Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 April 2010

Pidato Ketua Umum PDI Perjuangan - Megawati

PIDATO KETUA UMUM PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN


PEMBUKAAN KONGRES KE - III PDI PERJUANGAN

BERJUANG UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT


DENPASAR, 6 – 9 April 2010


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam Sejahtera bagi kita semua

Om Swastiastu

Sebelumnya, marilah kita lebih dahulu bersama-sama memekikkan salam perjuangan kita,

Merdeka!!!

Saudara-saudara Utusan Kongres III PDI Perjuangan, tamu undangan, dan segenap bangsa Indonesia yang saya hormati, cintai dan banggakan,

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta'ala atas segala rahmat dan hidayahnya yang telah menjaga dan mengantarkan kita kembali ke Bali, tempat dimana kesejarahan PDI Perjuangan ditoreh, dan sekaligus tempat dimana spirit 'merah' tetap terjaga.


Kongres PDI Perjuangan III ini diselimuti rasa bela sungkawa mendalam dimana dua tokoh bangsa telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa: bapak K.H. Abdur Rahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur serta kader nasionalis yang hidup di tiga zaman yakni Bapak Frans Seda. Beberapa waktu lalu kita juga kehilangan Bapak Subagyo Anam yang hingga akhirnya hayatnya terus memberikan sumbangsih bagi Partai. Saya mengajak warga kita semua untuk mendoakan, dan lebih lagi meneladani pikiran dan tindakan mereka dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Secara khusus saya juga ingin mengucapkan selamat kepada KH Sahal Mahfudz dan KH Said Agil Siraj yang telah terpilih sebagai Rais Aam dan Ketua Tandfidziyah PBNU pada Muktamar ke-32 NU di Makassar beberapa waktu lalu. Saya berkeyakinan, di tangan beliau berdua peran sentral NU sebagai pengawal ke-bhinneka- an Indonesia akan terus terjaga.


Saudara-saudara peserta Kongres III,

Hari ini kita berkongres bukan sekadar untuk memenuhi kalender 5 tahunan partai, bukan pula sekadar untuk memilih ketua umum atau membagi-bagikan posisi. Tetapi untuk menyalakan kembali suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam lengan-lengan perjuangan untuk membangun jiwa dan raga Indonesia merdeka. Mengapa? Karena Kongres kali ini dilaksanakan di tengah ingar-bingar politik nasional. Ingar bingar yang sedang menguji apakah jalan demokrasi yang kini kita jalani mampu mengantarkan ke kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik atau justru menjerumuskan kita pada kekelaman sejarah.


Saudara-saudara,

Sebagai partai kita boleh berbangga karena di tengah-tengah ingar-bingar politik nasional, konsolidasi internal tetap berjalan baik. Pelaksanaan konsolidasi Partai yang dipandu SK 435 telah mengantarkan kita ke Kongres III ini.

Harapan saya, pasca Kongres III, energi partai tidak lagi terserap hanya untuk konsolidasi internal. Pembentukan PAC, Ranting, dan Anak Ranting harus bisa diselesaikan tanpa proses berlarut-larut. Kita mesti menyediakan lebih besar lagi energi untuk bekerja bersama rakyat.


Saudara-saudara para kader Partai yang saya banggakan,

Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada ujian sejarah yang tidak mudah. Kita disodorkan pada pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi. Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik. Saya berduka karena pemahaman di atas meninggalkan inti etis dan ideologis dari politik sebagai seni dan sarana kebudayaan rakyat untuk mewujudkan kedaulatan politik, keberdikarian ekonomi, dan jati-diri kebudayaan kita sebagai bangsa merdeka.


Dalam kesempatan ini saya perlu tegaskan bahwa cita-cita yang melekat dalam sejarah Partai kita jauh lebih besar dari sekadar urusan kursi di parlemen, sejumlah menteri, ataupun istana merdeka. Kita diajarkan dan ditakdirkan oleh sejarah bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik seperti yang dilakukan Bung Karno adalah lebih utama dari urusan bagi-bagi kekuasaan. Saya ingin tegaskan bahwa dalam dialektika dengan rakyat tugas sejarah setiap kader akan dinilai dan tugas sejarah dari partai akan ditimbang. Saya berkeyakinan, dalam kegotong-royongan dan permusyawaratan dengan rakyat, masa depan PDI Perjuangan akan menemukan puncak keemasannya. Karenanya sebagai kader, kita harus berbangga bukan ketika kita bersekutu dengan kekuasaan, tapi ketika kita bersama-sama menangis dan bersama-sama tertawa dengan rakyat.


Sebagai partai ideologis posisi kita sangat jelas: kita tidak akan pernah menjadi bagian dari kekuasaan yang tidak berpihak pada wong cilik. Apalagi dari sudut ketata-negaraan yang kita anut, diskursus mengenai oposisi-koalisi tidak punya pondasi untuk diperdebatkan. Kita tidak perlu terjebak dalam diskursus semacam ini.

Penegasan di atas tidak berarti PDI Perjuangan anti kekuasaan. Tetapi ini untuk menegaskan bahwa jika kita harus memegang tampuk pemerintahan, biarkan itu terjadi karena kehendak rakyat. Dan sebaliknya, jika rakyat menghendaki kita menjadi kekuatan penyeimbang agar prinsip checks and balances bisa berjalan, biarkan kehendak rakyat itu terjadi.


Sebagai kekuatan pengontrol dan penyeimbang, kita bukan saja diwajibkan untuk mengkritik. Tapi juga untuk mengajukan berbagai alternatif kebijakan. Bagi kepentingan bangsa ini, hal ini sangat strategis karena akan tersedia pilihan-pilihan yang semakin beragam bagi masyarakat untuk memilih.


Saudara-saudara,

Posisi di atas adalah wujud tanggung-jawab kita sebagai kekuatan politik; tanggung-jawab untuk menjaga agar demokrasi yang sehat dapat tetap bekerja dengan sebaik-baiknya. Tanggung-jawab untuk memberikan pendidikan politik bahwa moral politik yang paling sederhana yang dituntut dari seorang pemimpin yang betul-betul revolusioner adalah satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan. Posisi di atas sekaligus adalah wujud penghormatan kita pada pilihan rakyat. Saya sangat berharap, agar pilihan PDI Perjuangan ini bisa dihormati oleh semua pihak.


Saudara-saudara,

Jika kita mau sedikit merenung, maka kita pasti akan sampai pada keyakinan bahwa kegagalan kita dalam memaknai garis sejarah sebagaimana saya sampaikan di atas merupakan inti sebab dari ditinggalkannya PDI Perjuangan dalam dua pemilu lalu. Kemerosotan suara adalah teguran rakyat agar kita kembali ke takdir sebagai sarana dan wadah perjuangan rakyat. Saudara-saudara- ku, ingatlah akan hal ini: rakyat tidak akan pernah ragu-ragu untuk kembali menegur dengan cara lebih keras di tahun 2014 nanti, jika kita gagal kembali ke jalan ideologis kita.


Sudah saatnya kita menyadari untuk kemudian bangkit membenahi segala kekurangan dan kelengahan kita selama ini. Sudah saatnya kita menata ulang seluruh perangkat perjuangan untuk kemudian menatap dengan penuh optimisme bahwa partai ini adalah partai milik wong cilik dan dipersembahkan bagi mereka. Sudah saatnya PDI Perjuangan kembali aktif dalam membangun solidaritas horizontal bersama rakyat untuk membuat lompatan kualitatif. Sudah saatnya PDI Perjuangan kembali menjadi kekuatan yang merajut keaneka-ragaman kita ke dalam satu kesatuan tekad, satu kesatuan jiwa, dan satu kesatuan gerak.


Saya mengajak setiap warga partai, mari kita jadikan lima tahun kemarin sebagai pelajaran berharga, dan kita jadikan lima tahun ke depan sebagai tahun-tahun PERUBAHAN & KEBANGKITAN.


Ini mengingatkan saya, pada tahun tahun sulit yang pernah dilewati Bung Karno, dan hingga hari ini masih terngiang di telinga saya, kata-kata Bung Karno: "Majulah terus, jangan mundur, mundur-hancur, mandeg ambleg; bongkar, maju terus, kita tak bisa dan tak boleh berbalik lagi. Kita telah mencapai point of no return !!!"

Untuk itu, kita tidak punya pilihan lain kecuali kembali ke jati diri sebagai partai ideologis.


Saudara-saudara,

Menjadi partai ideologis bukanlah pilihan mudah. Perkembangan sepuluh tahun terakhir ini menunjukkan besarnya tantangan yang harus kita jawab. Kita dihadapkan pada rendahnya kecakapan dan tidak tersedianya media bagi partai dalam mengelola opini dan membangun komunikasi. Kita bahkan belum memiliki sistem data base yang handal sebagai dasar pengambilan keputusan.


Kita dihadapkan pada keterbatasan sumber pembiayaan di tengah-tengah kebutuhan anggaran pengelolaan partai yang semakin besar. Kita dihadapkan pada kelangkaan kepemimpinan baik secara kualitas maupun. Pengaturan kelembagaan partai kita masih terpusat pada satu tiang penyanggah, yakni organisasi partai dari DPP hingga anak ranting. Kita membiarkan tangan-tangan partai yang mengelola kekuasaan dan pemerintahan tidak diatur dalam AD/ART partai. Ini menimbulkan kesulitan dalam membangun koordinasi dan sinergi lintas pilar penyangga partai. Kita akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan, meluasnya kecenderungan fraksi berjalan sendiri-sendiri atau sebaliknya kegagalan struktural partai dalam memberikan arahan bagi fraksi dan dalam membangun komunikasi dan sinergitas dengan kepala daerah.

Kita dihadapkan pada persoalan kaderisasi dan penataan jenjang karier yang belum terlembaga dengan baik. Kita juga dihadapkan pada belum terlembaganya sistem dan mekanisme rekrutmen yang membuat proses regenerasi berjalan lamban dan kesulitan mendatangkan tunas-tunas yang dipersiapkan untuk menjadi calon pemimpin partai dan bangsa ke depan.


Regenerasi memang tidak secepat yang kita harapkan. Tetapi kita jangan salah kaprah seakan proses regenerasi tidak terjadi. Tengoklah ke daerah-daerah, cukup banyak tunas-tunas baru yang tumbuh. Tengoklah di parlemen kita, semakin banyak generasi muda berkiprah. Merekalah yang siap memimpin bukan saja PDI Perjuangan, tapi bangsa ini di masa mendatang yang saya yakin tidak terlalu lama lagi.


PDI Perjuangan juga dihadapkan pada rendahnya disiplin warga partai sebagai salah satu tulang punggung tegaknya partai ideologis. Kita dihadapkan pada kemerosotan militansi anggota. Voluntarisme dan aktivisme memudar sebagai elan berpolitik digantikan dengan pertimbangan "untung-rugi". Ditinggalkannya TPS oleh saksi Partai pada pemilu legislatif dan pilpres adalah contoh kecil.


Saudara-saudara,

Dari sisi eksternal, tantangan bagi PDI Perjuangan untuk kembali ke jalan ideologis juga tidak ringan.


PDI Perjuangan harus bekerja dalam situasi psiko-politik "anti-partai" dan "anti-ideologi". PDI Perjuangan harus bekerja dalam masyarakat yang semakin pragmatis, transaksional, dan berpikir instant untuk kepentingan individual berjangka pendek. Kita harus bekerja dalam situasi dimana sebagian pihak menganggap bahwa menduduki jabatan publik melalui partai adalah jalan baru bagi keamanan ekonomi. Partai bukan lagi alat ideologi, tapi alat akumulasi ekonomi. Partai menjadi sarana transportasi cepat untuk keuntungan ekonomi individual, bukan lagi sarana untuk mewujudkan kepentingan rakyat.

Kita juga harus bekerja di dalam situasi "citra" menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi. Kita harus berhadapan dengan sebuah rezim politik yang cenderung menggunakan metode menghalalkan cara dalam mencapai tujuan politiknya sebagaimana digambarkan oleh kekacauan luar biasa pada pemilu legislatif dan presiden yang lalu.


Secara keseluruhan, PDI Perjuangan harus bekerja dalam situasi politik yang semakin mahal. Pengalaman Pemilu 2009 lalu menunjukkan kuatnya pengaruh politik yang semakin mahal ini dalam menuntun perilaku politik internal partai. Kita menjadi kader-kader yang menempatkan keutamaan keuntungan diri sendiri ketimbang bagi rakyat.

Kesemua tantangan di atas, baik internal maupun eksternal perlu disikapi oleh Kongres III kali ini. Hanya dengan cara itu, partai bisa melangkah dengan lebih meyakinkan lagi. Tetapi saya perlu garis-bawahi, Kongres bukan saja perlu menegaskan kembali Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi partai yang bersifat final. Tetapi juga harus mengembangkan instrumen agar Pancasila dapat bekerja dalam partai, dapat menjiwai keseluruhan program dan sikap Partai, serta dapat menjadi karakter politisi partai.

(Improvisasi: terimakasih pada Pimpinan MPR yang telah mendorong pemerintah menetapkan 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila; dan penegaskan 4 pilar berbangsa dan bernegara).


Saudara-saudara,

Saya juga perlu menegaskan bahwa kemerosotan suara kita dalam pemilu lalu adalah juga produk dari penyelenggaraan demokrasi yang manipulatif. Pemilu Legislatif dan Presiden 2009 secara terang benderang telah mendemonstrasikan watak manipulatif dari proses berdemokrasi kita. Kita menyaksikan, karut-marutnya Daftar Pemilih Tetap (DPT) telah menghilangkan secara paksa dan sistematis hak politik warga negara. Bahkan lebih lagi, merupakan perampasan secara paksa atas hak konstitusional warga-negara. Kita seharusnya bersedih karena keseluruhan proses Pemilu 2009 yang memakan biaya yang sangat besar justru meninggalkan begitu banyak catatan hitam dalam sejarah politik Indonesia .


Sebagai Presiden pada tahun 2004, saya telah mencoba dengan susah payah membangun sistem demokrasi agar Presiden dan Wakil Presiden dapat dipilih secara langsung oleh rakyat. Pada saat itu, tidak terpikirkan sedikitpun oleh saya untuk menciderai jalannya demokrasi. Karena saya berkeyakinan, rakyat berhak untuk mendapatkan kembali kedaulatannya sebagai penentu kehidupan politik, setelah sekian lama dibungkam. Meski saat itu saya dikalahkan tetapi saya berbangga dan berkeyakinan bahwa dalam jangka panjang demokrasi yang telah diletakkan akan menjadi jalan keluar bagi kesejahteraan rakyat serta bagi terpeliharanya kemajemukan dan keutuhan NKRI. Ternyata keyakinan saya di atas tidak sepenuhnya benar.

Pemilu 2009 menunjukkan, politik kehilangan watak aktivisme dan voluntarismenya. Yang kita saksikan justru politik sebagai melodrama, berpola seperti sinetron yang sarat dengan belas-kasihan dan kepura-puraan. Politik juga kehilangan 'keutamaan' dan 'moralitas' karena hampir sepenuhnya dipersembahkan untuk kekuasaan.

Sebagai pilar negara demokrasi, partai berubah fungsi menjadi "penjual tiket" kekuasaan. Yang terjadi kemudian, hubungan politik antara rakyat - partai, dan rakyat - elit menjadi pola hubungan transaksional, hubungan "untung-rugi". Pola hubungan yang mendewakan "materi".


Pola hubungan yang mendewakan materi di atas memang tampak menguntungkan untuk jangka pendek. Tetapi ada hal yang jangan dilupakan, yakni berapa lama hal itu bisa berlangsung sementara tujuan masyarakat adil dan makmur semakin jauh dari kenyataan? Bukankah proses ini hanya akan berakhir dengan kaum papa yang akan semakin papa dan terus termarjinalkan? Itukah yang kita inginkan dan bangsa Indonesia perjuangkan?


Hal-hal di atas mencemaskan karena moralitas negara demokrasi yang dibangun melalui partai, idealnya dimaksudkan agar pendidikan politik kewarganegaraan dapat diwujudkan. Partai adalah "taman sari" untuk menyiapkan kader-kader pemimpin bangsa dan negara guna mengisi sirkulasi kekuasaan secara damai. Tugas etis partai di atas dalam kenyataannya di-subkontrakkan kepada segelintir konsultan politik yang menghasilkan deretan angka yang menghegemoni masyarakat. Akibatnya, prinsip dikalahkan oleh citra dan pendidikan politik digantikan dengan indeks kepuasan publik belaka.

Inilah hal-hal yang perlu kita renungkan kembali. Apakah realitas seperti ini yang kita kehendaki bagi masa depan Indonesia kita? Realitas dimana survei dan indeks kepuasaan menjadi lembaga dan instrumen baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Realitas dimana citra dikedepankan tetapi di saat yang sama, membiarkan tugas sejarah mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum serta melahirkan Indonesia yang bermartabat, menjadi sekadar pekerjaan seolah-olah.

Akhirnya secara realita hanya kaum berpunya yang bisa memiliki akses ke politik dan membiarkan rakyat kebanyakan sebagai penonton yang hanya menikmati sekadar keuntungan ribuan rupiah dalam setiap siklus pemilu. Realitas dimana rakyat kehilangan kemandiriannya dalam politik.


Saya sering bertanya-tanya, apa salahnya kalau rakyat mandiri? Apa salahnya kalau rakyat berdikari? Bukankah suatu bangsa yang berdikari harus ditopang oleh rakyat yang berdikari juga?


Saudara-saudara,

Karena melihat pada hal-hal di atas, kita bukan saja dituntut untuk bergotong-royong dan bermusyawarah dengan rakyat sebagai inti berpolitik partai kita. Tetapi juga, harus mengorganisir kekuatan rakyat untuk menjaga agar watak manipulatif di atas tidak akan pernah berulang di 2014 nanti. Rakyat perlu diorganisir agar keutamaan dan moralitas kembali menjadi prinsip-prinsip dasar dalam berpolitik. Lebih lanjut rakyat perlu diorganisir agar terbangun kesadaran untuk melawan citra sebagai satu-satunya ukuran berpolitik.


Semua di atas harus kita tata kembali. Hal ini bukan saja untuk menjamin prinsip-prinsip Jurdil dan Luber bisa ditegakan sehingga kita boleh bertepuk dada sebagai suatu negara demokrasi terbesar nomor 3 di dunia. Tetapi, juga agar kita boleh meletakkan budaya politik baru: menang secara terhormat, kalah secara bermartabat.


Saudara-saudara yang saya cintai,

Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. Mengapa? Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sirna dia. Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh jaman. Dan tanda-tanda jaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh Proklamator Bangsa?


Pengalaman sejumlah negara adidaya akhir-akhir ini menunjukkan sebuah bangsa bukan saja membutuhkan ideologi, tapi ideologi yang didedikasikan bagi mayoritas rakyat. 100 tahun lalu tidak terpikirkan bahwa jalan kapitalisme dari negara-negara di atas akan membawa mereka ke krisis yang mendalam. Bung Karno telah memprediksi sejak tahun 1930: kapitalisme mengandung kontradiksi- kontradiksi di dalam dirinya sendiri. Ia pasti akan memakan anaknya sendiri. Dan inilah yang sedang kita saksikan. Sebagai bangsa, sudah tentu kita tidak ingin berjalan di rel yang keliru. Kita sudah memiliki Pancasila 1 Juni 1945. Itulah jalan yang telah kita pilih sebagai keyakinan tanpa ragu.


Saudara-saudara,

Berbagai kehilangan di atas disebabkan karena kita tidak waspada. Kita mengira era pertarungan ideologi telah berakhir. Padahal realitas di sekitar kita mengatakan dengan jelas: inilah era puncak pertarungan ideologi dalam berbagai bentuk baru dan menjangkau setiap sendi kehidupan. Saya akan memberikan 2 contoh, yakni demokrasi dan pengelolaan pemerintahan guna menjelaskan hal ini.


Demokrasi Indonesia yang telah lama kita perjuangkan bukanlah suatu ruang kosong yang bekerja secara metafisis ataupun mekanis. Ia adalah medan peperangan ideologi. Demokrasi prosedural yang kini kita jalani berangkat dari kutub ideologi liberal-individual. Sebagai ideologi ia memberikan mekanisme dan jaminan berkompetisi dan melahirkan pemenang dan pecundang. Demokrasi liberal tak akan pernah menjadi bentangan karpet merah menuju keadilan sosial bagi segenap tumpah darah Indonesia . Ia bukan pula jalan bagi penguatan partisipasi rakyat. Demokrasi semacam ini bisa jauh lebih buruk lagi, ketika dia dibangun di atas politik pencitraan dan bekerja untuk melindungi citra semata-mata. Demokrasi Indonesia mestinya dibangun di atas keutamaan kolektivitas, dijalankan melalui musyawarah untuk mufakat, dan bekerja di tengah-tengah keyakinan akan kebhinnekaan sebagai anugrah Tuhan. Ia adalah demokrasi yang konon kata para ahli adalah demokrasi deliberatif.


Saudara-saudara,

Pengelolaan pemerintahan kita akhir-akhir ini juga menunjukkan wataknya yang semakin menjauhi nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa? Kecenderungan menciptakan semakin banyak lembaga menyebabkan fragmentasi pemerintahan yang serius. Setiap hari media massa menyajikan betapa kronisnya fragmentasi yang terjadi akibat dari tidak adanya tuntunan ideologis yang jelas. Akibatnya sangat jelas: suatu kekacauan pengelolaan pemerintahan.


Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan adalah kasus Bank Century. Kasus ini adalah salah satu puncak gunung es dari kekacauan tata-kelola pemerintahan. Kita sudah menyatakan sikap dengan jelas melalui Fraksi PDI Perjuangan: kebijakan pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) dan Penyertaan Modal Sementara (PMS) adalah salah. Karenanya, kepada Fraksi sudah saya perintahkan untuk memilih opsi C dan terus menga wasi proses penyelesaian kasus ini dalam batas-batas kewenangannya.


DPR telah menunaikan kewajiban konstitusional- nya untuk menuntaskan kasus Bank Century ini. Kini giliran pemerintah dan terutama presiden untuk menindak-lanjuti dan menuntaskannya melalui saluran hukum.

Perlu saya tegaskan, rakyat sendiri harus aktif terlibat dalam mengawasi. Media massa sebagai pilar keempat demokrasi, perlu juga melalukan fungsi pengawasannya. Kita tidak bisa membiarkan proses yang ada hanya diawasi oleh lembaga-lembaga formal. Mengapa? Karena pengalaman masa lalu telah mengajarkan kita, sejumlah keputusan DPR yang perlu ditindak-lanjuti pemerintah justru menguap tanpa jejak.


Saudara-saudara,

Saya menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan tidak akan pernah sampai ke akhir tujuannya hanya dengan ideologi. Perjuangan tak akan pernah mencapai terminalnya hanya dengan retorika. Untuk bisa bekerja efektif, ideologi membutuhkan kader. Ideologi membutuhkan pemimpin. Ideologi membutuh organisasi dan manajemen yang baik.

Ideologi membutuhkan aturan bermain. Ideologi membutuhkan kebijakan. Ideologi membutuhkan program yang merakyat. Ideologi membutuhkan sumber-daya.

Saya sangat berharap, hal-hal strategis di atas bisa diputuskan oleh Kongres sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam partai. Karenanya, saya minta pada setiap utusan Kongres III kali ini untuk menyadari dengan sepenuh-penuhnya, sejarah sedang memberikan kesempatan bagi kita, kesempatan emas untuk bangkit. Gunakanlah kesempatan sejarah ini untuk menghasilkan keputusan yang sebaik-baiknya bagi partai, bangsa dan negara.


Untuk itu, mari kita ingat akan kata-kata Bung Karno:

"KARMA NEVAD NI ADIKARASTE MA PHALESHU KADA CHANA",

"Kerjakanlah kewajibanmu dengan tidak menghitung-hitungka n akibatnya!".


Kata-kata di atas, adalah tulisan tangan Bung Karno yang dikutip dari Percakapan Kedua, Kitab Baghawad Gita. Kata-kata di atas adalah sebagian dari nasihat Kresna pada Arjuna di medan perang Kurusetra. Nasihat yang disampaikan setelah Arjuna nampak bimbang menghadapi lawan-lawannya yang adalah para guru dan sanak-saudara sendiri.

Tuhan pasti memberikan jalan bagi kita semua.


Kader Partai yang saya cintai dan banggakan, saudara sebangsa dan setanah air

Mengakhiri pidato ini, ijinkan saya dan seluruh jajaran DPP PDI Perjuangan yang akan segera demisioner, menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kepercayaan warga PDl perjuangan terhadap saya dalam memimpin partai ini selama lima tahun.


Terimakasih dan penghargaan juga saya sampaikan kepada daerah-daerah yang telah mampu mempertahankan, bahkan menaikkan jumlah perolehan suaranya dalam Pemilu legislatif maupun Pemilu Presiden.


Terimakasih dan penghargaan saya sampaikan kepada sesepuh partai yang telah banyak membantu kerja partai melewati masa-masa yang tidak mudah.

Kepada Panitia Kongres yang telah bekerja dengan sangat keras selama berbulan-bulan dalam mempersiapkan Kongres ini, terimakasih dan penghargaan yang tinggi saya sampaikan.


Kepada pemerintah Provinsi dan warga Bali , ucapan terimakasih atas bantuan dan sambutannya yang selalu meriah bagi PDI Perjuangan.

Pada aparat keamanan, terimalah rasa terimakasih dan hormat kami atas segala kerja keras sehingga penyelenggaraan Kongres III ini bisa berjalan tanpa gangguan.


Terimakasih juga saya sampaikan pada para pengamat yang telah meluangkan waktu untuk hadir di arena Kongres III kali ini.

Dan terakhir, terimakasih dan penghargaan yang tinggi saya sampaikan kepada rekan-rekan wartawan yang telah menjadi sahabat PDI Perjuangan selama ini.


Saudara-saudara,

Jalan Pancasila 1 Juni 1945 yang ditopang oleh 3 pilar bernegara lainnya, yakni NKRI, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika yang kita pilih adalah jalan tunggal bagi PDI Perjuangan dalam "Berjuang untuk kesejahteraan rakyat" yang menjadi tema Kongres III kali ini.


Akhirnya, dengan mengucap Bismillahirrahmanir rahim, Kongres ke-III PDI Perjuangan secara resmi saya buka.


Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam Sejahtera bagi kita semua,

Om Santi Santi Om.

Merdeka!!!

Sekian dan terimakasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Om Santi Santi Santi Om.

MERDEKA!!!

Megawati Soekarnoputri

KETUA UMUM PDI PERJUANGAN

Jumat, 05 Februari 2010

MENDADAK KANGEN PAK NATSIR

"Kamis siang, saat televisi menayangkan siaran langsung peristiwa demonstrasi di Jakarta. Di luar sana, kolong langit dipenuhi teriakan para demonstran. Mereka menggugat dan menuntut pemerintah agar segera mengurai benang kusut persoalan. Pejabat gagal menjadi teladan. Rakyat mulai kehilangan kesabaran. Kondisi yang  benar-benar memprihatinkan. Tak ada salahnya, sejenak, kita berkaca pada kesederhanaan. Sikap teladan yang ditegakkan oleh seorang pahlawan...."

Kesederhanaan Seorang Muhammad Natsir

Muhamad Natsir adalah orang yang besar dan sulit mencari bandingnya di masa sekarang. Ini diakui banyak orang, di antaranya Prof. Jimly Ashiddiqie, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi menyatakan, "Saat ini sulit mencari tokoh yang bisa kita sebandingkan dengan Natsir. Natsir bukan pengusaha, bukan orang kaya. M.Natsir tiga kali menjadi menteri penerangan dan sekali menjadi perdana menteri, bukan untuk mencari uang atau memperkaya diri."

George McTurman Kahin, salah seorang Amerika yang kenal dengan Natsir sempat terheran-heran dengan kesederhanaan seorang Natsir, hingga baju yang dikenakannya saat menjabat sebagai Menteri adalah baju yang penuh dengan tambalan. Dan di saat masa jabatannya habis, Natsir meninggalkan kantor kementriannya pulang menuju rumah dengan mengayuh sepeda. Mobil dinasnya langsung diserahkan saat itu juga kepada negara.

Selama menjabat sebagai menteri penerangan tiga kali, dan juga menjabat sebagai perdana menteri, kehidupan keluarga Natsir tidaklah banyak berubah. Rumahnya tetap sederhana dan pintunya terbuka bagi siapa saja yang ingin bersilaturahim. Sikap seorang Natsir ini sangat bertolak-belakang dengan orang-orang yang sekarang mengaku tokoh umat, yang setelah menjadi pejabat negara atau pejabat partai bisa mendadak kaya raya, padahal mereka tidak punya usaha lain selain pejabat partai. Dan bukan rahasia umum lagi jika kerjaan partai politik, apa pun ideologinya, tidak jauh-jauh dari jual-beli suara umat, sehingga rakyat banyak menganggap bahwa para elit partai politik sesungguhnya tidak beda dengan para pedagang, yang menjadikan suara umat atau suara rakyat sebagai barang dagangan dengan memberikan janji-janji manis saat pemilu, dan secepatnya melupakan semua itu ketika sudah berkuasa. Natsir jelas bukan tokoh umat yang seperti ini.

Salah satu peristiwa yang menunjukkan kebesaran seorang Natsir adalah saat pertemuan antara Prabowo yang telah menjadi seorang perwira dengan Muhamad Natsir. Saat iklim politik Indonesia sejak tahun 1988 telah mulai kondusif bagi dakwah Islam. Suatu hari, Prabowo, yang saat itu masih menantu Presiden Suharto, diiring sejumlah perwira Muslim hendak bersilaturahim ke kediaman Natsir di Jalan HOS. Cokroaminoto, Jakarta. Natsir yang telah tua menunggu di dalam kamarnya. Sebelum masuk ke dalam rumah, Pabowo Subianto menyempatkan diri untuk melolosi arloji dan cincin emasnya, lalu dititipkan ke ajudannya. Hal ini dilakukan Prabowo karena dia tahu jika Natsir adalah seseorang yang sangat memegang erat kesederhanaan, dan Prabowo pun sangat menghormatinya.

Apa yang dilakukan Natsir sungguh beda dengan kelakuan sebagian orang-orang yang mengklaim sebagai pemimpin umat, yang lebih sering mendatangi rumah penguasa ketimbang berjalan menyusuri pasar becek menyapa kaum mustadh'afin. Natsir tidak punya istana, namun orang-orang istana sering mendatanginya. Bukan sebaliknya.

Tauhid Yang Benar

Salah seorang sahabat dekat Natsir adalah (alm) Hussein Umar. Suatu hari tokoh Pelajar Islam Indonesia (PII) ini menegaskan kepada penulis jika salah satu pilar yang sangat dipegang Muhammad Natsir adalah keistiqomahan dalam dakwah. Bang Hussein, demikian sebutannya, berkata, "Dakwah itu merupakan sebuah proses yang panjang. Sebab itu sama sekali tidak perlu adanya sikap tergesa-gesa ingin menikmati hasil. Semua perlu proses dan kesabaran. Jangan kita bisa dijebak lagi, karena ingin cepat-cepat menuai hasil, lalu masuk dalam skenario yang justru akan menghancurkan gerakan dakwah itu sendiri."

Bang Hussein juga mengulangi pesan Natsir kepadanya, "Umat Islam itu diwajibkan berusaha dengan sebaik mungkin, dibatasi oleh kaidah-kaidah syariat, akidah, dan keimanan. Sedangkan hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT, karena Allah-lah yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Manusia wajib berusaha, sedangkan hasilnya Allah SWT yang menentukan."

Hal inilah yang melandasi sikap perjuangan Natsir. Walau secara pribadi dia kenal dan berteman dengan para politikus dari PKI maupun dari partai-partai Kristen, namun di dalam perjuangan politiknya, Natsir tidak pernah memberikan loyalitasnya, walau sedikit pun, kepada mereka. Natsir sangat paham jika hal tersebut, wala wal baro, termasuk dalam pilar-pilar ketauhidan. Hal ini dibuktikan dengan Partai Masyumi yang tidak pernah sekali pun mengangkat calegnya dari kalangan non-Muslim. Sangat beda dan jauh dengan yang ada sekarang.

Sikap Natsir terhadap misi pemurtadan yang dilakukan Gereja sungguh jelas. Dalam satu artikel yang ditulis Natsir (1938), yang berjudul "Suara Azan dan Lonceng Gereja", Natsir membuka dengan tulisan: "Sebaik-baik menentang musuh ialah dengan senjatanya sendiri! Qaedah ini dipegang benar oleh zending dalam pekerjaannya menasranikan orang Islam. Tidak ada satu agama yang amat menyusahkan zending dan missi dalam pekerjaan mereka daripada agama Islam." Hal ini dilakukan Natsir untuk menyikapi hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam, 25-26 Oktober 1938. Natsir sangat peduli dengan Konferensi tersebut, yang antara lain menyorot secara tajam kondisi umat Islam Indonesia.

Menanggapi rencana pemurtadan tersebut, Natsir menghimbau umat Islam agar, "Waktu sekaranglah kita harus memperlihatkan kegiatan dan kecakapan menyusun barisan perjuangan yang lebih rapi. Jawablah Wereldcongres dari Zending itu dengan kongres Al-Islam yang sepadan itu ruh dan semangatnya, untuk memperteguh benteng keislaman. Sebab tidak mustahil pula di negeri kita ini, suara adzan bakal dikalahkan oleh lonceng gereja. Barang bathil yang tersusun rapi, akan mengalahkan barang haq yang centang-perenang.!" (Pandji Islam, ed. 33-34). Natsir tidak pernah memberi loyalitas perjuangan umat Muslim ini kepada kaum kuffar dengan alasan Islam itu rahmatan lil'alamin.

Terhadap usaha-usaha pemurtadan yang dilancarkan musuh-musuh Islam, Natsir sangat tegas dan tidak kenal takut maupun kompromistis. Sekarang ini, hanya ormas-ormas Islam seperti FPI-lah yang mengikuti jejak Pak Natsir dalam membela Islam dari rongrongan kaum salib maupun kaum liberalis. Sedangkan "tokoh-tokoh Islam" yang sudah keenakan duduk di kursi empuk di DPR maupun DPRD, mereka lebih memilih diam seribu bahasa, lebih memilih aman, ketimbang membela Islam. Bagi orang-orang seperti ini, belanja di Singapura bahkan sampai ke Paris, kongkow di hotel internasional, semuanya jauh lebih nikmat, dan sebab itu harus dipertahankan terus sepanjang hayat dikandung badan, ketimbang ikut berpanas-panas ria di tengah terik matahari di jalanan seperti halnya yang dilakukan para pembela Islam.

Sekarang, sangat sulit mencari sosok pejuang Islam seperti Muhammad Natsir. Sosok seperti ini sekarang hanya bisa ditemukan di masjid-masjid kampung dan di pesantren-pesantren pedalaman. Manusia besar ini berpulang kerahmatullah pada 5 Februari 1993 di Jakarta, meninggalkan berjuta hikmah dan kisah. (Tamat/rd)
http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/kesederhanaan-seorang-muhammad-natsir-tamat.htm

PENGHANCURAN TERPIMPIN

*Opini Kompas, Sabtu, 30/1/2010*

*Penghancuran Terpimpin
*Chalid Muhammad

Pengerukan perut Ibu Pertiwi oleh industri tambang terus berlangsung
sistematis di negeri ini. Kalimantan adalah fenomena puncak gunung es.
Berita Kompas tentang penambangan batu bara beberapa hari terakhir
menegaskan betapa industri tambang berdaya rusak luar biasa dan tak
terkendali.

Kehancuran ekologis, penggurunan, serta peminggiran dan pemiskinan
penduduk lokal adalah karakter merusak yang melekat pada perilaku
industri tambang, yang populer disebut daya rusak tambang. Industri
tambang boleh dibilang anak emas kebijakan pengurusan negara dari rezim
ke rezim, tergolong sebagai sektor industri vital dan strategis.

Aparatus keamanan pun bergeser menjadi aparatus kekerasan. Sering
berujung pada pelanggaran hak asasi manusia dalam tugasnya mengamankan
industri ini. Itu sebabnya, pelaku tambang amat percaya diri mengeruk
bahan tambang secara tak bertanggung jawab, meninggalkan bom waktu
penderitaan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

Praktik tak bertanggung jawab itu tak saja di Indonesia. Oxfam Amerika
dalam laporan riset, Extractive Industries and the Poor (2001),
meyebutkan bahwa negara-negara yang bergantung kepada sektor tambang
umumnya berstandar hidup rendah, bertingkat kemiskinan tinggi, skala
korupsinya masif, tingkat anak balita gizi buruk tinggi, rendah layanan
dana kesehatan, rentan gegar ekonomi, dan kerap dilanda perang sipil.
Kebenaran kesimpulan studi itu beberapa terlihat jelas di Indonesia.

Legalisasi penghancuran

Pilihan sadar pemerintah bergantung kepada industri tambang diawali
dengan kelahiran Undang-Undang Penanaman Modal Asing Nomor 1 Tahun 1967,
disusul penerbitan Kontrak Karya PT Freeport, serta UU Pertambangan No
11/1967. Sejak itu, ribuan izin pertambangan kontrak karya, kontrak
karya batu bara, dan kuasa pertambangan (KP) dikeluarkan pemerintah.
Semangat obral bahan tambang begitu kental mewarnai kebijakan saat itu.
Ironisnya, semangat serupa masih kental mewarnai kebijakan pemerintah
saat ini.

Pemerintah atas nama pendapatan negara dan pendapatan asli daerah (PAD)
menjadi sangat agresif mengeluarkan izin tambang. Pendapat dan keberatan
rakyat atau pertimbangan rasional lain kerap diabaikan. Dalam lima tahun
terakhir, jumlah KP bertambah dan kegiatan pertambangan ilegal menjamur.
Tak terkendali.

Rekor tertinggi pengeluaran izin tambang dipegang Provinsi Kalimantan
Timur. Total KP batu bara yang diterbitkan di Kalimantan sebanyak 2.225
izin ( Kompas, 25/1).

Jika Kalimantan menjadikan batu bara sebagai komoditas buruan penambang,
Sulawesi memilih emas dan nikel sebagai target utamanya. Walhi mencatat,
lebih dari 429 KP dikeluarkan pemerintah kabupaten di Sulawesi Tengah
dan Sulawesi Tenggara. Penambang di Nusa Tenggara Timur memburu mangan,
emas, dan bijih besi.

Di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat penambangan mangan mengancam
daerah tangkapan air, yang sejak Orde Baru dikelola lewat dana utang
dari Jepang senilai 167 juta dollar Amerika Serikat (AS) untuk Manggarai
Water Investment Project. Kini, sebagian daerah tangkapan air itu
dirusak tambang mangan, yang sumbangannya kepada PAD tak lebih dari Rp
300 juta per tahun. Sungguh pilihan yang tak masuk akal.

Keberanian Presiden

Hampir semua kabupaten mengeluarkan izin tambang. Pulau kecil seperti
Gag, Lembata, serta Karimun tengah dan akan dikeruk. Pemerintah pusat
mengubah pula banyak kebijakan agar perusahaan asing dapat terus
menambang. Penambangan ilegal pun terus meningkat. Di sisi lain,
sebagian besar produksi tambang Indonesia ditujukan bagi kebutuhan
negara lain. Hampir seluruh produksi batu bara Kalimantan dikirim ke
luar pulau. Tiap tahun, Kalimantan mengirim 99 juta ton batu bara ke
Jepang dan Korea, 11 juta ton (Eropa), 600.000 ton (Afrika), 400.000 ton
(Selandia Baru), serta 800.000 ton (AS dan Amerika Selatan).

Melalui pendekatan kebijakan pembangunan berkarakter merusak, Indonesia
berlari menyongsong kebangkrutannya. Daya rusak tambang meningkat
seiring dengan pertambahan izin yang dikeluarkan. Indonesia juga
terancam menghadapi kelangkaan batu bara dan bahan tambang lain karena
eksploitasi berlebihan. UU Mineral dan Batu Bara No 4/2009 secara sadar
tak mengatur langkah antisipatif terhadap krisis tak terhindarkan.

Belajar dari kebobrokan tata-kelola kekayaan alam Kalimantan, Presiden
mestinya segera mengambil langkah tegas mencegah meluasnya kerusakan
Kalimantan dan pulau lain. Ia harus segera menyatakan moratorium
penerbitan perizinan tambang serta mengevaluasi dan melakukan legal
audit terhadap semua izin yang telah terbit.

Pada saat yang sama, ambang toleransi tambang sesuai kebutuhan riil
dalam negeri harus dihitung. Presiden sebaiknya tegas mencabut izin
tambang yang sangat mengancam, dan mewajibkan pelaku industri tambang
memulihkan sosial-ekologis wilayah-wilayah keruk. Tanpa langkah itu,
tepatlah disebut saat ini negara tengah memimpin perusakan Ibu Pertiwi
melalui kebijakan dan rezim perizinan pertambangan.

Chalid Muhammad Ketua Institut Hijau Indonesia dan Direktur Walhi
(2005-2008)

.

__,_._,___

Refleksi 63 Tahun HMI

Refleksi
63 Tahun HMI
HMI dan Agenda Strategis Bangsa
Oleh Arip Musthopa
Ketua Umum PB HMI
2008-2010

Hari ini, 63 tahun sudah Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI) berkiprah. Terpaut hanya delapan belas bulan lebih muda dari
usia NKRI. Bernafaskan keindonesiaan dan keislaman, HMI menjadi saksi sejarah
perjalanan republik. Jatuh-bangun mulai era revolusi fisik, demokrasi
parlementer, demokrasi terpimpin, orde baru, hingga era reformasi. Setiap era,
HMI senantiasa berupaya memberikan kontribusi yang terbaik kepada republik.
Menjadi bagian penting dari tiap perubahan besar yang terjadi.
Namun tidak ada gading yang tak
retak. Selalu ada kelemahan dan kekurangan. Hal positif yang menjadi modal HMI,
tak jera untuk terus mencoba. Layaknya insan akademis yang selalu haus untuk trial
and error. Apalagi status mahasiswa cukup membantu menjadi cover, toh kesalahan tidak melulu bermakna kehancuran.
Kiprah alumni HMI yang eksis di
banyak sektor kehidupan berbangsa dan bernegara menandakan 'anak-anak' HMI
mampu survive. Memang HMI dikenal memiliki daya adaptasi yang tinggi dan
tak mudah menyerah menghadapi segala kesulitan. Motto 'yakin usaha sampai'
mendarah-daging dalam jiwa kader HMI.
***
Semangat memberi yang terbaik
untuk republik, tak takut mencoba dan salah, serta optimisme yakin usaha
sampai, kini kami rasakan menggelora dalam sanubari kader menjelang usia HMI
ke-63. Suatu spirit positif yang dibutuhkan bukan saja untuk kemajuan, namun
juga peradaban. Spirit positif tersebut adalah aset berharga yang memungkinkan
kader HMI bangga mengibarkan benderanya. Menjadikan alumni HMI tidak tertunduk
lesu untuk mengaku sebagai alumni. Lantas, kemana energi besar ini harus
disalurkan?
Di tengah kondisi bangsa yang
dibayang-bayangi krisis politik saat ini, HMI dituntut untuk tetap kritis dan
bersuara lantang tanpa harus kehilangan pijakan intelektual. Oleh karena itu,
HMI harus meletakkan sikap dan aksinya dalam koridor agenda-agenda strategis
bangsa Indonesia. Tidak terjebak pada fenomena sesaat dan tarian pihak lain
yang belum tentu sejalan dengan kejatidirian HMI itu sendiri.
Agenda strategis bangsa tersebut
adalah pertama, pembangunan karakter bangsa (nation character building).
Kita telah memilih untuk demokrasi yang pilarnya adalah regulasi (UUD 1945
hasil amandemen) dan iklim kebebasan. Konsensus bangsa telah memilihnya dan
sekali layar terkembang surut kita berpantang.
Memang ada nada sumir yang
meragukan demokrasi cocok bagi Indonesia, atau bukan seperti ini demokrasi yang
kita mau. Namun, demokrasi adalah proses, tak mendadak sontak terwujud.
Kelebihannya, demokrasi memungkinkan pelibatan pelaku dalam proses secara
massif. Sehingga proses dan pembelajaran bukan hanya milik elit, namun juga
rakyat.
Pasti ada jeleknya, proses
menjadi lebih riuh dan potensi liar yang tinggi. Kemajuan bisa melambat,
ketidakpastian juga bisa meninggi dan menciutkan nyali. Namun itulah tantangan
sebuah pembelajaran kolektif atas nama demokrasi. Selama mekanisme checks
and balances berjalan berbasiskan akal sehat, tak perlu khawatir demokrasi
menjerumuskan. Bila telah sampai pada titik kesetimbangannya, kemajuan eksponensial
bukanlah mimpi yang utopis.
Kedua, menjadikan negara
fokus pada national interest-nya. Dalam hal ini kerapkali kita temukan kebijakan Negara yang tidak
menjurus pada kepentingan nasionalnya. Secara gamblang kepentingan nasional
adalah mewujudkan tujuan bernegara sebagaimana termaktub dalam alinea ke-4 Pembukaan
UUD 1945. Disana disebutkan bahwa tujuan kita adalah 'membentuk suatu
Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia'.
Analisa-analisa kritis
menunjukkan bahwa kita belum memiliki Pemerintah Negara yang mencerminkan apa
yang diinginkan konstitusi. Alih-alih berada pada posisi tersebut, malah
diidentikkan menjadi kepanjangan tangan kepentingan asing. Adalah tugas
komponen bangsa yang tercerahkan untuk terus berbisik, berteriak, hingga
tindakan konstitusional pada pemerintah agar mengedepankan pewujudan
kepentingan nasional.
Meski tidak mesti diposisikan
diametral antara kepentingan nasional dan kepentingan asing, pengarusutamaan
kepentingan nasional wajib hukumnya. Masuknya kepentingan asing dimungkinkan
sejauh itu sejalan atau mendukung kepentingan nasional. Perspektif ini harus clear dalam setiap kebijakan Negara.
Globalisasi dan tanda-tanda
pergeseran konstelasi global di awal abad XXI saat ini, menunjukkan intensitas
lobi Negara-negara industri besar. Indonesia menjadi medan pertarungan yang
sengit antara Amerika Serikat, Jepang, China, Korea, dan Uni Eropa. Kondisi
tersebut mudah menenggelamkan kepentingan nasional dan mendudukkan kepentingan
asing menjadi yang utama.
Ketiga, menjadikan bangsa
Indonesia kompatibel menghadapi tantangan abad XXI. Abad XXI memiliki anasirnya
tersendiri dibandingkan dengan abad XX dan abad-abad sebelumnya. Meski selalu
ada yang sama dalam setiap abad, niscaya selalu lebih banyak yang berbeda di
masing-masing abad.
Konstelasi geo-ekonomi-politik
global, perbenturan antar peradaban tua, perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, perjanjian-perjanjian internasional, dan peristiwa-peristiwa besar
di tingkat global dan regional adalah yang akan membentuk perwajahan abad XXI.
Sejarah mencatat bahwa dinamika global antara pra Perang Dunia (PD) I hingga
pasca PD II mampu dimanfaatkan generasi muda bangsa ketika itu untuk merumuskan
kelahiran bangsa dan Negara Indonesia.
Kini telah 100 tahun dari masa
itu, mampukah generasi bangsa saat ini, khususnya kaum muda, merumuskan dan
mendirikan pilar-pilar bagi kebangkitan bangsa selanjutnya? Sehingga apa yang
menjadi janji-janji kemerdekaan, apa yang menjadi raison d'être kita
membentuk Negara-bangsa bernama Indonesia menjadi kian dekat tergapai.
Abad XXI kerapkali digambarkan
sebagai era kebangkitan bangsa-bangsa Asia. Negara-negara di Asia Timur seperti
Jepang, China, Korea, dan Taiwan serta
India di Asia Selatan dinisbatkan akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia.
PDB dunia sebagian besar akan dikontribusi kawasan ini. Pertanyaannya, dimana
letak Indonesia dalam konstelasi tersebut?
Dengan potensi SDA melimpah dan
SDM yang besar sepatutnya kita menjadi emerging forces baik di tingkat kawasan
maupun global. Namun keunggulan komparatif tersebut tidak banyak bicara kecuali
dilengkapi dengan keunggulan kompetitif: penguasaan IPTEK dan SDM yang mumpuni.
***
Akhirnya, usia 63 tahun bukanlah
usia yang muda dan bukan juga senja untuk sebuah organisasi. Namun sudah lebih
dari cukup untuk meneguhkan kedewasaan dan kematangan dalam menyikapi zaman.
Ada ungkapan Nabi dimana adalah orang yang merugi apabila hari esok tidak lebih
baik dari hari ini dan hari kemarin.
Maka terus bergeraklah HMI, jejakkan
langkah-langkah mengharumkan di tengah gelombang dinamika yang terkadang insight-nya
tidak tampil kasatmata. InsyaAllah dengan niatan memberi yang terbaik, berani
mencoba dan salah, serta optimisme yakin
usaha sampai, penempatan historis yang manis akan kau raih. Dirgahayu HMI
ke-63. Wallahu a' lam bishshawab.

.

__,_._,___

Kamis, 04 Februari 2010

Belajar dari RRC?

Belakangan ini bukan hanya kita yang merasa dipecindangi oleh kekuatan ekonomi RRC, tetapi AS yang adidaya itu pun kewalahan dan terjungkir!

Ja, kita pun mendengar suara: Belajarlah dari RRC!

Let us be serious, sobat sekalian!

Ketika RRC di bawah Deng membuka beberapa Zone Perdagangan Bebas, negerinya sedang menyiapkan perangkat sistem ekonomi yang sama sekali baru. Sistem yang lama kita sudah tahu: Ekonomi Komunis!

Apa yang baru ini?

Syahdan, diundanglah seorang profesor ekonomi Amerika menghadap petinggi RRC.Dia diminta mengajar Ilmu Ekonomi di RRC. Dengan terheran-heran sang profesor menjawab permintaan itu: "Tapi saya tidak tahu apa itu ekonomi sosialis, apa itu ekonomi Komunis, Marxisme, dan semacamnya. Saya hanya punya Ilmu Ekonomi Kapitalis,
ekonomi pasar bebas, itu saja!"

Jawaban petinggi negara RRC itu menambah keheranan sang profesor: "Ilmu ekonomi itulah yang kami minta Anda mengajarkannya di RRC!"

Walhasil sang profesor pun mengajarkan Ilmu Ekonomi Kapitalis itu di Universitas Nanjing, RRC. (Deja Vu? RRC meniru Indonesia! Sebab, Profesor yang mengajar di RRC itu adalah juga yang pernah mengajar di Indonesia!)

Hasilnya? Ya, Anda lihat sendirilah! Pertumbuhan ekonomi melonjak pesat di sana! Bahkan akhirnya berhasil membuat AS terpukul oleh krisis moneter dan ekonomi, bukan? RRC, India, Brazil, Afrika Selatan merupakan kekuatan ekonomi baru di dunia, sekarang!

Kembali ke RRC, karena kita mau belajar dari RRC, bukan?

Kalaun sistem ekonominya berdasarkan sistem pasar bebas atau Kapitalisme Ne-liberal itu, bagaimana dengan sistem politiknya?

Ternyata sistem politiknya masih tetap Komunisme yang tergolong Komunisme itulah: sistem satu partai, tanpa demokrasi dan HAM, alias diktator. Kenapa?

Kalau Kapitalisme menjamin terjadinya pertumbuhan ekonomi, tapi tidak menjamin adanya perangkat sistem pemerataan. Maka sistem politik Sosialisme atau Komunisme diyakini akan memberikan pemerataan.

Karena itulah RRC juga duikenal negeri yang menggunakan dua sistem: sistem ekonomi kapitalis dan sistem politik sosialis/komunis. Kedua sistem yang itulah yang dikawinkan di sana.

Tapi sistem politik seperti di RRC itu tidak pas untuk Indonesia, karena negeri kita menganut Pancasila yang salah satu silanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan juga ada sila yang menjamin demokrasi. Sedangkan sila Keadilan Sosial menuntut adanya pemerataan ekonomi, ada juga Kemanusiaan yang beradab menjamin adanya HAM, bukan? Nah, singkatnya, bagaimana menyusun suatu sistem politik yang sesuai dengan semua sila yang ada di dalam Pancasila itu?

Jadi, kalau RRC berhasil menggenjot pertumbuhan ekonomi dengan sistem Kapitalisme, muntgkin sekali kita hendaknya mempertahankan sistem ini juga demi pertumbuhan ekonomi! Tapi sistem politik kita tentu saja tidak bisa menyontek dari RRC, karena Komunisme itu tidak bisa cocok dengan Pancasila.

Jadi, pertanyaan kita adalah bagaimana mengawinkan Sistem Ekonomi Kapitalis itu dengan Sistem Politik Pancasila --- begitulah, kalau kita mau belajar dari suksesnya RRC.

Ikra.-
======

.

__,_._,___