Minggu, 07 November 2010

Renungan

meureun maksudna teh kieu: "ti iwung nungtung ka padung, ti kanteh dugi ka boeh,"
ngagambarkeun lalakon hirup manusa ti borojol gubrag ka alam dunya nepi ka dikurungan padung
dikubur diurugan taneuh beureum. persis jiga lalakon tangkal awi, ti borojol jadi iwung nu sok disayur
atawa diurab, panungtunganana mah dijadikeun padung keur ngurebkeun mayit. kitu deui lalakon
kanteh alias bola alias benang, diuntuy-untuy tungtungna jadi boeh keur bungkus mayit.

tah saterusna mah, bisa dirarampa,kumaha maksudna eta papatah.

 

"mutiara kata" alias "quote" dina basa sunda sok mindeng kapanggih di paguron silat.
sakadar conto:

"Ti Iwung Nungtung Ka Padung,
Ti Kanteh Dugi Ka Boeh,
Diajar Hirup Nu Teu Mawa Ceda,
Lir Ibarat Sinar Mustika,
Bari Nyusul Nu Ngaliwat,
Malikeun Panyangka Nu Sulaya,
Ngabagi Bagja Kanu Sangsara"

Kamis, 04 November 2010

Seni Kuda Renggong Dalam Masyarakat Sumedang

 

Kuda renggong ayeuna laguna mobil butut, talak tilu  jeung sajabana, pokona mah anu keur in disebutna lagu bangreng.

Sok ningalikeun ngalatih suku kuda sangkan leumpangna jadi acred acredan nyaeta bari ditungtun titukang terus sukuna ku dirintangan ku cocolek/iteuk.

 

Baheula ngaran kuda renggong anu tenar nyaeta si dinar

 

Masyarakat jawa barat, terutama kabupaten sumedang, mengenal yang namanya kesenian kuda renggong dalam kehidupan keseharian masyarakatnya. Kuda renggong merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat. Kata renggong di dalam kesenian ini merupakan metatesis dari kata ronggeng, yaitu kamonesan (bahasa Sunda untuk "keterampilan") cara berjalan kuda yang telah dilatih untuk menari mengikuti irama musik, terutama kendang, yang biasanya dipakai sebagai media tunggangan dalam arak-arakan anak sunat.

Berdasarkan literatur sejarah, lahirnya kesenian kuda renggong di Kabupaten Sumedang mulai muncul sekitar tahun 1910. Awalnya, Pangeran Aria Suriaatmaja yang memerintah Kabupaten Sumedang selama 37 tahun (1882-1919) berusaha untuk memajukan bidang peternakan. Pangeran Suriaatmaja sengaja mendatangkan bibit kuda unggul dari Pulau Sumba dan Sumbawa. Selain digunakan sebagai alat transportasi bangsawan, pada masa tersebut kuda juga sering difungsikan sebagai pacuan kuda dan alat hiburan.

Mulai tahun 1910 hingga sekarang, kuda renggong secara tradisional sering dipertontonkan pada acara khitan/sunatan. Sebelum seorang anak dikhitan, sang anak diarak mengelilingi kota di atas punggung kuda renggong diikuti oleh anggota keluarga dan kerabat dekat yang ikut menari di depanya dan berkeliling dari satu desa ke desa lainya. Lalu dengan berpakaian wayang tokoh Gatotkaca, dinaikkan ke atas kuda renggong lalu diarak meninggalkan rumahnya berkeliling mengelilingi desa. Musik pengiring dengan penuh semangat mengiringi sambung-menyambung dengan tembang-tembang yang dipilih, antara lain Kaleked, Mojang Geulis, Rayak-rayak, Ole-ole Bandung, Kembang Beureum.

Sepanjang jalan, kuda renggong bergerak menari dikelilingi oleh sejumlah orang yang terdiri atas anak-anak dan remaja desa, bahkan orang-orang tua yang mengikuti irama musik. Setelah berkeliling desa, rombongan kuda renggong kembali ke rumah anak sunat, biasanya diiringi dengan lagu "Pileuleuyan" (perpisahan). Ketika anak sunat selesai diturunkan dari kuda renggong, biasanya dilanjutkan dengan acara saweran (menaburkan uang logam dan beras putih) yang menjadi acara yang ditunggu-tunggu, terutama oleh anak-anak desa.

Menurut Euis Suhaenah, dosen tari STSI Bandung, kesenian kuda renggong menjadi kesenian yang sarat akan nilai filosofis. Mengajak kuda merayakan bersama pesta untuk mengantarkan seorang anak ke gerbang kedewasaannya. Doa dipanjatkan melalui lagu anak berpakaian Gatotkaca, seorang ksatria yang gagah berani mati untuk negara dan sangat patuh pada orang tua. Ada satu kuda dikosongkan untuk tunggangan para karuhun (nenek moyang atau sesepuh) yang telah tiada untuk ikut serta mengantar sang anak menuju gerbang kedewasaan dan mengemban tanggung jawab yang lebih besar.

Di sisi lain, para seniman mengungkapkan semangat yang disampaikan kesenian kuda renggong merupakan rangkaian upacara inisiasi (pendewasaan) dari seorang anak laki-laki yang disunat. Kekuatan kuda renggong yang tampil akan membekas di sanubari anak sunat, juga pemakaian kostum tokoh wayang Gatotkaca yang dikenal sebagai figur pahlawan.

Dalam perkembangannya, kesenian kuda renggong terus mengalami perkembangan, sumedang sebagai salah satu simbol kesenian kuda renggong pun tak juga lepas dari pengaruh tersebut. salah satu yang paling disorot adalah iringan lagu dalam pementasaan, pada substansinya penggunanan lagu iringan tersebut merupakan sekaligus panjatan doa kepada Sang Pencipta, tetapi pada masa kini pementasaan kuda rengggong tak jarang menggunakan lagu-lagu yang jauh dari makna doa itu sendiri. Akan tetapi, kuda renggong sebagai salah satu simbol daerah Sumedang tentunya patut terus dijaga kemurniaannya sebagai salah satu warisan kesenian leluhur yang sarat dengan makna filosofis kepada Sang Pencipta. (Ardinanda, mahasiswa Unpad)***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=162770

 

Rabu, 03 November 2010

10 Ikan Tercepat di Dunia

 

10 Ikan Tercepat di Dunia

 

 

1. Sailfish, max. recorded speed = 110 kilometer perjam

Spoiler for ikan: [Show]

Image removed by sender.


2. Marlin, max. recorded speed = 80 kilometer perjam

Spoiler for ikan: [Show]

Image removed by sender.


3. Wahoo, max. recorded speed = 78 kilometer perjam

Spoiler for ikan: [Show]

Image removed by sender.


4. Tunny, max. recorded speed = 74 kilometer perjam

Spoiler for ikan: [Show]

Image removed by sender.


5. Bluefish tuna, max. recorded speed = 70 kilometer perjam

Spoiler for ikan: [Show]

Image removed by sender.


6. Great blue shark, max. recorded speed = 69 kilometer perjam

Spoiler for ikan: [Show]

Image removed by sender.


7. Bonefish, max. recorded speed = 64 kilometer perjam

Spoiler for ikan: [Show]

Image removed by sender.


8. Swordfish, max. recorded speed = 64 kilometer perjam

Spoiler for ikan: [Show]

Image removed by sender.


9. Four-winged flying fish, max. recorded speed = 56 kilometer perjam

Spoiler for ikan: [Show]

Image removed by sender.


10. Tarpon, max. recorded speed = 56 kilometer perjam

Spoiler for ikan: [Show]

Image removed by sender.

 

 

__._,_.___

Senin, 01 November 2010

RENUNGAN

Koreksi lagi. Yang benar "nglurug" (menyerang dengan banyak
balatentara) bukan "ngluruk" (ini bisa berarti berkokok : keluruk
seperti ayam jago). Basa Jawa tidak punya huruf A tetapi ditulis Ha.
Cara pembacaan tetap A. Misalnya Hangkara (tulisan) tetap dibaca
Angkara, kecuali ada penekanan untuk membuat artinya lebih serius.
Ambeg bisa dibaca Hambeg (dengan tekanan), Ibu dapat dibaca Hibu (jika
emosi terlibat, misalnya ketika Gatutkaca pamitan pralaya pada
Arimbi-ibunya) Amengku bisa dibaca Hamengku untuk memperdalam arti.
Yang terakhir ini juga ada permainan arti yang dalam :" hamengku
(menguasai tidak secara fisik), hamangku (memangku), hamengkoni
(menguasai secara legal dan bertanggung jawab)".

On 11/1/10, rusdian lubis <rusdianlubis@gmail.com> wrote:
> Yang benar ejaannya "urub" (nyala), kalau "urup" bisa berarti hanya
> lebih sedikit dari "break event". Bahasa jawa banyak menggunakan
> "oenomatopeia" atau juga perubahan arti karena perubahan vokal atau
> konsonan. Yang klasik misalnya : "hening, heneng (e spt e dlm kaleng),
> dan heneng ( e pepet)" untuk menunjukkan status meditasi, atau "
> gandang, gending, gendeng, gendeng" untuk menunjukkan syarat kualitas
> dalang. Sayang, penutur bahasa Jawa dan bahasa nusantara lain yang
> amat indah ini makin sedikit. Biarpun dirumah kami pakai bahasa Jawa,
> anak-anak saya yang tinggal belasan tahun di LN cuma bisa "ngoko"
> itupun gaya Suroboyo an.
>

RENUNGAN

1. URIP IKU URUP

[Hidup itu nyala, hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di
sekitar kita]

2. MEMAYU HAYUNING BAWANA, AMBRASTA DUR HANGKARA

[Harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan serta
memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak]

3. SURA DIRA JAYA JAYANINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI

[Segala sifat keras hati, picik, angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan
sikap bijak, lembut hati dan sabar]

4. NGLURUK TANPA BALA, MENANG TANPA NGASORAKE, SEKTI TANPA AJI-AJI, SUGIH
TANPA BANDHA

[Berjuang tanpa perlu membawa massa, Menang tanpa merendahkan/mempermalukan,
Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan/kekuatan/kekayaan/keturunan, Kaya
tanpa didasari hal2 yg bersifat materi]

5. DATAN SERIK LAMUN KETAMAN, DATAN SUSAH LAMUN KELANGAN

[Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, Jangan sedih
manakala kehilangan sesuatu]

6. AJA GUMUNAN, AJA GETUNAN, AJA KAGETAN, AJA ALEMAN

[Jangan mudah terheran-heran, Jangan mudah menyesal, Jangan mudah terkejut
dgn sesuatu, Jangan kolokan atau manja]

7. AJA KETUNGKUL MARANG KALUNGGUHAN, KADONYAN LAN KEMAREMAN

[Janganlah terobsesi atau terkungkung dengan kedudukan, materi dan kepuasan
duniawi]

8. AJA KUMINTER MUNDAK KEBLINGER, AJA CIDRA MUNDAK CILAKA

[Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, Jangan suka berbuat
curang agar tidak celaka]

9. AJA MILIK BARANG KANG MELOK, AJA MANGRO MUNDAK KENDHO

[Jangan tergiur oleh hal2 yg tampak mewah, cantik, indah dan jangan berfikir
gamang/plin-plan agar tidak kendor niat dan kendor semangat]

10. AJA ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA

[Jangan sok kuasa, sok besar/kaya, sok sakti]....


Tambahan:

Angkara gung
Neng angga-anggung gumulung
Gogolonganira
Tri loka lekere kongsi
Yen den umbar ambabar dadi rubeda

diartikan secara bebas...

Sebuah keserakahan itu sifatnya merasa selalu kurang, sekali terlibat akan
terus membesar sampai sampai menutup semua hal. pikiran, perasaan dan
harapan tertutupi dengan keserakahan, apabila diteruskan akan
menyebabkan sebuah permasalahan yang sangat besar.


Salam cinta penuh do'a yang tak putus,

Maya Suswati