Minggu, 11 April 2010

"Buku untuk Bangsa"

Buku untuk Bangsa
Sambutan Launching Dua Buku di JMC, 09 April 2010)
Oleh
Indra Jaya Piliang

Assalamu'alaikum Wr Wb.

Hari ini, Jum'at, 09 April 2010, adalah tepat setahun pelaksanaan pemilu legislatif. Artinya, empat tahun dari sekarang akan diadakan pemilu lagi. Waktu yang pendek untuk membenahi banyak hal yang terasa carut-marut dalam pemilu lalu. Mudah-mudahan, tahun ini juga akan dimulai proses revisi terhadap paket undang-undang bidang politik. Apabila tahun depan revisi itu selesai, maka proses sosialisasi dan pembuatan peraturan-perundangan lainnya juga membutuhkan waktu.

Banyak yang bertanya kepada saya, kenapa menerbitkan sebuah memoar, apalagi memoar tentang kekalahan. Ada juga yang menyeringai dan mungkin sampai sekarang tetap mencibirkan kehadiran buku setebal 591 halaman ini. Untuk menunjukkan bahwa saya juga menulis selain memoar, kehadiran buku "Bouraq-Singa Kontra Garuda" juga berjejer sebagai pendamping.

Ijinkan saya menjawab pertanyaan itu hari ini. Buku yang saya tulis selama kurang lebih enam bulan ini adalah bagian dari potret demi potret dalam layar kehidupan seorang anak bangsa. Potret yang juga dimiliki oleh orang lain, dengan beragam profesi. Buku yang sebetulnya tertunduk malu kepada pendiri-pendiri bangsa, kepada para penulis cum politisi, kepada buku-buku lapuk dimakan usia yang berisi ungkapan cerdas penuh makna tentang perjuangan politik yang berujung kepada kemerdekaan, pasca-kemerdekaan, peri-kemanusiaan dan peri-keadilan. Mereka menulis jauh lebih muda umurnya dari saya.

Kenapa memoar? Kalau hanya sekadar pikiran-pikiran tentang masalah-masalah besar bangsa ini, saya kira banyak kaum intelektual sudah menuliskannya. Pikiran-pikiran besar yang bisa dikutip dari text-book manapun. Seorang politikus, di negara manapun, tidaklah dinilai begitu saja dari apa yang dia pikirkan, melainkan apa yang sudah dia lewati dan lalui. Rekam-jejak politikus lebih banyak dikaitkan dengan proses yang sudah dijalankan dalam hidup, ketimbang impian-impian besarnya tentang Indonesia dan masa depan.

Hadirin Yang Terhormat

Sepuluh hari lagi saya berusia 38 tahun. Kalau dibandingkan dengan usia Soekarno, itulah era tahun 1939 yang penuh gejolak dan harapan, mengingat Soekarno lahir tahun 1901. Tiga tahun setelah itu, Pak Jusuf Kalla lahir di Watampone, tanggal 15 Mei 1942, ketika balatentara Jepang mulai mengintip kekayaan alam Indonesia dan mulai berjalan dengan kaki-kaki pendeknya. Tahun 1980, ketika Pak JK seumur saya, adalah masa-masa yang sibuk dengan kegiatan ekonomi dalam bonanza dan lautan minyak.

Kalau dibandingkan antara Soekarno dan Pak JK dengan saya, maka saya dan Soekarno lebih duluan masuk dunia politik. Setahu saya, Pak JK baru mulai bersentuhan dengan Golkar pada tahun 1984 di usia 42 tahun, bersama dengan Bang Fahmi Idris dan kawan-kawan. Atau mungkin Pak JK masuk lebih ke belakang lagi, sekitar akhir tahun 1980-an.

Soekarno sudah menulis banyak sekali buku sebelum berusia 38 tahun. Buku-buku yang lahir di penjara, pengadilan dan diskusi lintas-aliran. Konon, Soekarno membaca lebih kurang 70.000 buku selama hidupnya atau sekitar 1.000 buku per tahun. Mungkin jumlah itu terlalu besar akibat bisikan dan doktrin sejumlah senior ketika saya menjadi mahasiswa. Katakanlah Soekarno membaca 7.000 buku atau 100 buku per tahun, tetap saja jumlah buku di Indonesia terlalu sedikit. Dan sebagian besar buku di Indonesia, apalagi buku-buku politik, masuk kategori buku-buku langka. Ada apa?

Saya tidak ingin mengutuk itu. Sebagai politikus, saya harus melakukan sesuatu. Kehadiran dua buku pada hari ini adalah bentuk dari "sesuatu" itu. Politisi harus lebih banyak bekerja dan berbuat, ketimbang mengutuk keadaan. Sekalipun saya bukanlah seorang pejabat publik yang menghuni kursi di parlemen atau pemerintah, tetap saja tanggungjawab sebagai politisi akan hinggap di pundak saya sampai akhir hayat nanti.

Tentu ada alasan yang lebih kuat, yakni saya tidak bisa memasang iklan. Kini berkembang pemikiran bahwa untuk menjadi ketua umum partai politik, anda harus memasang dan membuat iklan banyak-banyak. Kata-kata yang pendek dan dangkal diulang-ulang. Bagi saya, itu adalah pembodohan. Biarkan media melakukan tugasnya. Kalau memang ingin menjadi pemimpin sebuah partai – apalagi menjadi pemimpin bangsa ini – maka tulislah buku. Dengan buku, banyak hal yang bisa anda katakan.

Jadi, saya menolak mengatakan sedang memulai sebuah tradisi baru di kalangan politisi, yakni dengan menulis buku. Yang lebih tepat adalah saya mengulangi lagi apa yang pernah dilakukan oleh pendiri bangsa Indonesia yang mayoritas terdiri dari para penulis dan pemikir. Tidak ada jenderal yang ikut-ikutan mendirikan negara Republik Indonesia. Kalaupun ada yang berasal dari luar kalangan dunia intelektual, ya, mereka dikenal sebagai saudagar, organisatoris lembaga sosial kemasyarakatan dan tokoh-tokoh yang berasal dari kerajaan-kerajaan pra-Indonesia.

Hadirin Yang Mulia

Tentang isi buku saya, tentu akan ada perdebatan. Silakan saja. Kecuali kesalahan penulisan nama, alamat, pekerjaan atau kesalahan-kesalahan teknis lainnya, Insya Allah akan saya perbaiki di edisi berikutnya. Terlalu banyak nama yang saya tulis dalam buku, terutama buku memoar, bahkan belum semuanya terisi di halaman index. Biarlah saya menjadi si buta dan si tuli, menyangkut apapun persepsi pembaca menyangkut isi buku. Saya tidak akan membelanya. Kecuali ada orang-orang yang ingin melarang peredarannya atau membakarnya, tentu saya akan melawan.

Saya menulis puisi untuk kedua buku ini:

Naskah Biru-Hitam
: utk MMO & BSKG

Ada yang lahir, ada yang mati
Ada yang menangis, ada yang tertawa
Ada yang fana, ada yang abadi

Padamu, tertumpuk seluruh rasa, seluruh bahasa
Tentang hidup, derita, cerita, berita
Bahkan kabar-kabar kepedihan
Senyum tulus persahabatan
Hunus pedang, hunus kelewang
Busa-busa kata, kata-kata berbisa

Kamu, kalian, bukanlah pelarian
Tapi tujuan
Terawang cahaya dunia bisu
Butir-butir ilmu samudera waktu

Kulepas kalian
Ke alam bebas
Di genggaman orang-orang
Berteman lampu, lilin, petromak atau matahari siang

Tidurlah, lelaplah
Lupakan bahwa kita pernah bermalam-malam
Sejak dini hari ke dini hari
Berbulan-bulan
Bersama-sama bekerja ntuk saling memberi-menerima

Kupungut kau, kalian, dari tanda-tanda langit
Kau sapa aku, pandangi tombol-tombol huruf dan angka di laptopku,' ntuk gerakkan tangan dan jariku
Selain kata, kau dan kalian, apalagi yang hadir dalam kenisbian?
Selamat jalan...

Jakarta, 11 Maret 2010

Dengan buku ini, saya mencoba memulai langkah-langkah kecil. Ibarat rumah yang diterjang gempa, maka dunia politik juga lagi sedang runtuh-runtuhnya. Party Id hanya sekitar 20-an persen, kecuali mendekati pemilu legislatif. Dunia politik seakan dunia yang sunyi dan magis, hanya dipenuhi oleh dedemit, gendoruwo, sihir sampai dukun. Langkah pertama saya untuk merasionalisirnya dimulai dengan menyampaikan semacam pidato di Universitas Paramadina pada tanggal 06 Agustus 2008. Pidato yang menegaskan bahwa saya bukan lagi seorang yang netral. Saya berpihak, parsial dan tidak lagi independen. Saya memanjat akar licin yang menjuntai pada dahan dan batang pohon beringin.

Buku ini juga bagian dari langkah kecil itu. Sebuah pertanggung-jawaban kepada publik tepat setahun usai pemilu. Sejumlah cerita dari dunia dalam bagi masyarakat awam. Juga beragam pengalaman dan pengetahuan baru tentang masyarakat, terutama di Sumatera Barat. Sungguh, untuk pengalaman itu, saya berterima kasih kepada siapapun yang sudah berinteraksi dengan saya. Tentu yang pertama kepada Pak Jusuf Kalla dan yang kedua dan seterusnya untuk yang lain.

Pak JK bagi saya hari ini adalah seorang guru olah pikir. Ada bagian yang saya tidak tuliskan dalam buku soal ini. Entah kenapa, saya menjadi lupa. Nanti saya hadirkan dalam edisi revisi. Padahal, menurut saya, itulah fase kelahiran bagi seorang JK yang baru yang kemudian menyingsingkan lengan baju: lebih cepat, lebih baik. Apa itu? Biar Pak JK yang menceritakannya. Yang saya tahu, Pak JK menjadi lebih cepat dan lebih baik, setelah migren di kepalanya tidak lagi mengganggu, lewat sebuah operasi di rumah sakit terbaik di planet bumi ini yag terapung di tengah galaxy.

Hadirin Yang Mulai Bosan

Sampailah saya pada akhir pidato pendek berjudul "Buku untuk Bangsa" ini dengan menyampaikan sebuah lampiran. Lampiran yang sampai hari ini tidak terawasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, Badan Pengawas Pemilu atau PPATK. Apa itu? Dana kampanye pribadi saya. Inipun luput ditulis dalam buku, sekalipun saya memiliki datanya. Sebagai politisi, saya diajarkan untuk menyiasati Undang-Undang. Tidak ada kewajiban yuridis yang harus saya penuhi untuk menyebutkan biaya pribadi kampanye saya.

Karena itu juga, saya tidak akan bercerita sedetik-detiknya. Biar saya menyebut saja garis besarnya. Bukankah ini sebuah awal saja? Bagi saya, salah satu ukuran bagi seorang politisi adalah seberapa banyak ia menyumbang, bukan seberapa banyak ia menyumbang dengan anggaran pribadi. Siapapun bisa menjadi politisi dengan bermodalkan uang. Semakin banyak seorang politisi disumbang, semakin ia memiliki tanggungjawab sosial kepada masyarakatnya.

Sampai tanggal 09 April 2009 lalu, saya menghabiskan anggaran sebesar lebih dari Rp. 1 Milyar. 30% lebih dana itu berasal dari anggaran pribadi saya, termasuk uang pensiun dari CSIS. 25% disumbangkan oleh seorang pengusaha yang mungkin sadar bahwa saya adalah anak yang lucu yang lagi jumpalitan di jorong, korong dan nagari. 10% dana itu berasal dari seorang menteri yang berasal dari partai lain. Seorang menteri lain dari Partai Golkar, menyumbang sebanyak 2%.

Tiga orang gubernur kepala daerah, satu dari partai yang berbeda -- baik secara garis perjuangan maupun populasi penduduk yang lain agama dengan Sumbar--, masing-masing menyumbang sebanyak 2%. Jumlah 2% juga disumbangkan oleh seorang pengusaha muda yang kini sepertinya "turun daun", entah kenapa.

Berapa sumbangan Pak JK? Sebanyak 5%. Hampir sama dengan sumbangan bekas boss saya di CSIS dan teman saya yang banyak turun dengan baliho-balihonya di Sumbar 1. Teman saya yang lain yang ada sub-babnya dalam buku memoar, menyumbang sebesar 2,5%, lalu di bulan terakhir menyumbang lagi 1%. Seorang dosen yang sukunya disembunyikan, sama-sama Piliang, menyumbang sebesar 0,7%. Yuddy Chrisnandi menyumbang 0,25% alias seratus kali lebih sedikit dari penyumbang terbesar saya. Sumbangan 0,25% ini lumayan banyak, juga ada seorang mahasiswa yang menyumbang 0,025% dan kawan yang lalu menjadi sangat akrab sebesar 0,5%.

Kemana dana itu pergi? Alhamdulillah, menurut catatan Tim IJP 09 Center, paling banyak masuk ke mesjid, surau, pengaspalan jalan desa yang buruk dengan kerikil, buku-buku yang disebarkan ke banyak sekolah, biaya harian Tim IJP 09 Center yang terdiri dari anak-anak tamatan atau tidak tamat SD, beberapa pertandingan olahraga dan peralatan olahraga termasuk yang dikirim ke penjara, konsumsi ribuan orang dalam sejumlah kegiatan di posko IJP-09 Center, juga tentu masuk ke lapau-lapau atau warung-warung penduduk di dusun-dusun yang sepi.

Tidak ada dana itu yang masuk ke tangan dukun politik, makelar politik ataupun kepada kalangan yang mencari hidup lewat pesta lima tahunan itu. Sebagian kecil dana digunakan untuk membeli logistik, seperti baliho, spanduk, kalender dan lain-lainnya. Sebagian yang lain lenyap menjadi asap dari bahan bakar fosil yang dibakar. Dengan delapan bulan lebih saya dan tim di lapangan, berarti biaya yang keluar sebesar rata-rata Rp. 125 Juta per bulan atau sebesar Rp. 4 Juta lebih dalam sehari.

Saya mengucapkan terima kasih atas sumbangan-sumbangan itu, besar atau kecil. Sebagai bukti saya bertanggungjawab atas dana publik itu, saya menulis buku ini sebagai bagian dari pertanggungjawaban. Saya juga berterima kasih atas bantuan pembuatan stiker, baliho, kalender dan spanduk serta karangan bunga yang diberikan selama kampanye. Termasuk juga saya berterima kasih kepada Fraksi Partai Golkar DPR RI yang telah membeli 500 eksemplar buku ini, kepada Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie yang telah membantu untuk konsumsi kegiatan launching ini, kepada Jeffrie Geovanie, Poempida Hidayatullah dan Nurul Arifin yang juga membantu kegiatan ini.

Dalam waktu dekat, saya berencana menulis – tepatnya menyalin—sebuah buku lagi dengan judul "1990: Jejak Langkah Anak-Anak Millenium". Betul-betul subjektif. Salinan yang berasal dari catatan harian saya sepanjang tahun 1991-1998 atau dikenal sebagai era 1990-an. Tentu saya menjanjikan banyak sekali kejutan, terutama dalam kata-kata para mahasiswa dari beragam kampus, khususnya di Universitas Indonesia. Beberapa nama hadir di ruangan ini. Sebelum mereka benar-benar bertarung untuk alih generasi dalam beberapa saat lagi, biarlah riwayat mereka hadir dan menjadi cermin bagi kita semua.

Demikianlah yang bisa saya sampaikan. Terlebih dan terkurangnya, saya mengucapkan terima kasih. Wallahu'alam Bissawab...

Wassalamu'alaikum Wr Wb
Hormat Saya,

Indra Jaya Piliang

__._,_.___
Reply to sender <mailto:pi_liang@yahoo.com?subject="Buku untuk Bangsa"> | Reply to group <mailto:kahmi_pro_network@yahoogroups.com?subject="Buku untuk Bangsa"> | Reply via web post <http://groups.yahoo.com/group/kahmi_pro_network/post;_ylc=X3oDMTJydXI1MDJmBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEwODM5MDc3BGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRtc2dJZAMzMzcwOQRzZWMDZnRyBHNsawNycGx5BHN0aW1lAzEyNzEwNDUwMzQ-?act=reply&messageNum=33709> | Start a New Topic <http://groups.yahoo.com/group/kahmi_pro_network/post;_ylc=X3oDMTJmdGU2Y2wzBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEwODM5MDc3BGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRzZWMDZnRyBHNsawNudHBjBHN0aW1lAzEyNzEwNDUwMzQ->
Messages in this topic <http://groups.yahoo.com/group/kahmi_pro_network/message/33709;_ylc=X3oDMTM3bTFmYjViBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEwODM5MDc3BGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRtc2dJZAMzMzcwOQRzZWMDZnRyBHNsawN2dHBjBHN0aW1lAzEyNzEwNDUwMzQEdHBjSWQDMzM3MDk-> (1)
Recent Activity:

* New Members <http://groups.yahoo.com/group/kahmi_pro_network/members;_ylc=X3oDMTJnM2QyMTYxBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEwODM5MDc3BGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRzZWMDdnRsBHNsawN2bWJycwRzdGltZQMxMjcxMDQ1MDM0?o=6> 1

Visit Your Group <http://groups.yahoo.com/group/kahmi_pro_network;_ylc=X3oDMTJmbzA2bG1sBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEwODM5MDc3BGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRzZWMDdnRsBHNsawN2Z2hwBHN0aW1lAzEyNzEwNDUwMzQ->
Web Address http://groups.yahoo.com/group/kahmi_pro_network/

MAKLUMAT:

1. MILIS INI TIDAK MENERIMA SEGALA BENTUK ATTACHMENT.
2. AGAR MENULISKAN NAMA ASLI (PANGGILAN ATAU NAMA LENGKAP).
3. TIDAK MENGUMBAR PERMUSUHAN DAN/ATAU MENGGUNAKAN KATA-KATA KASAR.
dan
4. TIDAK MENYERTAKAN POSTING SEBELUMNYA ATAU YANG DITANGGAPI SECARA
KESELURUHAN, CUKUP EMAIL BAGIAN/PARAGRAF YANG INGIN DITANGGAPI.
MARKETPLACE

Do More for Dogs Group. Connect with other dog owners who do more. <http://us.ard.yahoo.com/SIG=15ocegkue/M=493064.13983314.13965207.13298430/D=groups/S=1705329729:MKP1/Y=YAHOO/EXP=1271052235/L=69ab3542-45e8-11df-bf4e-335b98840174/B=OZDYJmKImh4-/J=1271045035203668/K=ktli3He1tO6EiO5s0gvXtw/A=6046497/R=0/SIG=11jls91tg/*http://advision.webevents.yahoo.com/domorefordogs>

<http://us.bc.yahoo.com/b?P=69ab3542-45e8-11df-bf4e-335b98840174&T=1d47suc4i%2fX%3d1271045035%2fE%3d1705329729%2fR%3dgroups%2fK%3d5%2fV%3d2.1%2fW%3dH%2fY%3dYAHOO%2fF%3d901950829%2fH%3dY29udGVudD0iR3JvdXBzO01lc3NlbmdlcjtNb2JpbGU7TWFpbDtCcmllZmNhc2U7WWFob29fU2VhcmNoX01hcmtldGluZztHZW9jaXRpZXM7RmxpY2tyO0NvbXBhbmlvbjtCb29rbWFyazsiIGRpc2FibGVzaHVmZmxpbmc9IjEiIHNlcnZlSWQ9IjY5YWIzNTQyLTQ1ZTgtMTFkZi1iZjRlLTMzNWI5ODg0MDE3NCIgc2l0ZUlkPSIyNzk2MDUxIiB0U3RtcD0iMTI3MTA0NTAzNTE5NjMzMCIg%2fQ%3d-1%2fS%3d1%2fJ%3d3B5EC442&U=13cn48u7q%2fN%3dOZDYJmKImh4-%2fC%3d493064.13983314.13965207.13298430%2fD%3dMKP1%2fB%3d6046497%2fV%3d1>
________________________________


Welcome to Mom Connection! Share stories, news and more with moms like you. <http://us.ard.yahoo.com/SIG=15ofkvemq/M=493064.13814537.13965224.10835568/D=groups/S=1705329729:MKP1/Y=YAHOO/EXP=1271052235/L=69ab3542-45e8-11df-bf4e-335b98840174/B=OpDYJmKImh4-/J=1271045035203668/K=ktli3He1tO6EiO5s0gvXtw/A=6042764/R=0/SIG=11jbo19n3/*http://advision.webevents.yahoo.com/momconnection>

<http://us.bc.yahoo.com/b?P=69ab3542-45e8-11df-bf4e-335b98840174&T=1d5fbvkfi%2fX%3d1271045035%2fE%3d1705329729%2fR%3dgroups%2fK%3d5%2fV%3d2.1%2fW%3dH%2fY%3dYAHOO%2fF%3d3030278136%2fH%3dY29udGVudD0iR3JvdXBzO01lc3NlbmdlcjtNb2JpbGU7TWFpbDtCcmllZmNhc2U7WWFob29fU2VhcmNoX01hcmtldGluZztHZW9jaXRpZXM7RmxpY2tyO0NvbXBhbmlvbjtCb29rbWFyazsiIGRpc2FibGVzaHVmZmxpbmc9IjEiIHNlcnZlSWQ9IjY5YWIzNTQyLTQ1ZTgtMTFkZi1iZjRlLTMzNWI5ODg0MDE3NCIgc2l0ZUlkPSIyNzk2MDUxIiB0U3RtcD0iMTI3MTA0NTAzNTE5NjMzMCIg%2fQ%3d-1%2fS%3d1%2fJ%3d3B5EC442&U=13cq2rg6b%2fN%3dOpDYJmKImh4-%2fC%3d493064.13814537.13965224.10835568%2fD%3dMKP1%2fB%3d6042764%2fV%3d1>
________________________________


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests. <http://us.ard.yahoo.com/SIG=15ou5hfmk/M=493064.14012770.13963757.13298430/D=groups/S=1705329729:MKP1/Y=YAHOO/EXP=1271052235/L=69ab3542-45e8-11df-bf4e-335b98840174/B=O5DYJmKImh4-/J=1271045035203668/K=ktli3He1tO6EiO5s0gvXtw/A=6015306/R=0/SIG=11vlkvigg/*http://advision.webevents.yahoo.com/hobbiesandactivitieszone/>

<http://us.bc.yahoo.com/b?P=69ab3542-45e8-11df-bf4e-335b98840174&T=1d4cb0nrj%2fX%3d1271045035%2fE%3d1705329729%2fR%3dgroups%2fK%3d5%2fV%3d2.1%2fW%3dH%2fY%3dYAHOO%2fF%3d368840377%2fH%3dY29udGVudD0iR3JvdXBzO01lc3NlbmdlcjtNb2JpbGU7TWFpbDtCcmllZmNhc2U7WWFob29fU2VhcmNoX01hcmtldGluZztHZW9jaXRpZXM7RmxpY2tyO0NvbXBhbmlvbjtCb29rbWFyazsiIGRpc2FibGVzaHVmZmxpbmc9IjEiIHNlcnZlSWQ9IjY5YWIzNTQyLTQ1ZTgtMTFkZi1iZjRlLTMzNWI5ODg0MDE3NCIgc2l0ZUlkPSIyNzk2MDUxIiB0U3RtcD0iMTI3MTA0NTAzNTE5NjMzMCIg%2fQ%3d-1%2fS%3d1%2fJ%3d3B5EC442&U=13cqg8ka9%2fN%3dO5DYJmKImh4-%2fC%3d493064.14012770.13963757.13298430%2fD%3dMKP1%2fB%3d6015306%2fV%3d1>
Yahoo! Groups <http://groups.yahoo.com/;_ylc=X3oDMTJlNWEwZzVvBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEwODM5MDc3BGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRzZWMDZnRyBHNsawNnZnAEc3RpbWUDMTI3MTA0NTAzNA-->
Switch to: Text-Only <mailto:kahmi_pro_network-traditional@yahoogroups.com?subject=Change Delivery Format: Traditional> , Daily Digest <mailto:kahmi_pro_network-digest@yahoogroups.com?subject=Email Delivery: Digest> • Unsubscribe <mailto:kahmi_pro_network-unsubscribe@yahoogroups.com?subject=Unsubscribe> • Terms of Use <http://docs.yahoo.com/info/terms/>
.
<http://geo.yahoo.com/serv?s=97359714/grpId=10839077/grpspId=1705329729/msgId=33709/stime=1271045034/nc1=3848640/nc2=3848583/nc3=5191953>

__,_._,___

Kamis, 08 April 2010

Humor Kemis

 

Humor Kemis

Hiji peuting si Otong ditanya ku Bapana,"Tong, maneh geus sare acan?", "Acan Pa" , tembal si Otong.
Bapana ngambek bari nekean hulu si otong "Maneh teh leutik2 geus tengah peuting kieu can sare-sare wae, dasar budak bangor maneh mah!!"
Kajadian kitu terus-terusan unggal peuting.
(ma'lum si otong leutik keneh, masih sare bareng jeung kolotna anu ngan boga hiji kamar sare da imahna leutik)

Dina poe ka-3 si Otong ngadu ka guruna, ngadenge carita si Otong guruna ngartieun. "Otong, lamun maneh embung dicarekan jeung ditekean uanggal peuting, lamun ditanya maneh ulah ngajawab ambeh disangka geus sare"

Tengah peutingna si Otong ditanya ku Bapana "Tong maneh geus sare acan?" geus 3 kali ditanya si Otong cicing wae teu nembalan (pura-pura sare tibra da inget kana nasehat guruna)
Bapana bari ngaharewos " Mamah, peuting ayeuna aman soalna si Otong geus sare".
"Hayu atuh Pa, teu kuat geus 3 peuting nungguan" tembal si Mamah bari mareuman lampu.

Si Otong reuwas lampuna dipareuman soalna manehna sok sieun lamun dinu poek kajeun di imahna sorangan, tapi manehna tetep cicing da inget kana nasehat guruna.

Teu Sabaraha lila Bapa si Otong ngomong ka Mamahna bari jeung ngos2an jiga nu cape pisan," Mah, Bapa mah geus teu kiat hoyong kaluar", "Sami Pa, Mamah oge hoyong kaluar teu kiat, sami-same we atuh kaluarna Pa" tembalna.

Ujug-ujug si Otong ngajorowok tarik pisan "OTONG MILUUU!!!" bari luncat tinu kasur reuwas kabina-bina sieun di tinggalkeun di kamar nu poek.

Hehe
AS
Dept. Statistika IPB


Ini Dia, Gejala-gejala Stres pada Tubuh

 

Ini Dia, Gejala-gejala Stres pada Tubuh

shutterstock
Sakit gigi bisa jadi disebabkan oleh stres.

GramediaShop : Poirot Melacak
GramediaShop : Santapan Cinta - The Food Of Love

Rabu, 7/4/2010 | 17:51 WIB

KOMPAS.com — Kapan Anda terakhir merasa stres? Bisakah Anda mengingat reaksi tubuh Anda? Ahli kesehatan mengatakan bahwa stres bisa datang dalam gejala yang mengejutkan. Jika tubuh Anda mengirim sinyal SOS bahwa ia sedang kesakitan, maka jangan abaikan begitu saja. Ketahuilah hal-hal yang bisa jadi pertanda bahwa tubuh Anda sedang stres dan bagaimana menghadapinya.

1. Otot kaku
Rasa kaku dan sakit pada leher Anda bisa jadi terjadi karena posisi yang sama berjam-jam di depan meja komputer, dan juga bisa karena stres. Stres bisa memengaruhi sistem otot kita, hasilnya adalah otot yang mengeras, berkontraksi, atau kejang-kejang. Jika Anda mengalami keram semacam ini akibat stres, maka coba lakukan hal ini: ambil 5-10 napas panjang dan berfokuslah pada area yang kaku tersebut. Untuk bagain leher, coba lakukan pijatan ringan atau minta pasangan Anda untuk memijat lembut atau mengusap bagian tersebut.

2. Mata kedutan
Kondisi yang disebut dengan blepharospasm ini bisa pula disebabkan oleh stres. Tutuplah mata Anda dan bayangkan tempat terindah yang pernah Anda kunjungi. Kurangi pula pekerjaan yang terlalu banyak menggunakan otot mata, seperti menatap komputer berjam-jam. Jika memang harus menatap komputer berjam-jam, maka cobalah untuk melihat ke luar ruangan ke titik yang amat jauh. Lakukan hal ini setiap 20 menit sekali. Tak ada jendela di kantor Anda? Tutup mata dan bayangkan sebuah pemandangan panorama indah.

3. Kutikula lepas-lepas
Kuku rapuh dan kutikula yang lepas-lepas? Kondisi ini bisa jadi disebabkan oleh kegugupan yang berakar dari stres. Kebiasaan yang timbul akibat kegugupan, misal, menggigit kuku adalah sebuah cara untuk menyalurkan rasa gugup tersebut. Jika Anda "menyalurkan" stres Anda pada tangan dan kuku, cobalah untuk mengalihkan kebiasaan tersebut dengan hal lain, misal, membeli bola remas untuk pengalih stres.

4. Gigi berlubang
Ya, gigi berlubang memang utamanya disebabkan oleh kurang baiknya kebersihan mulut. Namun, stres pun ternyata juga bisa menjadi penyebab, khususnya saat Anda menggemeretakkan gigi pada malam hari. Kebiasaan ini bisa mengikis gigi yang berakhir pada gigi berlubang. Saran untuk hal ini, lampiaskanlah stres Anda pada hal lain, misal, menuliskan penyebab stres Anda. Jika sudah terlalu parah dan sulit dicegah, maka kunjungi dokter gigi Anda, sampaikan keluhan Anda, dan mintalah pelindung gigi saat tidur.

5. Ruam kulit
Para ahli tak mengetahui secara pasti. Namun, stres bisa menimbulkan ruam-ruam kemerahan pada kulit seseorang, khususnya pada bagian perut, punggung, lengan, dan wajah. Melatih pernapasan untuk meredakan ketegangan akibat stres pun bisa dicoba.

6. Mual
Stres bisa membuat rasa tidak nyaman pada bagian perut dan pencernaan. Salah satu cara untuk mengurangi rasa mual karena khawatir berlebihan terhadap sesuatu adalah dengan mengalirkan air hangat pada ujung-ujung jari.

7. Sering mengantuk
Sering merasa lemah, lemas, dan tak bersemangat padahal jam tidur dan makan Anda cukup teratur? Hormon stres bisa jadi biang keladinya. Hormon stres menyebabkan tubuh Anda dipenuhi dengan adrenalin dan menyisakan rasa kantuk. Stres juga bisa merusak kualitas tidur Anda sehingga Anda terbangun dengan rasa lelah dan mudah marah. Cobalah untuk tidur lebih cepat, dan sisakan 30 menit pada siang hari untuk tidur siang.

8. Sering lupa
Riset menunjukkan bahwa stres kronis bisa memperkecil ukuran bagian otak yang dinamakan hippocampus, yang bertanggung jawab untuk menjaga memori. Alhasil, Anda akan lebih sering melupakan sesuatu. Untungnya, ukurannya akan kembali seperti semula jika level stres berkurang. Coba lawan kondisi ini dengan berolahraga. Ini bisa dilakukan dengan membiasakan diri berjalan kaki, naik-turun tangga dengan kecepatan sedang, atau berjoget.

9. Kebingungan
Anda sulit memutuskan mau berbuat apa? Tak tahu mau memasak apa untuk makan malam? Bingung menentukan pakaian yang akan dikenakan? dan lain sebagainya. Stres menyebabkan distraksi dan kekurangan kemampuan untuk fokus. Untuk mengembalikan fokus Anda, cobalah ambil waktu untuk berjalan kaki. Alirkan stres keluar dari tubuh Anda dengan melatih grup otot besar pada tubuh Anda, seperti kaki. Anda akan mendapatkan kejelasan kembali. Sinar matahari juga membantu tubuh mengeluarkan serotonin untuk membantu mendorong mood, dan vitamin D mengoptimalkan imun tubuh.
 
NAD

Editor: NF

Sumber: Womans Day
 
 

Rabu, 07 April 2010

Kisah mengukur gedung dengan barometer

 

Mengukur gedung dengan barometer
dikirim oleh Iwan Surya

Sir Ernest Rutherford, Presiden dari Royal Academy, dan penerima Nobel Fisika menceritakan kisah ini:

"Beberapa waktu lalu aku menerima panggilan dari kolegaku. Dia akan memberikan nilai nol untuk ujian salah seorang siswanya, tapi siswa tersebut berkeras dia harus mendapatkan nilai sempurna. Sang instruktur dan siswa teresebut sepakat untuk penengah yang obyektif dan aku yang dipilih".

Soal ujiannya berbunyi: "Tunjukkan cara mengukur tinggi sebuah gedung dengan bantuan barometer."

Siswa itu menjawab: "Bawa barometer tersebut ke puncak gedung, ikatkan dengan sebuah tali, turunkan sampai ke jalan lalu tarik kembali ke atas, ukur panjang tali. Panjang tali itu adalah sama dengan tinggi gedung."

Siswa tersebut berhak meminta nilai penuh karena dia menjawab dengan lengkap dan benar. Di sisi lain, nilai penuh harusnya diberikan atas dasar kompentensi di bidang fisika, dan jawabannya tidak menunjuikkan hal ini. Aku menyarankan ujian ulang. Aku memberikan waktu enam menit untuk menjawab soal yang sama dengan syarat harus dijawab menggunakan dalil-dalil fisika.

Lima menit berlalu, dia masih belum menulis apa-apa. Aku menanyakan apa dia mau menyerah, tapi dia menjawab kalau dia punya banyak solusi, dia cuma memikirkan solusi yang terbaik. Aku menyuruhnya melanjutkan dan pada menit berikutnya dia menyerahkan jawabannya yang berbunyi "Bawa barometer ke puncak gedung, jatuhkan, dan ukur waktunya dengan stopwatch, lalu menggunakan rumus 'jarak=0,5*percepat an*waktu^ 2, tinggi gedung bisa diukur."

Saat ini aku meminta kolegaku untuk menyerah. Dia setuju dan memberikan siswanya nilai penuh. Saat meninggalkan ruang ujian aku teringat bahwa siswa itu punya beberapa solusi, jadi aku menanyakan solusi apa saja itu.

Siswa itu menjawab, "ada banyak cara mengukur tinggi gedung dengan bantuan barometer. Misalnya, membawa barometer ke luar, lalu mengukur tinggi barometer dan panjang bayangannya, dan mengukur panjang bayangan gedung, dan dengan rumus perbandingan sederhana tinggi gedung bisa diketahui."

"Kalau Anda mau cara yang lebih rumit, ikat barometer dengan tali, ayun seperti bandul di lantai dasar dan di atap untuk menghitung nilai gravitasi. Dari perbedaan nilai gravitasi tinggi gedung bisa dihitung."

"Dengan metode yang sama, bila dari atap talinya di ulur sampai ke dasar lalu diayunkan seperti bandul, tinggi gedung bisa dihitung melalui periode ayunan."

"Ini cara kesukaan saya, bawa barometer ke tempat pemilik gedung lalu katakan: 'Pak, ini ada sebuah barometer, bila Anda memberitahukan tinggi gedung Anda, saya akan memberikan barometer ini."

Saya bertanya apakah dia tidak mengetahui cara konvensional untuk memecahkan masalah tersebut. Dia jawab kalau dia tahu, tapi dia tidak mau terpaku pada satu pola pemikiran saja.

Siswa itu bernama Niels Bohr, peraih Nobel di bidang fisika tahun 1922 dan salah satu ilmuwan fisika yang paling berpengaruh di abad 20.

------------ --

Pidato Ketua Umum PDI Perjuangan - Megawati

PIDATO KETUA UMUM PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN


PEMBUKAAN KONGRES KE - III PDI PERJUANGAN

BERJUANG UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT


DENPASAR, 6 – 9 April 2010


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam Sejahtera bagi kita semua

Om Swastiastu

Sebelumnya, marilah kita lebih dahulu bersama-sama memekikkan salam perjuangan kita,

Merdeka!!!

Saudara-saudara Utusan Kongres III PDI Perjuangan, tamu undangan, dan segenap bangsa Indonesia yang saya hormati, cintai dan banggakan,

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta'ala atas segala rahmat dan hidayahnya yang telah menjaga dan mengantarkan kita kembali ke Bali, tempat dimana kesejarahan PDI Perjuangan ditoreh, dan sekaligus tempat dimana spirit 'merah' tetap terjaga.


Kongres PDI Perjuangan III ini diselimuti rasa bela sungkawa mendalam dimana dua tokoh bangsa telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa: bapak K.H. Abdur Rahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur serta kader nasionalis yang hidup di tiga zaman yakni Bapak Frans Seda. Beberapa waktu lalu kita juga kehilangan Bapak Subagyo Anam yang hingga akhirnya hayatnya terus memberikan sumbangsih bagi Partai. Saya mengajak warga kita semua untuk mendoakan, dan lebih lagi meneladani pikiran dan tindakan mereka dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Secara khusus saya juga ingin mengucapkan selamat kepada KH Sahal Mahfudz dan KH Said Agil Siraj yang telah terpilih sebagai Rais Aam dan Ketua Tandfidziyah PBNU pada Muktamar ke-32 NU di Makassar beberapa waktu lalu. Saya berkeyakinan, di tangan beliau berdua peran sentral NU sebagai pengawal ke-bhinneka- an Indonesia akan terus terjaga.


Saudara-saudara peserta Kongres III,

Hari ini kita berkongres bukan sekadar untuk memenuhi kalender 5 tahunan partai, bukan pula sekadar untuk memilih ketua umum atau membagi-bagikan posisi. Tetapi untuk menyalakan kembali suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam lengan-lengan perjuangan untuk membangun jiwa dan raga Indonesia merdeka. Mengapa? Karena Kongres kali ini dilaksanakan di tengah ingar-bingar politik nasional. Ingar bingar yang sedang menguji apakah jalan demokrasi yang kini kita jalani mampu mengantarkan ke kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik atau justru menjerumuskan kita pada kekelaman sejarah.


Saudara-saudara,

Sebagai partai kita boleh berbangga karena di tengah-tengah ingar-bingar politik nasional, konsolidasi internal tetap berjalan baik. Pelaksanaan konsolidasi Partai yang dipandu SK 435 telah mengantarkan kita ke Kongres III ini.

Harapan saya, pasca Kongres III, energi partai tidak lagi terserap hanya untuk konsolidasi internal. Pembentukan PAC, Ranting, dan Anak Ranting harus bisa diselesaikan tanpa proses berlarut-larut. Kita mesti menyediakan lebih besar lagi energi untuk bekerja bersama rakyat.


Saudara-saudara para kader Partai yang saya banggakan,

Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada ujian sejarah yang tidak mudah. Kita disodorkan pada pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi. Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik. Saya berduka karena pemahaman di atas meninggalkan inti etis dan ideologis dari politik sebagai seni dan sarana kebudayaan rakyat untuk mewujudkan kedaulatan politik, keberdikarian ekonomi, dan jati-diri kebudayaan kita sebagai bangsa merdeka.


Dalam kesempatan ini saya perlu tegaskan bahwa cita-cita yang melekat dalam sejarah Partai kita jauh lebih besar dari sekadar urusan kursi di parlemen, sejumlah menteri, ataupun istana merdeka. Kita diajarkan dan ditakdirkan oleh sejarah bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik seperti yang dilakukan Bung Karno adalah lebih utama dari urusan bagi-bagi kekuasaan. Saya ingin tegaskan bahwa dalam dialektika dengan rakyat tugas sejarah setiap kader akan dinilai dan tugas sejarah dari partai akan ditimbang. Saya berkeyakinan, dalam kegotong-royongan dan permusyawaratan dengan rakyat, masa depan PDI Perjuangan akan menemukan puncak keemasannya. Karenanya sebagai kader, kita harus berbangga bukan ketika kita bersekutu dengan kekuasaan, tapi ketika kita bersama-sama menangis dan bersama-sama tertawa dengan rakyat.


Sebagai partai ideologis posisi kita sangat jelas: kita tidak akan pernah menjadi bagian dari kekuasaan yang tidak berpihak pada wong cilik. Apalagi dari sudut ketata-negaraan yang kita anut, diskursus mengenai oposisi-koalisi tidak punya pondasi untuk diperdebatkan. Kita tidak perlu terjebak dalam diskursus semacam ini.

Penegasan di atas tidak berarti PDI Perjuangan anti kekuasaan. Tetapi ini untuk menegaskan bahwa jika kita harus memegang tampuk pemerintahan, biarkan itu terjadi karena kehendak rakyat. Dan sebaliknya, jika rakyat menghendaki kita menjadi kekuatan penyeimbang agar prinsip checks and balances bisa berjalan, biarkan kehendak rakyat itu terjadi.


Sebagai kekuatan pengontrol dan penyeimbang, kita bukan saja diwajibkan untuk mengkritik. Tapi juga untuk mengajukan berbagai alternatif kebijakan. Bagi kepentingan bangsa ini, hal ini sangat strategis karena akan tersedia pilihan-pilihan yang semakin beragam bagi masyarakat untuk memilih.


Saudara-saudara,

Posisi di atas adalah wujud tanggung-jawab kita sebagai kekuatan politik; tanggung-jawab untuk menjaga agar demokrasi yang sehat dapat tetap bekerja dengan sebaik-baiknya. Tanggung-jawab untuk memberikan pendidikan politik bahwa moral politik yang paling sederhana yang dituntut dari seorang pemimpin yang betul-betul revolusioner adalah satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan. Posisi di atas sekaligus adalah wujud penghormatan kita pada pilihan rakyat. Saya sangat berharap, agar pilihan PDI Perjuangan ini bisa dihormati oleh semua pihak.


Saudara-saudara,

Jika kita mau sedikit merenung, maka kita pasti akan sampai pada keyakinan bahwa kegagalan kita dalam memaknai garis sejarah sebagaimana saya sampaikan di atas merupakan inti sebab dari ditinggalkannya PDI Perjuangan dalam dua pemilu lalu. Kemerosotan suara adalah teguran rakyat agar kita kembali ke takdir sebagai sarana dan wadah perjuangan rakyat. Saudara-saudara- ku, ingatlah akan hal ini: rakyat tidak akan pernah ragu-ragu untuk kembali menegur dengan cara lebih keras di tahun 2014 nanti, jika kita gagal kembali ke jalan ideologis kita.


Sudah saatnya kita menyadari untuk kemudian bangkit membenahi segala kekurangan dan kelengahan kita selama ini. Sudah saatnya kita menata ulang seluruh perangkat perjuangan untuk kemudian menatap dengan penuh optimisme bahwa partai ini adalah partai milik wong cilik dan dipersembahkan bagi mereka. Sudah saatnya PDI Perjuangan kembali aktif dalam membangun solidaritas horizontal bersama rakyat untuk membuat lompatan kualitatif. Sudah saatnya PDI Perjuangan kembali menjadi kekuatan yang merajut keaneka-ragaman kita ke dalam satu kesatuan tekad, satu kesatuan jiwa, dan satu kesatuan gerak.


Saya mengajak setiap warga partai, mari kita jadikan lima tahun kemarin sebagai pelajaran berharga, dan kita jadikan lima tahun ke depan sebagai tahun-tahun PERUBAHAN & KEBANGKITAN.


Ini mengingatkan saya, pada tahun tahun sulit yang pernah dilewati Bung Karno, dan hingga hari ini masih terngiang di telinga saya, kata-kata Bung Karno: "Majulah terus, jangan mundur, mundur-hancur, mandeg ambleg; bongkar, maju terus, kita tak bisa dan tak boleh berbalik lagi. Kita telah mencapai point of no return !!!"

Untuk itu, kita tidak punya pilihan lain kecuali kembali ke jati diri sebagai partai ideologis.


Saudara-saudara,

Menjadi partai ideologis bukanlah pilihan mudah. Perkembangan sepuluh tahun terakhir ini menunjukkan besarnya tantangan yang harus kita jawab. Kita dihadapkan pada rendahnya kecakapan dan tidak tersedianya media bagi partai dalam mengelola opini dan membangun komunikasi. Kita bahkan belum memiliki sistem data base yang handal sebagai dasar pengambilan keputusan.


Kita dihadapkan pada keterbatasan sumber pembiayaan di tengah-tengah kebutuhan anggaran pengelolaan partai yang semakin besar. Kita dihadapkan pada kelangkaan kepemimpinan baik secara kualitas maupun. Pengaturan kelembagaan partai kita masih terpusat pada satu tiang penyanggah, yakni organisasi partai dari DPP hingga anak ranting. Kita membiarkan tangan-tangan partai yang mengelola kekuasaan dan pemerintahan tidak diatur dalam AD/ART partai. Ini menimbulkan kesulitan dalam membangun koordinasi dan sinergi lintas pilar penyangga partai. Kita akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan, meluasnya kecenderungan fraksi berjalan sendiri-sendiri atau sebaliknya kegagalan struktural partai dalam memberikan arahan bagi fraksi dan dalam membangun komunikasi dan sinergitas dengan kepala daerah.

Kita dihadapkan pada persoalan kaderisasi dan penataan jenjang karier yang belum terlembaga dengan baik. Kita juga dihadapkan pada belum terlembaganya sistem dan mekanisme rekrutmen yang membuat proses regenerasi berjalan lamban dan kesulitan mendatangkan tunas-tunas yang dipersiapkan untuk menjadi calon pemimpin partai dan bangsa ke depan.


Regenerasi memang tidak secepat yang kita harapkan. Tetapi kita jangan salah kaprah seakan proses regenerasi tidak terjadi. Tengoklah ke daerah-daerah, cukup banyak tunas-tunas baru yang tumbuh. Tengoklah di parlemen kita, semakin banyak generasi muda berkiprah. Merekalah yang siap memimpin bukan saja PDI Perjuangan, tapi bangsa ini di masa mendatang yang saya yakin tidak terlalu lama lagi.


PDI Perjuangan juga dihadapkan pada rendahnya disiplin warga partai sebagai salah satu tulang punggung tegaknya partai ideologis. Kita dihadapkan pada kemerosotan militansi anggota. Voluntarisme dan aktivisme memudar sebagai elan berpolitik digantikan dengan pertimbangan "untung-rugi". Ditinggalkannya TPS oleh saksi Partai pada pemilu legislatif dan pilpres adalah contoh kecil.


Saudara-saudara,

Dari sisi eksternal, tantangan bagi PDI Perjuangan untuk kembali ke jalan ideologis juga tidak ringan.


PDI Perjuangan harus bekerja dalam situasi psiko-politik "anti-partai" dan "anti-ideologi". PDI Perjuangan harus bekerja dalam masyarakat yang semakin pragmatis, transaksional, dan berpikir instant untuk kepentingan individual berjangka pendek. Kita harus bekerja dalam situasi dimana sebagian pihak menganggap bahwa menduduki jabatan publik melalui partai adalah jalan baru bagi keamanan ekonomi. Partai bukan lagi alat ideologi, tapi alat akumulasi ekonomi. Partai menjadi sarana transportasi cepat untuk keuntungan ekonomi individual, bukan lagi sarana untuk mewujudkan kepentingan rakyat.

Kita juga harus bekerja di dalam situasi "citra" menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi. Kita harus berhadapan dengan sebuah rezim politik yang cenderung menggunakan metode menghalalkan cara dalam mencapai tujuan politiknya sebagaimana digambarkan oleh kekacauan luar biasa pada pemilu legislatif dan presiden yang lalu.


Secara keseluruhan, PDI Perjuangan harus bekerja dalam situasi politik yang semakin mahal. Pengalaman Pemilu 2009 lalu menunjukkan kuatnya pengaruh politik yang semakin mahal ini dalam menuntun perilaku politik internal partai. Kita menjadi kader-kader yang menempatkan keutamaan keuntungan diri sendiri ketimbang bagi rakyat.

Kesemua tantangan di atas, baik internal maupun eksternal perlu disikapi oleh Kongres III kali ini. Hanya dengan cara itu, partai bisa melangkah dengan lebih meyakinkan lagi. Tetapi saya perlu garis-bawahi, Kongres bukan saja perlu menegaskan kembali Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi partai yang bersifat final. Tetapi juga harus mengembangkan instrumen agar Pancasila dapat bekerja dalam partai, dapat menjiwai keseluruhan program dan sikap Partai, serta dapat menjadi karakter politisi partai.

(Improvisasi: terimakasih pada Pimpinan MPR yang telah mendorong pemerintah menetapkan 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila; dan penegaskan 4 pilar berbangsa dan bernegara).


Saudara-saudara,

Saya juga perlu menegaskan bahwa kemerosotan suara kita dalam pemilu lalu adalah juga produk dari penyelenggaraan demokrasi yang manipulatif. Pemilu Legislatif dan Presiden 2009 secara terang benderang telah mendemonstrasikan watak manipulatif dari proses berdemokrasi kita. Kita menyaksikan, karut-marutnya Daftar Pemilih Tetap (DPT) telah menghilangkan secara paksa dan sistematis hak politik warga negara. Bahkan lebih lagi, merupakan perampasan secara paksa atas hak konstitusional warga-negara. Kita seharusnya bersedih karena keseluruhan proses Pemilu 2009 yang memakan biaya yang sangat besar justru meninggalkan begitu banyak catatan hitam dalam sejarah politik Indonesia .


Sebagai Presiden pada tahun 2004, saya telah mencoba dengan susah payah membangun sistem demokrasi agar Presiden dan Wakil Presiden dapat dipilih secara langsung oleh rakyat. Pada saat itu, tidak terpikirkan sedikitpun oleh saya untuk menciderai jalannya demokrasi. Karena saya berkeyakinan, rakyat berhak untuk mendapatkan kembali kedaulatannya sebagai penentu kehidupan politik, setelah sekian lama dibungkam. Meski saat itu saya dikalahkan tetapi saya berbangga dan berkeyakinan bahwa dalam jangka panjang demokrasi yang telah diletakkan akan menjadi jalan keluar bagi kesejahteraan rakyat serta bagi terpeliharanya kemajemukan dan keutuhan NKRI. Ternyata keyakinan saya di atas tidak sepenuhnya benar.

Pemilu 2009 menunjukkan, politik kehilangan watak aktivisme dan voluntarismenya. Yang kita saksikan justru politik sebagai melodrama, berpola seperti sinetron yang sarat dengan belas-kasihan dan kepura-puraan. Politik juga kehilangan 'keutamaan' dan 'moralitas' karena hampir sepenuhnya dipersembahkan untuk kekuasaan.

Sebagai pilar negara demokrasi, partai berubah fungsi menjadi "penjual tiket" kekuasaan. Yang terjadi kemudian, hubungan politik antara rakyat - partai, dan rakyat - elit menjadi pola hubungan transaksional, hubungan "untung-rugi". Pola hubungan yang mendewakan "materi".


Pola hubungan yang mendewakan materi di atas memang tampak menguntungkan untuk jangka pendek. Tetapi ada hal yang jangan dilupakan, yakni berapa lama hal itu bisa berlangsung sementara tujuan masyarakat adil dan makmur semakin jauh dari kenyataan? Bukankah proses ini hanya akan berakhir dengan kaum papa yang akan semakin papa dan terus termarjinalkan? Itukah yang kita inginkan dan bangsa Indonesia perjuangkan?


Hal-hal di atas mencemaskan karena moralitas negara demokrasi yang dibangun melalui partai, idealnya dimaksudkan agar pendidikan politik kewarganegaraan dapat diwujudkan. Partai adalah "taman sari" untuk menyiapkan kader-kader pemimpin bangsa dan negara guna mengisi sirkulasi kekuasaan secara damai. Tugas etis partai di atas dalam kenyataannya di-subkontrakkan kepada segelintir konsultan politik yang menghasilkan deretan angka yang menghegemoni masyarakat. Akibatnya, prinsip dikalahkan oleh citra dan pendidikan politik digantikan dengan indeks kepuasan publik belaka.

Inilah hal-hal yang perlu kita renungkan kembali. Apakah realitas seperti ini yang kita kehendaki bagi masa depan Indonesia kita? Realitas dimana survei dan indeks kepuasaan menjadi lembaga dan instrumen baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Realitas dimana citra dikedepankan tetapi di saat yang sama, membiarkan tugas sejarah mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum serta melahirkan Indonesia yang bermartabat, menjadi sekadar pekerjaan seolah-olah.

Akhirnya secara realita hanya kaum berpunya yang bisa memiliki akses ke politik dan membiarkan rakyat kebanyakan sebagai penonton yang hanya menikmati sekadar keuntungan ribuan rupiah dalam setiap siklus pemilu. Realitas dimana rakyat kehilangan kemandiriannya dalam politik.


Saya sering bertanya-tanya, apa salahnya kalau rakyat mandiri? Apa salahnya kalau rakyat berdikari? Bukankah suatu bangsa yang berdikari harus ditopang oleh rakyat yang berdikari juga?


Saudara-saudara,

Karena melihat pada hal-hal di atas, kita bukan saja dituntut untuk bergotong-royong dan bermusyawarah dengan rakyat sebagai inti berpolitik partai kita. Tetapi juga, harus mengorganisir kekuatan rakyat untuk menjaga agar watak manipulatif di atas tidak akan pernah berulang di 2014 nanti. Rakyat perlu diorganisir agar keutamaan dan moralitas kembali menjadi prinsip-prinsip dasar dalam berpolitik. Lebih lanjut rakyat perlu diorganisir agar terbangun kesadaran untuk melawan citra sebagai satu-satunya ukuran berpolitik.


Semua di atas harus kita tata kembali. Hal ini bukan saja untuk menjamin prinsip-prinsip Jurdil dan Luber bisa ditegakan sehingga kita boleh bertepuk dada sebagai suatu negara demokrasi terbesar nomor 3 di dunia. Tetapi, juga agar kita boleh meletakkan budaya politik baru: menang secara terhormat, kalah secara bermartabat.


Saudara-saudara yang saya cintai,

Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. Mengapa? Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sirna dia. Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh jaman. Dan tanda-tanda jaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh Proklamator Bangsa?


Pengalaman sejumlah negara adidaya akhir-akhir ini menunjukkan sebuah bangsa bukan saja membutuhkan ideologi, tapi ideologi yang didedikasikan bagi mayoritas rakyat. 100 tahun lalu tidak terpikirkan bahwa jalan kapitalisme dari negara-negara di atas akan membawa mereka ke krisis yang mendalam. Bung Karno telah memprediksi sejak tahun 1930: kapitalisme mengandung kontradiksi- kontradiksi di dalam dirinya sendiri. Ia pasti akan memakan anaknya sendiri. Dan inilah yang sedang kita saksikan. Sebagai bangsa, sudah tentu kita tidak ingin berjalan di rel yang keliru. Kita sudah memiliki Pancasila 1 Juni 1945. Itulah jalan yang telah kita pilih sebagai keyakinan tanpa ragu.


Saudara-saudara,

Berbagai kehilangan di atas disebabkan karena kita tidak waspada. Kita mengira era pertarungan ideologi telah berakhir. Padahal realitas di sekitar kita mengatakan dengan jelas: inilah era puncak pertarungan ideologi dalam berbagai bentuk baru dan menjangkau setiap sendi kehidupan. Saya akan memberikan 2 contoh, yakni demokrasi dan pengelolaan pemerintahan guna menjelaskan hal ini.


Demokrasi Indonesia yang telah lama kita perjuangkan bukanlah suatu ruang kosong yang bekerja secara metafisis ataupun mekanis. Ia adalah medan peperangan ideologi. Demokrasi prosedural yang kini kita jalani berangkat dari kutub ideologi liberal-individual. Sebagai ideologi ia memberikan mekanisme dan jaminan berkompetisi dan melahirkan pemenang dan pecundang. Demokrasi liberal tak akan pernah menjadi bentangan karpet merah menuju keadilan sosial bagi segenap tumpah darah Indonesia . Ia bukan pula jalan bagi penguatan partisipasi rakyat. Demokrasi semacam ini bisa jauh lebih buruk lagi, ketika dia dibangun di atas politik pencitraan dan bekerja untuk melindungi citra semata-mata. Demokrasi Indonesia mestinya dibangun di atas keutamaan kolektivitas, dijalankan melalui musyawarah untuk mufakat, dan bekerja di tengah-tengah keyakinan akan kebhinnekaan sebagai anugrah Tuhan. Ia adalah demokrasi yang konon kata para ahli adalah demokrasi deliberatif.


Saudara-saudara,

Pengelolaan pemerintahan kita akhir-akhir ini juga menunjukkan wataknya yang semakin menjauhi nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa? Kecenderungan menciptakan semakin banyak lembaga menyebabkan fragmentasi pemerintahan yang serius. Setiap hari media massa menyajikan betapa kronisnya fragmentasi yang terjadi akibat dari tidak adanya tuntunan ideologis yang jelas. Akibatnya sangat jelas: suatu kekacauan pengelolaan pemerintahan.


Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan adalah kasus Bank Century. Kasus ini adalah salah satu puncak gunung es dari kekacauan tata-kelola pemerintahan. Kita sudah menyatakan sikap dengan jelas melalui Fraksi PDI Perjuangan: kebijakan pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) dan Penyertaan Modal Sementara (PMS) adalah salah. Karenanya, kepada Fraksi sudah saya perintahkan untuk memilih opsi C dan terus menga wasi proses penyelesaian kasus ini dalam batas-batas kewenangannya.


DPR telah menunaikan kewajiban konstitusional- nya untuk menuntaskan kasus Bank Century ini. Kini giliran pemerintah dan terutama presiden untuk menindak-lanjuti dan menuntaskannya melalui saluran hukum.

Perlu saya tegaskan, rakyat sendiri harus aktif terlibat dalam mengawasi. Media massa sebagai pilar keempat demokrasi, perlu juga melalukan fungsi pengawasannya. Kita tidak bisa membiarkan proses yang ada hanya diawasi oleh lembaga-lembaga formal. Mengapa? Karena pengalaman masa lalu telah mengajarkan kita, sejumlah keputusan DPR yang perlu ditindak-lanjuti pemerintah justru menguap tanpa jejak.


Saudara-saudara,

Saya menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan tidak akan pernah sampai ke akhir tujuannya hanya dengan ideologi. Perjuangan tak akan pernah mencapai terminalnya hanya dengan retorika. Untuk bisa bekerja efektif, ideologi membutuhkan kader. Ideologi membutuhkan pemimpin. Ideologi membutuh organisasi dan manajemen yang baik.

Ideologi membutuhkan aturan bermain. Ideologi membutuhkan kebijakan. Ideologi membutuhkan program yang merakyat. Ideologi membutuhkan sumber-daya.

Saya sangat berharap, hal-hal strategis di atas bisa diputuskan oleh Kongres sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam partai. Karenanya, saya minta pada setiap utusan Kongres III kali ini untuk menyadari dengan sepenuh-penuhnya, sejarah sedang memberikan kesempatan bagi kita, kesempatan emas untuk bangkit. Gunakanlah kesempatan sejarah ini untuk menghasilkan keputusan yang sebaik-baiknya bagi partai, bangsa dan negara.


Untuk itu, mari kita ingat akan kata-kata Bung Karno:

"KARMA NEVAD NI ADIKARASTE MA PHALESHU KADA CHANA",

"Kerjakanlah kewajibanmu dengan tidak menghitung-hitungka n akibatnya!".


Kata-kata di atas, adalah tulisan tangan Bung Karno yang dikutip dari Percakapan Kedua, Kitab Baghawad Gita. Kata-kata di atas adalah sebagian dari nasihat Kresna pada Arjuna di medan perang Kurusetra. Nasihat yang disampaikan setelah Arjuna nampak bimbang menghadapi lawan-lawannya yang adalah para guru dan sanak-saudara sendiri.

Tuhan pasti memberikan jalan bagi kita semua.


Kader Partai yang saya cintai dan banggakan, saudara sebangsa dan setanah air

Mengakhiri pidato ini, ijinkan saya dan seluruh jajaran DPP PDI Perjuangan yang akan segera demisioner, menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kepercayaan warga PDl perjuangan terhadap saya dalam memimpin partai ini selama lima tahun.


Terimakasih dan penghargaan juga saya sampaikan kepada daerah-daerah yang telah mampu mempertahankan, bahkan menaikkan jumlah perolehan suaranya dalam Pemilu legislatif maupun Pemilu Presiden.


Terimakasih dan penghargaan saya sampaikan kepada sesepuh partai yang telah banyak membantu kerja partai melewati masa-masa yang tidak mudah.

Kepada Panitia Kongres yang telah bekerja dengan sangat keras selama berbulan-bulan dalam mempersiapkan Kongres ini, terimakasih dan penghargaan yang tinggi saya sampaikan.


Kepada pemerintah Provinsi dan warga Bali , ucapan terimakasih atas bantuan dan sambutannya yang selalu meriah bagi PDI Perjuangan.

Pada aparat keamanan, terimalah rasa terimakasih dan hormat kami atas segala kerja keras sehingga penyelenggaraan Kongres III ini bisa berjalan tanpa gangguan.


Terimakasih juga saya sampaikan pada para pengamat yang telah meluangkan waktu untuk hadir di arena Kongres III kali ini.

Dan terakhir, terimakasih dan penghargaan yang tinggi saya sampaikan kepada rekan-rekan wartawan yang telah menjadi sahabat PDI Perjuangan selama ini.


Saudara-saudara,

Jalan Pancasila 1 Juni 1945 yang ditopang oleh 3 pilar bernegara lainnya, yakni NKRI, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika yang kita pilih adalah jalan tunggal bagi PDI Perjuangan dalam "Berjuang untuk kesejahteraan rakyat" yang menjadi tema Kongres III kali ini.


Akhirnya, dengan mengucap Bismillahirrahmanir rahim, Kongres ke-III PDI Perjuangan secara resmi saya buka.


Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam Sejahtera bagi kita semua,

Om Santi Santi Om.

Merdeka!!!

Sekian dan terimakasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Om Santi Santi Santi Om.

MERDEKA!!!

Megawati Soekarnoputri

KETUA UMUM PDI PERJUANGAN