Jumat, 05 Februari 2010

Refleksi 63 Tahun HMI

Refleksi
63 Tahun HMI
HMI dan Agenda Strategis Bangsa
Oleh Arip Musthopa
Ketua Umum PB HMI
2008-2010

Hari ini, 63 tahun sudah Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI) berkiprah. Terpaut hanya delapan belas bulan lebih muda dari
usia NKRI. Bernafaskan keindonesiaan dan keislaman, HMI menjadi saksi sejarah
perjalanan republik. Jatuh-bangun mulai era revolusi fisik, demokrasi
parlementer, demokrasi terpimpin, orde baru, hingga era reformasi. Setiap era,
HMI senantiasa berupaya memberikan kontribusi yang terbaik kepada republik.
Menjadi bagian penting dari tiap perubahan besar yang terjadi.
Namun tidak ada gading yang tak
retak. Selalu ada kelemahan dan kekurangan. Hal positif yang menjadi modal HMI,
tak jera untuk terus mencoba. Layaknya insan akademis yang selalu haus untuk trial
and error. Apalagi status mahasiswa cukup membantu menjadi cover, toh kesalahan tidak melulu bermakna kehancuran.
Kiprah alumni HMI yang eksis di
banyak sektor kehidupan berbangsa dan bernegara menandakan 'anak-anak' HMI
mampu survive. Memang HMI dikenal memiliki daya adaptasi yang tinggi dan
tak mudah menyerah menghadapi segala kesulitan. Motto 'yakin usaha sampai'
mendarah-daging dalam jiwa kader HMI.
***
Semangat memberi yang terbaik
untuk republik, tak takut mencoba dan salah, serta optimisme yakin usaha
sampai, kini kami rasakan menggelora dalam sanubari kader menjelang usia HMI
ke-63. Suatu spirit positif yang dibutuhkan bukan saja untuk kemajuan, namun
juga peradaban. Spirit positif tersebut adalah aset berharga yang memungkinkan
kader HMI bangga mengibarkan benderanya. Menjadikan alumni HMI tidak tertunduk
lesu untuk mengaku sebagai alumni. Lantas, kemana energi besar ini harus
disalurkan?
Di tengah kondisi bangsa yang
dibayang-bayangi krisis politik saat ini, HMI dituntut untuk tetap kritis dan
bersuara lantang tanpa harus kehilangan pijakan intelektual. Oleh karena itu,
HMI harus meletakkan sikap dan aksinya dalam koridor agenda-agenda strategis
bangsa Indonesia. Tidak terjebak pada fenomena sesaat dan tarian pihak lain
yang belum tentu sejalan dengan kejatidirian HMI itu sendiri.
Agenda strategis bangsa tersebut
adalah pertama, pembangunan karakter bangsa (nation character building).
Kita telah memilih untuk demokrasi yang pilarnya adalah regulasi (UUD 1945
hasil amandemen) dan iklim kebebasan. Konsensus bangsa telah memilihnya dan
sekali layar terkembang surut kita berpantang.
Memang ada nada sumir yang
meragukan demokrasi cocok bagi Indonesia, atau bukan seperti ini demokrasi yang
kita mau. Namun, demokrasi adalah proses, tak mendadak sontak terwujud.
Kelebihannya, demokrasi memungkinkan pelibatan pelaku dalam proses secara
massif. Sehingga proses dan pembelajaran bukan hanya milik elit, namun juga
rakyat.
Pasti ada jeleknya, proses
menjadi lebih riuh dan potensi liar yang tinggi. Kemajuan bisa melambat,
ketidakpastian juga bisa meninggi dan menciutkan nyali. Namun itulah tantangan
sebuah pembelajaran kolektif atas nama demokrasi. Selama mekanisme checks
and balances berjalan berbasiskan akal sehat, tak perlu khawatir demokrasi
menjerumuskan. Bila telah sampai pada titik kesetimbangannya, kemajuan eksponensial
bukanlah mimpi yang utopis.
Kedua, menjadikan negara
fokus pada national interest-nya. Dalam hal ini kerapkali kita temukan kebijakan Negara yang tidak
menjurus pada kepentingan nasionalnya. Secara gamblang kepentingan nasional
adalah mewujudkan tujuan bernegara sebagaimana termaktub dalam alinea ke-4 Pembukaan
UUD 1945. Disana disebutkan bahwa tujuan kita adalah 'membentuk suatu
Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia'.
Analisa-analisa kritis
menunjukkan bahwa kita belum memiliki Pemerintah Negara yang mencerminkan apa
yang diinginkan konstitusi. Alih-alih berada pada posisi tersebut, malah
diidentikkan menjadi kepanjangan tangan kepentingan asing. Adalah tugas
komponen bangsa yang tercerahkan untuk terus berbisik, berteriak, hingga
tindakan konstitusional pada pemerintah agar mengedepankan pewujudan
kepentingan nasional.
Meski tidak mesti diposisikan
diametral antara kepentingan nasional dan kepentingan asing, pengarusutamaan
kepentingan nasional wajib hukumnya. Masuknya kepentingan asing dimungkinkan
sejauh itu sejalan atau mendukung kepentingan nasional. Perspektif ini harus clear dalam setiap kebijakan Negara.
Globalisasi dan tanda-tanda
pergeseran konstelasi global di awal abad XXI saat ini, menunjukkan intensitas
lobi Negara-negara industri besar. Indonesia menjadi medan pertarungan yang
sengit antara Amerika Serikat, Jepang, China, Korea, dan Uni Eropa. Kondisi
tersebut mudah menenggelamkan kepentingan nasional dan mendudukkan kepentingan
asing menjadi yang utama.
Ketiga, menjadikan bangsa
Indonesia kompatibel menghadapi tantangan abad XXI. Abad XXI memiliki anasirnya
tersendiri dibandingkan dengan abad XX dan abad-abad sebelumnya. Meski selalu
ada yang sama dalam setiap abad, niscaya selalu lebih banyak yang berbeda di
masing-masing abad.
Konstelasi geo-ekonomi-politik
global, perbenturan antar peradaban tua, perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, perjanjian-perjanjian internasional, dan peristiwa-peristiwa besar
di tingkat global dan regional adalah yang akan membentuk perwajahan abad XXI.
Sejarah mencatat bahwa dinamika global antara pra Perang Dunia (PD) I hingga
pasca PD II mampu dimanfaatkan generasi muda bangsa ketika itu untuk merumuskan
kelahiran bangsa dan Negara Indonesia.
Kini telah 100 tahun dari masa
itu, mampukah generasi bangsa saat ini, khususnya kaum muda, merumuskan dan
mendirikan pilar-pilar bagi kebangkitan bangsa selanjutnya? Sehingga apa yang
menjadi janji-janji kemerdekaan, apa yang menjadi raison d'être kita
membentuk Negara-bangsa bernama Indonesia menjadi kian dekat tergapai.
Abad XXI kerapkali digambarkan
sebagai era kebangkitan bangsa-bangsa Asia. Negara-negara di Asia Timur seperti
Jepang, China, Korea, dan Taiwan serta
India di Asia Selatan dinisbatkan akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia.
PDB dunia sebagian besar akan dikontribusi kawasan ini. Pertanyaannya, dimana
letak Indonesia dalam konstelasi tersebut?
Dengan potensi SDA melimpah dan
SDM yang besar sepatutnya kita menjadi emerging forces baik di tingkat kawasan
maupun global. Namun keunggulan komparatif tersebut tidak banyak bicara kecuali
dilengkapi dengan keunggulan kompetitif: penguasaan IPTEK dan SDM yang mumpuni.
***
Akhirnya, usia 63 tahun bukanlah
usia yang muda dan bukan juga senja untuk sebuah organisasi. Namun sudah lebih
dari cukup untuk meneguhkan kedewasaan dan kematangan dalam menyikapi zaman.
Ada ungkapan Nabi dimana adalah orang yang merugi apabila hari esok tidak lebih
baik dari hari ini dan hari kemarin.
Maka terus bergeraklah HMI, jejakkan
langkah-langkah mengharumkan di tengah gelombang dinamika yang terkadang insight-nya
tidak tampil kasatmata. InsyaAllah dengan niatan memberi yang terbaik, berani
mencoba dan salah, serta optimisme yakin
usaha sampai, penempatan historis yang manis akan kau raih. Dirgahayu HMI
ke-63. Wallahu a' lam bishshawab.

.

__,_._,___

Syair :Husein minni wa ana min Husein

Dina ngemutan 40 dinten syahidna al-Husein cucu nabi , mudah-mdahan urang babarengat silih emut deui kana ieu perkara anuh pinuh ku makna sajarah, agama, kayakinan, siasah, jeung titik perjalanan agama nepi ka akhir zaman....
didieu sakedik syair:

HUsein ti jiwa diri jeung diri ti jiwa HUsein
(sabda kanjeung nabi)
(40 dinten syahidna Al-HUsein)


Sabda kanjeng nabi nu uninga
ma'ruf sebar jembar ka nagara
henteu ayeuna teu baheula
husein ngibar di tatar sunda

pikeun urang nu maca dunia
dina sajarah nepi ka ayeuna
nyandak makna nu mulia
ngangkat batin ka nirwana

40 dinten nur shuhada karbala
dina ngabela kulawarga dipikacinta
ku ngabdi taat jeung satia
ngalawan yazid dalim panguasa

werrr getih suci tina huseina
dicacag mastaka jeung badana
ku syimir buruk rupa anak zina
ditawan kulawarga jeung putrana
ka syam tempat maksiat muawiya
jeung yazid putra nyekek botolna
bari mabok ngetuk mastaka huseina
ku tongkat teu aya pikarasa
ceurik sukainah jeung rukaya
putri 9 tahun teu tega ningal bala
zainab heuras hujjah cucu rasulna
kana haq ahlulbait rasulina
kaum syam kacewa pinuh ku era
kulawarga nabi  diseret jeung disiksa
Ali Zaenal abidin dina udzurna
kulantaran geuring leuleus awakna
tapi lantang hujjah kana haqna
kasakabeh kaum nu ditipu ku pangawasa
yazid keok geter hatena
tawan kabeh kulawarga huseina
mastaka suci husein diketuk ku tongkatna
era inget yen eta cucu rasulna
iblis nyaho benerna tapi lawan haqna
keok ku hujjah jeung ceurik putrina

Putra imam Zaenal abidin ngumpul badana
ngubur mastaka jeung anggotana
di karbala nepi ka ayeuna
karbala karbun jeung balana

cucu nabi syahid di nainawa
ulah poho kana qaul rasul mulia
lamun teu bisa renung majlis karbala
naha teu bisa ceurik kana paristiwa
lamun teu bisa ceurik kana paristiwa
naha teu bisa emut nainawa
lamun teu bisa emut nainawa
naha teu bisa emut huseina
lamun teu bisa emut huseina
naha teu bisa inget cucu rasulna
lamun teu bisa emut cucuna
NAHA BISA INGET RASULNA?????

Allah ngejamin suci ahlulbaitna
dina alahzab tilutilu coba pek buka
wajib cinta sagala jiwa
coba buka 42 : 23 na
teu menta upah nabina
ngan saukur cinta ahli qurba

moal bisa cinta
lamun teu emut perkara
moal bisa meunang makna
lamun teu makrifat ahlina

ya huseina...

wassalam
zen

 

 

Kamis, 04 Februari 2010

ISTERI KE DUA

-----------
Suatu hari temanku datang padaku dengan wajah mendung.
Dan dia menceritakan padaku kisah ini:

"Taukah kau, suamiku beristeri lagi.
Isteri ke duanya sangat mungil.
Sangat berbeda dengan diriku,
yang sesudah melahirkan beberapa anak,
tidak lagi selangsing dulu.
Mungkin itu sebabnya suamiku merasa senang
membawanya kemana saja dia pergi."

Hah? Apakah kau menerimanya begitu saja, kataku geram.

"Haruskah aku memberontak,
ketika kehadirannya tak dapat ditolak ?
Kata suamiku, tanpa dirinya dia merasa tak lengkap.
Pada dirinya segala sesuatu terbarukan."

Oh... lagu lama, pikirku prihatin.

"Kami tinggal dalam rumah yang sama, sayangnya.
Tebak, siapa yang lebih dulu disapa,
ketika suara-suara pagi membangunkan suamiku?
Bukan aku, isteri yang tidur di sebelahnya!
Tapi dia beranjak turun dari ranjang, lalu pergi ke maduku itu.
Beberapa waktu lamanya mereka akan bercengkerama. "

Mungkin kau bisa memancing perhatiannya lebih ke arahmu, kataku.

"Kupikir, mungkin ketika sarapan, aku akan lebih diperhatikannya. ..
Akan tetapi, sepiring hidangan yang kusajikan
tidak menarik perhatian suamiku; suara genit maduku lebih menarik untuknya.
Di meja makan pandangannya tertuju pada maduku.
Dia akan bercerita kepadanya, membalas ucapan-ucapannya,
sesekali tersenyum padanya, bagaikan anak remaja yang kasmaran!
Baru sesudah puas, dia akan berpaling padaku,
dan berkata: tadi kamu bertanya apa?"

Ah... ada tapi tiada, isterinya itu... ucapku dalam hati.
Tak berkata apa2, mendengarkannya saja telah kurasakan
getar hati yang tersingkirkan.

"Hatiku terbakar cemburu!
Tapi aku sungkan untuk berkata-kata.
Bukankah katanya, maduku itu membantu pekerjaannya?
Dan pekerjaannya itulah yang menghidupi kami sekeluarga?
Jadi, seharusnya aku tak perlu mengeluh,
malah seharusnya bersyukur akan kehadiran maduku itu."

Bisakah penghidupan mengganti kehidupan, pikirku dalam-dalam.

"Tapi tak urung aku membandingkan ke masa lalu,
di saat maduku itu belum ada.
Jika kami bersama-sama, maka dia ada untukku.
Tidak sekedar ada secara raga,
tapi pikiran dan hatinya berkelana ke mana-mana.
Maduku itu telah menjadi candu baginya,
dan menjadi duri dalam daging bagiku.

Katakanlah sahabat,
apa yang harus kukatakan pada suamiku,
yang sedang mati gandrung pada MbakBerry(*) ,
agar hidupnya tidak dikuasai istri keduanya itu?
Bahwa MbakBerry(*) mungkin memberinya suatu hidup yang berbeda,
tapi bukankah ada orang lain di sekitar yang harus diperhatikannya? "

Sesuatu yang baru memang bisa menjadi candu..., kataku.
Semoga cuma sesaat, Kawan, dan tidak terbawa sesat, ujarku pula.

(*) baca: Blackberry


--
When the last tree is cut, the last river poisoned, and the last fish
dead, we will discover that we can't eat money (Greenpeace)

Belajar dari RRC?

Belakangan ini bukan hanya kita yang merasa dipecindangi oleh kekuatan ekonomi RRC, tetapi AS yang adidaya itu pun kewalahan dan terjungkir!

Ja, kita pun mendengar suara: Belajarlah dari RRC!

Let us be serious, sobat sekalian!

Ketika RRC di bawah Deng membuka beberapa Zone Perdagangan Bebas, negerinya sedang menyiapkan perangkat sistem ekonomi yang sama sekali baru. Sistem yang lama kita sudah tahu: Ekonomi Komunis!

Apa yang baru ini?

Syahdan, diundanglah seorang profesor ekonomi Amerika menghadap petinggi RRC.Dia diminta mengajar Ilmu Ekonomi di RRC. Dengan terheran-heran sang profesor menjawab permintaan itu: "Tapi saya tidak tahu apa itu ekonomi sosialis, apa itu ekonomi Komunis, Marxisme, dan semacamnya. Saya hanya punya Ilmu Ekonomi Kapitalis,
ekonomi pasar bebas, itu saja!"

Jawaban petinggi negara RRC itu menambah keheranan sang profesor: "Ilmu ekonomi itulah yang kami minta Anda mengajarkannya di RRC!"

Walhasil sang profesor pun mengajarkan Ilmu Ekonomi Kapitalis itu di Universitas Nanjing, RRC. (Deja Vu? RRC meniru Indonesia! Sebab, Profesor yang mengajar di RRC itu adalah juga yang pernah mengajar di Indonesia!)

Hasilnya? Ya, Anda lihat sendirilah! Pertumbuhan ekonomi melonjak pesat di sana! Bahkan akhirnya berhasil membuat AS terpukul oleh krisis moneter dan ekonomi, bukan? RRC, India, Brazil, Afrika Selatan merupakan kekuatan ekonomi baru di dunia, sekarang!

Kembali ke RRC, karena kita mau belajar dari RRC, bukan?

Kalaun sistem ekonominya berdasarkan sistem pasar bebas atau Kapitalisme Ne-liberal itu, bagaimana dengan sistem politiknya?

Ternyata sistem politiknya masih tetap Komunisme yang tergolong Komunisme itulah: sistem satu partai, tanpa demokrasi dan HAM, alias diktator. Kenapa?

Kalau Kapitalisme menjamin terjadinya pertumbuhan ekonomi, tapi tidak menjamin adanya perangkat sistem pemerataan. Maka sistem politik Sosialisme atau Komunisme diyakini akan memberikan pemerataan.

Karena itulah RRC juga duikenal negeri yang menggunakan dua sistem: sistem ekonomi kapitalis dan sistem politik sosialis/komunis. Kedua sistem yang itulah yang dikawinkan di sana.

Tapi sistem politik seperti di RRC itu tidak pas untuk Indonesia, karena negeri kita menganut Pancasila yang salah satu silanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan juga ada sila yang menjamin demokrasi. Sedangkan sila Keadilan Sosial menuntut adanya pemerataan ekonomi, ada juga Kemanusiaan yang beradab menjamin adanya HAM, bukan? Nah, singkatnya, bagaimana menyusun suatu sistem politik yang sesuai dengan semua sila yang ada di dalam Pancasila itu?

Jadi, kalau RRC berhasil menggenjot pertumbuhan ekonomi dengan sistem Kapitalisme, muntgkin sekali kita hendaknya mempertahankan sistem ini juga demi pertumbuhan ekonomi! Tapi sistem politik kita tentu saja tidak bisa menyontek dari RRC, karena Komunisme itu tidak bisa cocok dengan Pancasila.

Jadi, pertanyaan kita adalah bagaimana mengawinkan Sistem Ekonomi Kapitalis itu dengan Sistem Politik Pancasila --- begitulah, kalau kita mau belajar dari suksesnya RRC.

Ikra.-
======

.

__,_._,___

Selasa, 02 Februari 2010

Jembatan Selat Sunda "Simbol Keperkasaan Bangsa Indonesia"

Sabtu, 30/01/2010 12:50 WIB

Jembatan Selat Sunda "Simbol Keperkasaan Bangsa Indonesia"

Widianto Noviansah - suaraPembaca

Jakarta - Dahulu kala ketika zaman es konon katanya Pulau Sumatera, Jawa, Madura, dan Bali masih bersatu. Mungkinkah saat ini kita bisa menyatukan ketiga pulau itu kembali.

Founding Father bangsa Indonesia Ir Soekarno adalah orang pertama kali yang mencetuskan ide untuk menghubungkan pulau Sumatera, jawa, dan Bali. Ide tersebut dicetuskan pada tahun 1960-an. Kemudian ide itu ditangkap dengan baik oleh Profesor Sedyatmo dengan gagasan besar yang disebut sebagai Tri – Nusa Bima Sakti yaitu sebuah gagasan untuk menghubungkan pulau Sumatera, Jawa, dan Bali dengan infrastruktur fisik buatan manusia.

Pada awal dicetuskannya Tri - Nusa Bima Sakti, khusus untuk segmen Sumatera – Jawa, ada dua pilihan, yaitu jembatan dan terowongan. Perdebatan antara dua ide ini berlangsung selama bertahun-tahun.

Pada akhirnya, pemerintah lebih memilih jembatan, karena untuk terowongan diperkirakan akan membutuhkan dana yang jauh besar dari jembatan. Di selat sunda terdapat palung yang sangat dalam dan cukup lebar sehingga panjang terowongan pun menjadi dua kali lipat dari panjang jembatan.

Indonesia tidak lagi hanya bisa menjadi negara yang mengandalkan kekayaan warisan (inherited wealth). Cobalah kita tengok di negeri yang kaya sumber daya alam ini rakyatnya bagaikan ayam yang kelaparan di lumbung padi. Ini bagaikan kutukan sumber daya alam. Kita kaya akan sumber daya alam tetapi yang menikmatinya adalah negara-negara maju. Dan, yang lebih penting lagi, rakyat negeri ini merasa tidak percaya diri jika harus berhadapan dengan negara lain.

Indonesia harus mempunyai simbol baru yang menyita perhatian dunia. Membangkitkan percaya diri bangsa ini sekaligus mengubah persepsi dunia tentang Indonesia. Dahulu kita mengenal tentang tujuh keajaiban dunia, yaitu Colloseum, Tembok Besar China, Taman Gantung Babylonia, Candi Borobudur, Menara Eiffel, Grand Canyon, dan Air Terjun Niagara.

Bahkan, sekarang dikenal pula Tujuh Keajaiban Dunia Modern, yaitu Empire State Building (Amerika), Golden Gate Bridge (Amerika), Messina Bridge (Italia), Akashi Kaikyo Bridge (Jepang), dan Al Burj (Dubai). Bangunan–bangunan ini tidak dibuat hanya untuk sekedar pamer atau pun memenuhi kebutuhan ekonomi negara yang bersangkutan. Namun, lebih besar dari itu. Bangunan-bangunan monumental itu menunjukkan bahwa bangsa tersebut telah keluar dari ekonomi yang berdasarkan kekayaan (inherited wealth).

Secara tidak langsung bangunan-bangunan tersebut mengatakan kepada dunia bahwa mereka tidak dibangun apa adanya. Begitu pula dengan Jembatan Selat Sunda. Selain sangat bermanfaat bagi perekonomian Indonesia juga menjadi sebuah simbol keperkasaan bangsa Indonesia.

Jembatan ini akan memiliki panjang sekitar 29-31 km. Akan menjadi jembatan terpanjang kedua di dunia setelah jembatan di Shanghai China dengan panjang 36 km. Jembatan Selat Sunda ini akan memiliki lebar 60 m, dilengkapi dengan jalur kereta api double track dan juga pipa gas serta jaringan kabel yang menghubungkan Sumatera - Jawa. Jembatan ini akan memiliki tinggi sekitar 70 km dari permukaan air laut. Di bawah jembatan ini akan dilalui oleh kapal–kapal induk dan juga kapal-kapal selam yang akan menyaksikan kemegahan jembatan ini.

Jembatan ini akan menhubungkan dua pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia. Sekitar 200 juta penduduk. Dan, juga jutaan ton komoditi akan melintasi jembatan ini setiap tahunnya.

Sekarang pembangunan jembatan ini sudah masuk dalam program 100 hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tentunya mega proyek ini akan sangat membutuhkan dana yang besar. Perkiraan harga jembatan ini bermacam-macam. Sampai saat ini ada dua desain Jembatan Selat Sunda, yaitu desain yang diusulkan oleh Prof Wiratman Wangsadinata (1997) dan Dr Ir Jodi Firmansyah (2003). Kebetulan keduanya adalah engineer dari ITB.

Berdasarkan desain Prof Wiratman biaya yang dibutuhkan adalah 60-70 triliun rupiah. Sedangkan berdasarkan desain Dr Ir Jodi biaya yang dibutuhkan sekitar 30 triliun. Saat ini studi kelayakan tentang Jembatan Selat Sunda sedang dilakukan lebih serius lagi. Yang pasti kita harus belajar banyak dari pembangunan jembatan Suramadu.

Bolehlah kita bekerja sama dengan orang asing (harus kita akui bahwa mereka sudah selangkah lebih maju). Tetapi, pemimpin mega proyek ini haruslah anak negeri sendiri. Kita harus mulai percaya pada kemampuan diri sendiri. Tidak selamanya kita harus mengekor kepada orang lain.

Bangsa ini harus bisa menjadikan pembangunan megaproyek Jembatan Selat Sunda sebagai momentum untuk membangkitkan rasa percaya diri dalam mengahadapi dunia global. Sebagaimana dahulu Bangsa Indonesia pernah menghasilkan sebuah karya monumental seperti Candi Borobudur, Prambanan, dan lain-lain. Karya–karya itu merupakan hasil dari jerih payah anak negeri ini sendiri.

Widianto Noviansah
Mahasiswa Teknik Sipil ITB.