtu ngabogaan rasa jeung tanggungjawab pikeun nyalametkeun diri/waruga asal ti dunya nu diancikanana sangkan salamet kukuh mituhu teu ingkar tina papagon kamanusaan, ku cara ngamanunggalkeun kuring jeung kurungna dina hiji parahu nu sahaluan sapanjang ngumbara ngalakonan kahirupan di dunya (parahu pikeun lalayaran di talaga).


Dina ngalaksanakeun gawena, Sangkuriang dibantu ku Guriang Tujuh (= Guru hyang tujuh), maksudna tujuh sumber elmu/kanyaho nu jadi guru jati (tara bohong), nyaeta pangawasa suci nu asal ti Gusti nu ngancik dina diri manusa: pangawasa/gerak-langkah, pangersa/kadaek, hirup, pangrungu/denge, awas, pangandika/ucap, pangangseu/ambeu, nu jadi guru manusa pikeun nganyahokeun, ngarasakeun, nyaksikeun kaayaan dunya jeung pangeusina, lain cenah lain beja estuning dirasakeun ku sorangan sakuringna-sakuringna. Pon kitu deui digunakeun pikeun ngalalakon kahirupan di dunya jeung ngudag kahayang/cita-cita sarta ningkateun harkat jeung martabat dirina.

Boeh rarang dibeberkeun jeung dikelebetkeun dicaangan obor, nyimbulkeun akal pikiran nu dicaangan ku elmu/katerang/kanyaho nu ditembrakkeun/dikibarkeun atawa diwujudkeun dina kahirupan (gawe akal pikiran). Lisung tutunggulan nyimbulkeun napsu nu ngagolak (gawe rasa/napsu), sedengkeun hayam jago pating kongkorongok ngalambangkeun kasombongan jeung katakaburan, nepak dada ngarasa ieu aing jago. Elmu spiritual Sunda ngajentrekeun yen aya tilu unsur dina diri manusa (tangtu tilu) nu bisa ngawasa kana pamarentahan diri, nyaeta kakuatan akal/pikiran, kakuatan rasa/napsu, jeung kakuatan jati  ingsun. Dina perkara ieu ingsun kudu bisa ngadalikeun akal-pikiran jeung rasa/napsu (ingsun jadi supir/nahoda). Lamun akal pikiran jeung rasa napsu geus miheulaan ingsun (Sangkuriang kabeurangan lantaran boeh dioboran jeung lisung tutunggulan nu terusna kongkorongok), tangtu kuring jeung kurung teu bisa kawin (teu bisa manunggal), balukarna hirup manusa lir ibarat parahu nangkub (Tangkubanparahu) teu bisa dipake ngalakonan kahirupan di dunya (lalayaran di talaga) nu didumasaran ku ajen luhung kamanusaan jeung kasucian, tungtungna ngan bati hanjelu kaduhung sagede gunung ibarat tunggul (Bukittunggul), hate nalangsa ngarangrangan ngarasa hirup euweuh ajen (Burangrang). Tapi sok sanajan batal kawin, ku lantaran ngarasa boga kawajiban salila gumelar di dunya, Ingsun (kuring) teu weleh ngudag-ngudag supaya kurung bisa dikawin, nu kadangkala deukeut, kadang jauh (Sangkuriang ngudag-ngudag Dayang Sumbi)

Intisari papatah nu dibewarakeun:

Sasakala Sangkuriang nyaritakeun kahirupan manusa nu gumelarna ka dunya mangrupakeun papasten ti Nu Maha Kawasa ngaliwatan cukang lantaran indung jeung bapa. Ingsun ngumbara di dunya ngagunakeun raga nu asal tina saripati dunya, nyaeta acining bumi, acining cai, acining angin/hawa jeung acining seuneu ngaliwatan kadaharan jeung inuman nu dikonsumsi, napas jeung panas nu diserep. Kulantaran raga asal tina saripati dunya, nya tangtu timbul napsu-napsu dina diri manusa nu asal ti dunya, sedengkeun gumelarna ingsun ka dunya oge ngaliwatan raga nu ngabogaan napsu, sabab mun teu aya napsu tangtu moal aya kahirupan di dunya, kulantaran eta teu meunang maehan napsu, tapi kudu dikadalikeun sangkan teu kabetot ku kadunyaan. Elmu Sunda teu ngajarkeun manusa pikeun tatapa ninggalkeun urusan dunya, sabab eta hartina sarua jeung nu ngaleungitkeun hakekat kamanusaanana.

Keur kahirupan di dunya ingsun kudu motekar nempa diri sangkan luhung ku elmu jembar ku pangabisa, tapi kudu inget Ingsun lain urang dunya sabab asal ti Nu Maha Suci nu tangtu ngabogaan kawajiban pikeun ngaping jeung ngajaga diri sangkan sagala tekad, ucap jeung langkah teu ingkar tina papagon kamanusaan jeung kasucian (kawin/manunggaling kuring jeung kurung). Dina raraga ngawulaan kabutuhan raga/kurung, ingsun(kuring) ngagunakeun tujuh Pangawasa Gusti nu ngancik dina dirina, nyaeta pangawasa, pengersa, hirup, pangrungu, pangandika, awas jeung  pangangseu (guriang tujuh).

Kade masing taliti, yen dina diri manusa teh aya tilu kakuatan nu bisa marentah diri, nyaeta akal-pikiran,
rasa-napsu jeung jati ingsun sorangan. Dina perkara ieu, ingsun nu kudu jadi nahoda ngadalikeun
akal-pikiran jeung rasa-napsu pikeun kaperluan ingsun ngalakonan kahirupan di dunya, sabab lamun akal-pikiran jeung rasa-napsu geus miheulaan ingsun bakal timbul kasombongan adigung-adiguna nu ngabatalkeun manunggalna kuring jeung kurung pikeun ngahontal kahirupan di dunya nu didumasaran kamanusaan jeung kasucian. Mun nyana kitu lir ibarat parahu nangkub anu balukarna bakal kaduhung jeung ngarasa hirup euweuh hartina , tungtungna hate ngarangrangan nalangsa saendengna. Kulantaran kitu, mangkahade upama can bisa kawin, ingsun ulah eureun ngudag-ngudag kurung sangkan bisa manunggal.

Kitu intisari harti nu kasungsi tina legenda Sangkuriang, ku kituna pamuga pedaran ieu tiasa nambah kareueus parawargi urang Sunda, yen bukti geuning kalinuhungan luluhur urang Sunda teh. Nu leuwih penting deui sanggeus harti, hayu atuh urang nyungsi ka diri sorangan, naha tekad, ucap jeung lampah urang geus tepi kana "kawinna Sangkuriang ka Dayang Sumbi" (kawinna kuring-kurung)?.  Nya umumna mah "Sangkuriang Kabeurangan".

Sumangga atuh.   



Hatur nuhun, rampes.

Pun Engkus.

 

Rabu, 10 Februari 2010

Situmang??? luluhur?

 

Ieu kang tambihan deui referensi, mangga dibundel atanapi dilenyepan

 

Mangga ieu Kang, seratan abah Surya anu mangrupakeun orasi ilmiah dina acara wisuda di Itenas sababaraha taun kapengker. Kanggo rapihna mah diedit deui wae.

manar





 
PERAN SANGKURIANG DAN DANGHYANG SUMBI DALAM LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHU 



Suatu kajian Hermeneutika terhadap Legenda dan Mitos Gunung Tangkubanparahu 

dengan segala aspeknya 



Legenda tentang terjadinya Gunung Tangkubanparahu sangat dikenal di Tatar 



 
Sunda, disebut pula sebagai sasakala terjadinya Talaga Bandung atau dongeng 

Sangkuriang. Adapun tokoh Danghyang Sumbi yang seharusnya menjadi esensi 

maknawi dalam mitos ini sering tersisihkan oleh peran Sangkuriang - 



 
puteranya. Wacana yang tersaji kali ini adalah upaya untuk mengarifi 

nilai-nilai mitos yang terkandung dalam legenda gunung Tangkubanparahu, 

sehingga mempunyai nilai tambah bagi pemaknaan kita terhadap wawasan budaya 



 
lokal. 





*MITOS SEBAGAI ACUAN PANDANGAN HIDUP* 



Berbincang tentang mitos akan berkaitan erat dengan legenda, cerita, dongeng 

semuanya termasuk kelompok folklore. Mengenai mithos C.A. van Peursen 

(1992:37) mengatakan sebagai sebuah cerita (lisan) yang memberikan pedoman 



 
dan arah tertentu kepada sekelompok orang. Inti dari mitos adalah 

lambang-lambang yang menginformasikan pengalaman manusia purba tentang 

kebaikan-kejahatan, perkawinan dan kesuburan, dosa dan proses katarsisnya. 



 
Sedangkan Rene Wellek & Austin Warren (1989) menyebutnya sebagai cerita 

anonim mengenai penjelasan tentang asal mula sesuatu, nasib manusia, tingkah 

laku dan tujuan hidup manusia serta menjadi alat pendidikan moral bagi 



 
masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. 



Mengacu kepada pendapat di atas ternyata mitos yang dikandung dalam legenda 

adalah sumber pengetahuan mengenai kehidupan manusia pada masa lampau dalam 

segala aspeknya. Disusun dalam bentuk cerita sastra (sastra lisan) sebagai 



 
alat transformasinya, sebab bentuk cerita lisan mempunyai pola struktur dan 

alur yang cukup ajeg. dalam menuntun ingatan orang sehingga mudah untuk 

seseorang menuturkannya kembali. 





*HERMENEUTIKA ILMU TENTANG PENAFISRAN* 



 


Kegiatan manusia tidak terlepas dari kemampuan untuk menafsirkan terhadap 

apa pun yang dialaminya. Hasilnya adalah didapatkannya arti dan makna dari 

yang ditafsirkannya. Arti adalah hubungan antara sesuatu dengan yang 



 
melingkunginya, hubungan teks dengan konteks (Saini KM, 2004). Adapun makna 

adalah hubungan arti dengan nilai esensial yang dikandungnya. Kemampuan 

mengartikan dan memaknai sesuatu dalam budaya Sunda disebut dengan kemampuan 



 
memanfaatkan Panca Curiga (lima senjata/ilmu), yaitu kemampuan untuk 

menafsirkan secara: silib, yaitu memaknai sesuatu yang dikatakan tidak 

langsung tetapi dikiaskan pada hal lain (allude); sindir yaitu penggunaan 



 
susunan kalimat yang berbeda (allusion); simbul yaitu penggunaan dalam 

bentuk lambang (symbol, icon, heraldica); siloka adalah penyampaian dalam 

bentuk pengandaian atau gambaran yang berbeda (aphorisma) dan sasmita adalah 



 
berkaitan dengan suasana dan perasaan hati (depth aporisma) 



Dalam tulisan ini pun penulis menggunakan konsep hermeneutika untuk mencoba 

menarik arti dan makna yang dikandung dalam legenda Gunung Tangkubanparahu 



 
dengan segala aspek yang dikandungnya. Kaidah lain untuk melakukan analisis, penulis memanfaatkan leksikografi 

(cara menuliskan kata); etimologi (tentang asal-usul kata), semantik 

(tentang arti kata) dan semiotika (tentang arti dan makna lambang). 



 




*BEBERAPA KARYA SASTRA YANG BERTEMAKAN LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHU* 



Legenda Gunung Tangkubanparahu dengan tokoh-tokohnya telah mengilhami para 

sastrawan untuk mewujudkannya dalam karya sastra seperti dalam: 



 
   

   - Bentuk Cerita : Sang Koeriang, A.C. Deenik diambil dari Pleyte. Tt. 

   - Gunung Tangkuban Parahu, R. Satjadibrata, 1946 - Babad Sangkuriang dalam 

   Naskah Sunda Lama Kelompok Babad, Edi S. Ekadjati, 1983. 



 
   - Bentuk Gending Karesmen (opera) : Sangkuriang Larung, Hidayat 

   Suryalaga, 1973. 

   - Bentuk Sajak : Sangkuriang, Hasan Wahyu Atmakusumah, 1955 - Sang 

   Kuriang, Kusnadi Prawirasumantri, 1992 - Ngabendung Situ, Ajip Rosidi, 1962 



 
   - Sang Kuriang, Beni Setia, 1972 - Tapak Sangkuriang, Dadan Bahtera, 1989- 

   Sangkuriang Kabeurangan, Wahyu Wibisana, 1992 

   - Bentuk Skripsi : Pergeseran Fungsi Mitos Sangkuriang dari Cerita 

   Sangkuriang ke dalam Sajak Sunda, Suhandi, Fakultas Sastra Unpad, 1994. 



 
   



Semua karya sastra di atas tidaklah sama dalam mengartikan dan memaknai 

legenda Tangkubanparahu atau tokoh pemerannya. Tergantung kepada konsep 

hermeunetika yang diacu oleh penulisnya. Walau demikian alur ceritanya tidak 



 
banyak berubah. 



Secara singkat alur ceritanya sebagai berikut: 



Raja SUNGGING PERBANGKARA pergi berburu, di tengah hutan Sang Raja kencing 

dan tertampung dalam tempurung kelapa. Seekor babi hutan betina bernama 



 
WAYUNGYANG yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air kencing 

tadi. Wayungyang hamil, melahirkan seorang bayi cantik. 



Bayi cantik itu dibawa ke keraton ayahnya dan diberi nama DAYANG SUMBI alias 



 
RARASATI. banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada 

yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. 

Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit 



 
ditemani seekor anjing jantan yaitu si TUMANG. 



Ketika sedang asyik bertenun, TOROPONG (torak) yang tengah digunakan 

bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar 

ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak 



 
yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si 

Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi 

akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama SANGKURIANG. 



 


Ketika berburu di hutan Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk memburu babi 

betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si 

Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan 



 
dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah 

hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta KEPALA Sangkuriang 

dipukul dengan senduk sehingga luka. Sangkuriang pergi mengembara 



 
mengelilingi dunia. 



Setelah sekian lama menuju ke arah Timur akhirnya sampailah di arah Barat 

lagi dan tanpa sadar telah sampai di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya 

berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya 



 
adalah Dayang Sumbi. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, 

dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa 



 
untuk menikahinya. 



Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuat PERAHU dan TALAGA (danau) 

dalam waktu semalam dengan membendung sungai CITARUM. Sangkuriang 

menyanggupinya. Maka dibuatlah PERAHU dari sebuah pohon yang tumbuh di arah 



 
TIMUR, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung BUKIT TUNGGUL, 

rantingnya ditumpukkan di sebelah BARAT dan mejadi gunung BURANGRANG Ketika 

bendungan hampir selesai, Dayang Sumbi memohon kepada Hyang Maha Gaib agar 



 
maksud Sangkuriang tidak terwujud. 



Dayang Sumbi menebarkan irisan BOEH RARANG (kain putih hasil tenunannya), 

sehingga ketika itu pula fajar pun terbit. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di SANGHYANG TIKORO dijebolnya, 



 
sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma 

menjadi Gunung MANGLAYANG. 



Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan 

bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi GUNUNG 



 
TANGKUBANPARAHU. Sangkuriang pun mengejar Dayang Sumbi yang mendadak 

menghilang di GUNUNG PUTRI dan berubah menjadi setangkai BUNGA JAKSI. Adapun 

Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan UJUNGBERUNG 



 
akhirnya menghilang ke alam gaib (NGAHIYANG). 





*ARTI SERTA MAKNA LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHU DENGAN SEGALA ASPEK YANG 

DIKANDUNGNYA* 



Seperti pada awal tulisan, bahwa legenda bukanlah kisah historis, tetapi 



 
berupa mitos yang menjadi acuan hidup masyarakat pendukung kebudayaannya. 

Demikian pula yang terjadi pada legenda Gunung Tangkubanparahu. Di bawah ini 

saya susun nama dan tempat serta aspek lainnya yang terdapat dalam legenda 



 
tsb, yaitu: Sungging Perbangkara, babi hutan Si Wayungyang, Dayang Sumbi 

atau Rarasati, anjing Si Tumang, Sangkuriang, taropong (torak), Citarum, Sanghyang Tikoro, Gunung Putri, Gunung Manglayang, Ujungberung, kembang 



 
Jaksi, boeh rarang, Gunung Bukit Tungggul, Gunung Burangrang Gunung 

Tangkuban Parahu dan Talaga Bandung. 



Telah disinggung di atas, bahwa banyak penulis yang memberi arti dan makna 

terhadap legenda ini. Pada kesempatan sekarang penulis mencoba untuk membuat 



 
penasiran arti dan makna menurut konsep nilai-nilai intrinsik pandangan hidup "urang Sunda" yang terkandung dalam alur cerita dan arti-makna dari 

setiap kata-kata kunci. Pemaknaan ini pun telah dikaji-banding dengan nilai-nilai intrinsik yang terkandung dalam cerita lama (pantun) yang 



 
dianggap sakral yaitu Cerita Pantun Lutung Kasarung dan Mundinglaya di Kusuma. Di bawah ini disertakan deskripsi mengenai segala sesuatu yang 

berhubungan dengan legenda gunung tangkubanparahu: 



   

   - SUNGGING PERBANGKARA. Artinya : Sungging = ukiran,ornamen. 



 
   Perbangkara (Prabhangkara) = Prabha = cahaya. > 'ng = penanda hormat, 

   honorifik. > kara = matahari. Maknanya " Penanda dari kebaikan/kebenaran 

   sebagai cahaya pencerahan bagi yang menyimaknya" 



 
 

  - Babi hutan WAYUNGYANG. Artinya: Wayungyang > w(b)ayeungyang = 

   perasaan yang tidak tenteram, gundah gula. Maknanya: Seseorang yang masih 

   berada dalam sifat kehewanan tetapi telah mulai bimbang dan menginginkan 



 
   menjadi seorang manusia seutuhnya (berperi-kemanusiaan). 



   - DAYANG SUMBI (DANGHYANG). Artinya : > Dang = penanda hormat, 

   honorific. Yang < Hyang = gaib. > Sumbi = 1) tendok = alat untuk menusuk 



 
   hidung kerbau agar menurut. 2) Bagian ujung terdepan dari perahu sebagai 

   penunjuk arah dalam berlayar. Maknanya: Petunjuk gaib sebagai kendali 

   manusia dalam menentukan arah dalam melayari kehidupannya. Bisa dimaknai 



 
   pula sebagai kata hati, nurani yang mendapat pencerahan hidayah Allah Swt. 



   - RARASATI nama lain dari Dayang Sumbi. Artinya : > Raras = perasaan 

   yang sangat halus. > ati = hati, qalbu. Maknanya: Hati atau qalbu yang penuh 



 
   dengan kehalusan budi karena mendapat pancaran sinar Ilahi. 



   - Si TUMANG. Artinya: > tumang = 1) Peti yang tertutup (b. Kawi), 2) 

   mangmang = sumpah (b.Kawi) tu-mang-mang = orang yang terkena sumpah 



 
   karena waswas. Maknanya: karakter seseorang yang selalu asal bersumpah, 

   waswas, akhirnya termakan sumpahnya sendiri, hatinya seperti peti yang 

   tertutup rapat tidak mendapat pencerahan. 



   - SANGKURIANG. Artinya: > 1) Sang = penanda hormat, honorifik. > 



 
   Kuriang < kuring = saya, ego. 2) Sang = penanda hormat, honorific. > Kuriang 

   < guru + hyang = ego yang gaib. Maknanya: Sangkuriang = Jiwa (ego) non 

   material yang menjadi dasar tumbuhnya kesadaran mental manusia yang selalu 



 
   mendapat cobaan dan ujian kualitas dirinya. 



   - TAROPONG. Artinya : 1) Alat bertenun dari sepotong bambu kecil 

   (tamiang) tempat benang pakan (torak); 2) Alat untuk melihat sesuatu agar 

   lebih jelas (teropong). Maknanya: Kegiatan (semangat) manusia dalam menata 



 
   perilaku kehidupan agar terusun tertib sesuai dengan kualitas dirinya serta 

   mampu melihat dengan jelas alur (visi) kehidupannya. 



   - Sungai CITARUM. Artinya: > Ci < cai = air. > Tarum = sejenis 



 
   tumbuhan, daunnya untuk memberi warna indigo tua (hampir hitam) pada 

   kain/benang tenun. Maknanya: Kehidupan adalah seperti air mengalir dalam 

   perjalanannya akan mengalami beragam celupan kehidupan, kebahagiaan, 



 
   keprihatinan dan juga hal-hal negatif lainnya sebagai ujian keteguhan 

   hatinya. 



   - SANGHYANG TIKORO. Artinya: > Sang = penanda hormat, honorifik. > 

   Hyang = gaib. >Tikoro = saluran di leher untuk bernafas dan berbicara 



 
   (tenggorokan) atau saluran di leher untuk makan (kerongkongan). Maknanya: 

   Kemampuan manusia dalam berbicara tentang apa pun yang baik atau pun yang 

   jelek serta sering dilalui makanan entah yang halal atau yang haram. 



 


   - Gunung PUTRI. Artinya > Putri = gadis, wanita cantik jelita, 

   bangsawan. Maknanya: Karakter manusia yang dihiasi nilai keindahan dan cinta 

   kasih. Dimaknai sebagi sifat kewanitaan (feminim, jamalliyah, rohimmi) yang 



 
   penuh rasa kasih sayang. 



   - Gunung MANGLAYANG. Artinya: > Manglayang = 1) ngalayang, melayang. 

   2) Mang-layang > palayangan = Saluran untuk pembuangan air kolam/talaga. 

   Maknanya : Kemampuan manusia untuk menguras dan membersihkan dirinya dari 



 
   karakter yang kotor. 



   - UJUNGBERUNG. Artinya: > Ujung = akhir. >berung > ngaberung = 

   menurutkan hawa nafsu. Maknanya : Berakhirnya gejolak hawa nafsu yang 

   negatif. 



   - Kembang JAKSI . Artinya: 1) Jaksi > bisa dimaknai jadi + saksi . 2) 



 
   Jaksi = bunga sejenis pohon pandan. Maknanya: Segala sesuatu yang dikerjakan 

   seseorang akhirnya akan menjadi saksi pula bagi dirinya. 



   - BO'EH RARANG. Artinya : > Bo'eh = kain kafan. > rarang = suci, 



 
   mahal. Maknanya: Semuanya akan berakhir bila satu saat mau tidak mau harus 

   memakai kain kafan yang suci, yaitu datangnya waktu kematian mungkin secara 

   fisik atau secara psikis. 



   - Gunung BUKIT TUNGGUL. Artinya : > Bukit = Bentuk gunung yang lebih 



 
   kecil. > Tunggul = pokok pohon. Maknanya: Siapapun orangnya, kaya-miskin, 

   pembesar atau pun rakyat kecil semuanya mempunyai pokok sejarah dirinya 

   (leluhur) dan juga mempunyai pokok jati dirinya. 





 
   - Gunung BURANGRANG. Artinya > Burangrang > Bukit + rangrang. > 

   rangrang = ranting. Maknanya : Siapa pun orangnya tetap akhirnya akan ada 

   sangkut pautnya dengan keturun dan masyarakat yad. yang pada gilirannya 



 
   semuanya akan hilang ditelan masa (B.S ngarangrangan). 



   - Gunung TANGKUBANPARAHU. Artinya: >Tangkuban = tertelungkup, 

   menelungkup. > Parahu = perahu. > Gunung Tangkubanparahu = gunung yang 



 
   bentuknya seperti perahu yang tertelungkup. Maknanya: Dalam kosmologi Sunda, 

   gunung dimaknai sebagai tubuh manusia. Gunung Tangkubanparahu dimaknai 

   sebagai manusia yang sedang menelungkupkan dirinya dan itu menandakan 



 
   suasana hati yang sedang bingung penuh penyesalan. 



   - TALAGA BANDUNG. Artinya: > talaga = danau. >bandung = 1) perahu atau 

   dua buah rakit yang disatukan dan di atasnya dibuat tempat berteduh. 2) 



 
   bandung > bandung + an = memperhatikan, menyimak. Maknanya: Talaga dimaknai 

   sebagai alam kehidupan di dunia ini. Talaga Bandung = Dalam kehidupan di 

   dunia ini kita ibarat perahu yang dirakit berpasangan dengan sesama makhluk 



 
   lain, seyogyanya dapat membangun kehidupan bersama, yaitu kehidupan yang 

   saling memperhatikan, silih asih, silih asah dan silih asuh, interdependency 

   (saling ketergantungan yang harmonis), equaliter ( setara di depan hukum) 



 
   dan egaliter (setara di dalam kehidupan) 

   







*KESIMPULAN YANG BISA KITA MAKNAI* 



Bila kita runut seluruh informasi di atas, maka akan ditemukan alur kearifan 

pandangan hidup masyarakat Sunda yang terkandung dalam legenda Gunung 



 
Tangkubanparahu. Kearifan yang dibungkus dengan cerita legenda ini dapat 

menjadi acuan hidup bagi siapa pun dalam melayari keberadaannya baik secara 

manusia lahiriah (fisik) maupun manusia transendental (ruhi). 



 


Di bawah ini dirangkai kembali secara ringkas alur legenda tsb. semoga dapat 

memperjelas arti dan makna yang dikandungnya: 



Legenda atau Sasakala Gunung Tangkubanparahu dimaksudkan sebagai cahaya 

pencerahan (= Sungging Perbangkara) bagi manusia yang masih bimbang akan 



 
keberadaan dirinya dan berkeinginan untuk menemukan jatidiri kemanusiaanya ( 

= Wayungyang). 



Hasil yang diperoleh dari pencariannya ini akan melahirkan kata hati 

(nurani) sebagai kebenaran sejati (= Danghyang Sumbi, Rarasati); tetapi bila 



 
tidak disertai dengan kehati-hatian dan kesadaran penuh/eling (= taropong), 

maka dirinya akan dikuasai dan digagahi oleh rasa kebimbangan yang terus 

menerus (= digagahi si Tumang) dan akan melahirkan ego-ego yang egoistis, 



 
yaitu jiwa yang belum tercerahkan (= Sangkuriang). Ketika Sang Nurani 

termakan lagi oleh kewaswasan (= Danghyang Sumbi memakan hati si Tumang) 

maka hilanglah kesadaran yang hakiki. 



Rasa menyesal yang dialami Sang Nurani dilampiaskan dengan dipukulnya 



 
kesombongan rasio Sang Ego (= kepala Sangkuriang dipukul). Tentu saja 

kesombongannya pula yang mempengaruhi Sang Ego untuk menjauhi dan 

meninggalkan Sang Nurani. Keangkuhan rasio yang telah lelah mencari ilmu 



 
dengan mengelilingi seantero jagat, ternyata kembali ke titik awal kehidupannya. Akhirnya menemukan Sang Nurani yang secara sadar atau pun 

tidak tetap dicarinya (= Pertemuan Sangkuriang dengan Danghyang Sumbi). 





 
Walau demikian ternyata penyatuan antara Sang Ego Rasio (= Sangkuriang) 

dengan Sang Nurani yang tercerahkan (= Danghyang Sumbi), tidak semudah yang 

diperkirakan oleh Sang Ego. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya 



 
Sang Ego (= Sangkuriang) harus mampu membuat suatu kehidupan sosial yang 

dilandasi kasih sayang, interdependency - silih asih-asah dan silih asuh yang humanis harmonis, yaitu satu telaga kehidupan social (= Talaga Bandung) 



 
yang berasal dari kumpulan manusia yang bermacam corak ragam perangainya (= 

Citarum). Keutuhan jatidirinya pun harus dibentuk pula oleh Sang Ego sendiri 

(= pembuatan perahu). 



Keberadaan Sang Ego itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya, ada pokok 



 
yang menjadi asal muasalnya (= Bukit Tunggul, pohon sajaratun) yang berasal 

sejak dari awal keberadaannya (= Timur, tempat awal terbit kehidupan) dan 

Sang Ego pun pada akhirnya akan mempunyai keturunan yang terwujud dalam 



 
masyarakat yad. dan semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk 

tulang-belulang (= gunung Burangrang). Betapa mengenaskannya, bila ternyata 

harapan untuk bersatunya Sang Ego dengan Sang Nurani yang tercerahkan ( = 



 
hampir terjadinya perkawinan antara Sangkuriang dengan Danghyang Sumbi), 

gagal karena keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan (= 

Bo'eh rarang = kain kafan). 



Akhirnya suratan takdir yang menimpa Sang Ego tidak lain hanyalah rasa 



 
menyesal yang teramat sangat dan marah kepada "dirinya", maka ditendangnya 

keegoisan dirinya jadilah seonggok manusia transcendental yang tengah 

tertelungkup meratapi kemalangan yang menimpa dirinya (= Gunung 



 
Tangkubanparahu). Walau demikian lantaran masih merasa penasaran dikejarnya 

terus Sang Nurani yang tercerahkan (= Danghyang Sumbi) dengan harapan dapat 

luluh bersatu antara Sang Ego dengan Sang Nurani, tetapi ternyata Sang 



 
Nurani yang tercerahkan kini hanya menampakkan diri menjadi saksi atas 

perilaku yang pernah terjadi dan dialami Sang Ego ( = bunga Jaksi). 



Akhir kisah dari Sang Ego (=Sangkuriang) yaitu datangnya kesadaran dengan 



 
berakhirnya kepongahan hawa nafsunya (=Ujungberung); dengan kesadarannya 

pula, dicabut sumbat dominasi keangkuhan rasio (= gunung Manglayang), 

melalui proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (= Sanghyang 



 
Tikoro =tenggorokan; B.Sunda: Hade ku omong goreng ku omong) serta 

memperhatikan dan menjaga dengan seksama makanan yang masuk ke dalam 

lambungnya yaitu makanan yang halal dan bersih (=Sanghyang Tikoro = 

kerongkongan). 



 


*AKHIR WACANA* 



Seperti ditulis pada awal wacana, Hermeunetika adalah ilmu menafsirkan 

tentang sesuatu agar mempunyai arti dan makna, sehingga dapat dipetik 

manfaatnya. Oleh karena itu sangat bersifat subyektif dan inklusif, serta 



 
tetap terbuka bagi siapa pun untuk memasukkan tafsirannya secara pribadi. 

Boleh-boleh saja dan itu akan besar manfaatnya dalam membentuk masyarakat 

yang bermartabat. 



Bandung, 18 April 2004 

Hidayat Suryalaga - Mkl. 264



 

 

. Nambihan informasi pakait sareng tafsir carita Sangkuriang seratan abah Surya

 

Kang oman pami anu dimaksad seratan abah surya diluhur teh akang gaduh bukuna? Atanapi naon. Tiasa pami abdi hoyong terang, atanapi intina wungkul bral keun. Geuning kaluhungan sunda teh jero …

 

Hatur nuhun

 

 

Hehehe...nya muhun atuh kang, gen anjing sareng gen manusa mah beda. Maenya aya jelema indung/bapana anjing atawa babi?. Kacida teuing wae belegugna jelema anu percaya kana dongeng rahul siga kitu.

Sok sanaos kitu, hatur nuhun kintunana. Nambihan informasi pakait sareng tafsir carita Sangkuriang seratan abah Surya. Yen ikon Dayang Sumbi, Sangkuriang, si Tumang, jst teh pinuh ku maksud filosofis anu luhung. Kunaon cenah perlu dibungkus ku ikon2 saperti kitu? Sangkan malikir, sugan. Sabab, ngilo Al Qur'an oge teu sakabehna ayat-ayat Al qur'an teh muhkam atawa jelas ku soranganana tan merlukeun ta'wil jeung tafsir.

Seueur ayat Al Qur'an anu merlukeun meditasi jeung pikiran anu jero. Contoh anu gampang wae eta soal sawarga anu mindeng digambarkeun salaku tempat anu pinuh ku bidadari. Pikiraneun keur anu ngagarunakeun akalna.

Cag heula.

manar